Syekh Nawawi, Ulama Banten yang Mendunia

Syekh Nawawi Al-Bantani https://www.gomuslim.co.id/images/post/548syekh-nawawi_663_382.jpg

Dialah ulama yang dikagumi mulai dari presiden  sampai santri di pelosok-pelosok desa. K.H Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 RI sangat akrab dengan karya-karyanya, karena kitab-kitab karangan sang ulama sampai sekarang masih dipelajari di pesantren-pesantren,dunia dari mana Gus Dur berasal. Sedangkan Presiden Jokowi yang bukan berlatar subkultur pesantren, juga bangga dan kagum.

Tidak syok lagi, itulah Syekh Muhammad  Nawawi Al-Bantani atau Nawawi Al-Jawi sebagaimana yang tercantum dalam berbagai kitab karangannya. Kata Jokowi, sepanjang sejarah negeri kita ini ada ulama yang pernah menjadi Imam masjidil Haram, satu di antaranya Syekh Nawawi. “Ia adalah seorang ulama sekaligus intelektual. Ia mewariskan lebih dari 100 (judul) buku… Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar dan berjuang untuk bangsa ini. Di antaranya adalah pendiri Nahdatul Ulama K.H. Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan,” kata Jokowi pada acara haul ke-124 Seyekh Nawawi di Serang, yang juga ia tulis di halaman Facebook miliknya (22/7/2017).

Dalam bukunya, Mecca, Snouck  Hurgronje mendeskripsikan kehidupan Syekh Nawawi yang sangat kontras dengan nama besar yang disandangnya. Dalam bukunya, Mecca, Snouck  Hurgronje mendeskripsikan kehidupan Syekh Nawawi yang sangat kontras dengan nama besar yang disandangnya. Pakaiannya, yang sudah kehilangan warna aslinya, tampak makin lusuh di waktu ia mengajar lantaran campuran keringat. Di malam hari dia mengarang, dengan hanya diterangi lampu minyak yang kecil. Alat penerang yang disebut misrayah ini, biasanya hanya dipakai mengantar orang mencari pintu keluar rumah. Badannya yang bungkuk berjalan seolah dunia sebuah kitab besar yang sedang asyik dia baca. Orang yang belum mengenalnya mungkin bisa tinggal satu malam di rumahnya tanpa memperhatikan bahwa dia seorang ulama yang menghasilkan puluhan karangan, dalam bahasa Arab, yang enak dibaca.

Istrinya konon lebih “duniawi”. Berkat usaha dagang wanita inilah tamu-tamu syekh ini mendapat hidangan yang baik, walaupun si mahaguru berbuat seolah berada di rumah orang lain. Dia memang tidak berbakat mencari uang. Walau ia menerima banyak hadiah, cara hidupnya terlalu sederhana, lebih-lebih untuk seorang yang diberi gelar Saiyid ulama’il Hijaz. Saiyid adalah penghulu alias pemuka, sedangkan Hijaz sekarang merupakan wilayah Saudi Arabia yang ke dalamnya termasuk antara lain Mekah dan Madinah.

Muhammad Nawawi lahir di Tanara, serang, Banten,  pada tahun 1230 H atau 1815 M. Sebelum menuntut ilmu di Mekah dan kemudian menjadi ulama besar di sana sampai akhir hayatnya, ia belajar di beberapa pesantren antara lain di Purwakarta, yaitu kepada Kiai Yusuf yang banyak santrinya dari seluruh Jawa. Sebelum itu, tentu saja Nawawi bersama dua saudaranya yang lain Tamim dan Ahmad memperoleh pelajaran dari ayahnya sendiri Umar Ibnu Arabi. Dari sang ayahlah, yang juga penghulu setempat, Nawawi memperoleh pengetahuan dasar bahasa Arab, fikih, dan tafsir.  

Adapun Prof Snouck Hurgronje, kita ketahui, adalah orientalis Belanda yang pernah tinggal di Mekah antara tahun 1884 dan 1885. Ia masuk  ke Tanah Suci dengan menggunakan nama Haji Abdul Ghafar, alias dalam penyamaran. Banyak kontroversi di sekitar tokoh besar yang pernah menjadi penasehat pemerintah polemik apakah dia benar seorang Muslim atau sekadar izharul Islam, alias pura-pura sebagai Islam. Di sementara kalangan orang Banten, haruslah diakui, Snouck Hurgronje punya kedudukan yang cukup unik. Dialah yang mengantarkan dan sekaligus promotor utama Husein Djajadiningrat, orang Indonesia pertama yang meraih gelar “Doktor”, yakni dari Universitas Leijden di tahun 1913. Mecca karya Snouck Hurgronje yang cukup detail menggambarkan keadaan Mekah di abad ke-19 itu, termasuk kegiatan para ulama Nusantara yang bermukim di Mekah, diduga sebagian besarnya merupakan sumbangan dari Abu Bakar Djajadiningrat, yang tak lain adalah paman Husein. Sebagai tambahan, Husein  adalah adik bupati Serang Ahmad Djajadiningrat, dan lagi-lagi merupakan orang Indonesia pertama yang memperoleh pendidikan Barat di Batavia.

