Puasa Umum, Khusus, dan Sangat Khusus

Ilustrasi : https://sekolahnesia.com/wp-content/uploads/2019/11/Syarat-Wajib-Puasa.jpg

Menurut Imam Al-Ghazali, ada tiga tingkatan puasa: puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus. Puasa umum adalah tercegahnya perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Sedangkan puasa khusus adalah tercegahnya pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan organ tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Adapun puasa sangat khusus adalah puasanya hati dari keinginan rendah, memikirkan duniawi, dan tercegah dari yang selain Allah. Puasa bisa batal oleh  hal-hal yang mestinya bisa dihindari. Rasululah s.a.w. bersabda, “Lima hal membatalkan puasa, yaitu dusta, gibah, hasutan, sumpah palsu dan pandangan dengan syahwat.” Menjaga organ tubuh dari kemaksiatan, kata Al-Ghazali, merupakan keharusan dalam puasa khusus.   

Dalam pada itu, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiga jenis orang yang doanya tidak ditolak Tuhan: imam yang adil, orang yang berpuasa, sampai berbuka, dan orang yang dizalimi. Akan diangkat doa itu oleh Allah di atas awan, pada hari kiamat, akan dibukakan baginya pintu langit, lalu Dia berkata, “Demi kemuliaan-Ku, akan Kutolong engkau, walaupun tidak sekarang.”

Betapa mustajabnya doa orang puasa. Juga imam (kepala negara) yang adil dan orang-orang yang teraniaya. Selain hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah itu, Abdullah ibn Umar juga pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagi orang yang berpuasa, ketika dia berbuka adalah saat doa yang mustajab.”

Banyak ulama mengatakan, puasa merupakan sarana berlatih mengendalikan diri. Yakni dari jeratan nafsu perut,  keinginan melahap apa saja, dan nafsu faraj,  mengumbar selera rendah sehingga kemanusiaan kita menjadi merosot karena dua hal yang, di dalam masyarakat kontemporer, sering pula dihubungkan dengan uang dan kekuasaan. Karena itu puasa juga disebut latihan perang melawan hawa nafsu. “Hal yang kutakutkan dari umatku,” demikian sabda Nabi, “adalah pengumbaran hawa nafsu dan panjang lamunan. Mengumbar nafsu memalingkan manusia dari kebenaran (al-haqq), sedangkan melamun panjang membuat orang lupa kepada akhirat. Karena itu ketahuilah, melawan hawa nafsu adalah modal ibadat” (H.r. Hakim dan Dailami).

Jadi, apakah puasa kita termasuk yang umum, khusus, dan sangat khusus?

Leave a Reply

Your email address will not be published.