NANGGALA 402

Penulis : Sadrah Rianto

Tuhan,

Telah Kau panggil mereka pulang padaMu.

KehendakMu telah terjadi.

KeputusanMu telah terlaksana.

Sungguh,

tak satu penguasapun,

tak satu cerdik pandaipun,

tak satu kekuatanpun,

yang sanggup mengubah apa yang telah engkau gariskan.

Tergariskan sudah.

Indonesia telah pasrah, meski akan terus mengetuk pintu lautMu agar terbuka dan mengais apapun yang Engkau sisakan untuk dibawa pulang.

Tapi dalam kepasrahan itu, Tuhan, jika masih boleh meminta, kami berlutut, bersujud, bersimpuh di bawah kakiMu, memohon dengan kepasrahan tak terperi.

Kuatkan hati, jiwa dan raga mereka yang ditinggalkan.

Kuatkan para ayah dan ibu yang belum tentu mengerti mengapa anak mereka pergi duluan.

Mengapa mereka tak pamit untuk tak pulang.

Mengapa tak sampai tangan mereka menggapai anak-anak yang wangi selimutnya bak wangi buaian ketika mereka lahir, yang harum tubuhnya seharum bersih tubuh mereka seusai mandi.

Kuatkan para kekasih yang tak pernah tahu bahwa penantian akan jadi teramat panjang, tanpa kepastian berita kepulangan, meski lewat anginpun. Pilu hati mereka, ya Tuhan, hanya Engkau yang bisa membasuhnya.

Usap airmata mereka Tuhan.

Hangatkan hati dan jiwa mereka, sebab kekasih yang biasa melakukan itu, telah berangkat ke tempat jauh, yang dari situ tak ada jalan untuk pulang.

Kuatkan anak-anak yang belum tentu mengerti bahwa ayah tak akan pulang, tak akan memeluk untuk mendongeng, atau sekedar menyanyi – meski dengan suara yang bisa jadi sumbang, tapi mereka mengerti bahwa ayah menyanyikannya dengan penuh kasih. Hembusan nafas ayah ketika menyanyi, adalah penghantar tidur yang melenakan.

Jangan biarkan mereka lupa akan usapan dan pelukan hangat di malam dingin atau ketika ayah tak rela tidur sebelum mereka lelap dalam gendongannya.

Rekatkan dalam ingatan mereka tentang usapan tangan ayah yang menyembuhkan luka di lutut mereka, punggung ayah yang rela menanggung berat demi kebahagiaan dan teriakan serta tawa ceria berderai-derai.

Hadirkan para prajurit syahid kami dalam mimpi-mimpi keluarganya, ya Tuhan. Agar lipur lara mereka, agar tunai rindu mereka, agar lelap tidur mereka.

Dalam sujud kami yang pasrah Tuhan,

Amin.

25.04.2021

Catatan Redaksi :

Puisi ini dipersembahkan untuk mengenang 53 Pahlawan bangsa yang gugur bersama tenggelamnya KRI Nanggala 402 di Perairan utara Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.