Marhaban Ya Ramadan

Ahlan! Selamat datang Ramadan.

Kita, kaum Muslim, selalu menyambut bulan suci Ramadan penuh  suka cita. Kita gembira  dengan kedatangan Ramadan. Inilah bulan yang digambarkan  Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya, “Seandainya umatku mengetahui keistimewaan Ramadan, niscaya mereka mengharap agar semua bulan menjadi Ramadan.” Karena itu pula Ramadan selalu menjadi bulan yang semarak. Juga di Tanah Air yang memang mayoritas Muslim.

Tapi tahun ini, sebagaimana Ramadan tahun lalu,  suasana pandemi akan menyelimuti kita selama menjalankan ibadah puasa.  Agaknya kita akan  lebih banyak menjalankan ibadah di rumah. Namun demikian,  dalam keadaan apa pun, itu bukan penghalang bagi kita untuk meraih  kesempatan yang telah Allah bukakan sendiri di bulan Ramadan ini. Yakni bulan yang pernuh rahmah dan maghfirah. Di bulan ini Allah akan mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu. Ampunan ini  kita hanya bisa peroleh dengan cara bertobat, yang kemudian berbagai kebajikan, misalnya bersedekah.  Dalam Quran  dinyatakan bahwa “kebajikan itu mengusir keburukan.” (Q.S. 11:114).

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menjalankan puasa dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni semua dosanya di masa lalu.” Ihtisab sikap seorang muslim yang  hanya  mengharapkan ridha  Allah semata, dan terus-menerus menjaga agar pikiran dan tindakannya tidak berlawanan dengan ridha Allah. Jadi, jika seseorang menjalankan puasa dengan kedua prinsip ini, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni.

Jadi, jika kita menjalankan puasa dengan penuh iman, hal itu kan merangsang kita untuk melakukan pelbagai  kebaikan. Dalam banyak hadis disebutkan mengenai ajakan Rasulullah kepada orang yang berpuasa untuk mengerjakan kebaikan. Termasuk mengembangkan solidaritas sesama Muslim, karena dengan merasakan sendiri haus dan lapar, seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang miskin. Rasulullah s.a.w. pun telah memberi contoh, bahwa selama Ramadan  sifat-sifat kedermawanan tampak sangat menonjol. Tidak seorang pun pengemis yang kembali dari pintu rumahnya dengan tangan hampa, dan budak-budak pun memperoleh kemerdekaan mereka dari beliau.

Marilah di bulan yang penuh berkah ini kita berpuasa selama sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga, dan pantang melakukan hubungan suami-istri – sepanjang hari sampai tiba waktu berbuka. Sedang di malam hari, kita disunahkan salat tarawih, selain memperbanyak  zikir, membaca Alquran, dan i’tikaf (berdiam di masjid) jika memungkinkan. Kita tempuh semua itu, agar kita mencapai status yang diharapkan Allah, menjadi orang yang bertakwa, sebagaimana difirmankan:  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu brpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q. 2:183)

Pastilah berat karena kita juga sedang berjihad melawan Covid-19, yang dengan izin Allah mudah-mudahan cepat berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.