Nawawi masih dalam usia remaja, sekitar 15 tahun, ketika dia dan saudara-sudaranya menunaikan ibadah haji, dan tinggal selama 3 tahun di Mekah untuk belajar. Setelah kembali ke Tanara dan meneruskan pengajaran ayahnya. Tapi rupanya kehidupan intelektual di Kota Suci itu rupanya terus mengiang-ngiang dalam diri si sulung ini, sehingga ia memohon kepada ayahnya untuk dikembalikan lagi ke Mekkah. Kabar lain menyebutkan kembalinya Nawawi ke Mekkah karena situasi politik di Tanah Air tidak begitu menguntungkan, di pemerintah kolonial Belanda semakin menancapkan kuku kekuasaannya mana di Tanah Jawa. Kedua-dua alasan mengenai kembalinya Nawawi ke Mekkah ini benar. Dan di kota inilah Syekh kemudian tinggal, kembali menekuni studinya,  menorehkan karya-karyanya, sampai akhir hayatnya.

Sebelum menjadi seorang ‘alim, Nawawi belajar kepada sejumlah ulama terkenal di Haramain (sebutan untuk dua kota suci Mekah dan Madinah), di antaranya Syekh Ahmad An-Nahrawi, Syekh Sayyid Ahmad Ad-Dimyathi, Syekh Sayyid Ahmad Dahlan, dan Syekh Ahmad Khtaib Sambas. Yang disebut terakhir ini adalah pemimpin tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiah, penulis kitab Fat-hul Arifin, bacaan pengamal tarekat di Asia Tengara. Syekh Sambas juga merupakan guru tokoh di balik pemberontakan petani Banten (1888), KH Abdul Karim alias Kiai Agung, yang menjelang ajal sang guru dipanggil kembali ke Mekkah untuk menggantikan kedudukannya. Lima organisasi tarekat di Jawa yang paling berpengaruh dan memiliki ratusan ribu pengikut menyambungkan silsilah mereka ke Abdul Karim.

Adapun Syekh Nawawi tidak mengikuti gurunya, Syekh Sambas,  memimpin tarekat. Bukan karena dia menolak tarekat yang “bersih”. Seperti mahaguru Masjidil Haram lainnya, Nawawi hanya menjelaskan karya-karya ahli tasawuf yang unsur etika (akhlak)-nya lebih di pentingkan ketimbang hal-hal gaib. Syekh Nawawi memang menerima cium tangan dari hampir semua orang di Mekah, khasnya orang Indonesia-Melayu atau orang-orang “Jawa” menurut istilah orang Mekah. Akan tetapi itu hanya penghormatan kepada ilmu. Adapun dalam pergaulan sehari-hari, Syekh tampaknya ikut saja, tanpa mendominasi percakapan. Jangan mengharapkan Syekh yang memulai diskusi ilmiah.

Banyak orang Indonesia-Melayu atau orang Nusantara yang belajar kepada Syekh Nawawi, dan kebanyakan dari mereka kemudian menjadi kiai-kiai terkemuka di pesantren-pesantren di Tanah Air, di antaranya KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Asnawi Caringin Banten, selain KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.

Syekh Nawawi termasuk ulama yang subur menulis. Ada sekitar 38 karya Nawawi yang penting, yang sebagiannya diterbitkan di Mesir. Yang paling terkenal adalah tafsir Murah Labib yang juga dikenal sebagai tafsir Al-Munir. Sampai sekarang kitab-kitab karangan Syekh Nawawi masih dipelajari di pesantren-pesantren di Jawa, selain di lembaga-lembaga tradisional di Timur Tengah, dan menjadi bahan kajian di universitas-universitas kita.

Meskipun Syekh Nawawi tidak menghendaki peranan politik untuk dirinya, karena ambisi pribadinya, seperti dikatakan Snouck Hurgronje, hanya terbatas di bidang mengarang, tidak berarti Syekh menutup mata terhadap perkembangan politik di tanah airnya. Dalam pembicaraannya dengan orientalis Belanda itu, Nawawi menyatakan rasa syukurnya ketika Belanda menghadapi banyak kesulian di Aceh. Dia juga berpendapat bahwa Tanah Jawa tidak seharusnya diperintah oleh orang Eropa. Kata Sonouck, “Andaikan Kesultanan Banten akan dihidupkan kembali, atau andaikata sebuah negara Islam independen akan didirikan di sana, pastilah dia (Nawawi) akan menerima berita itu dengan gembira.” Tetapi tidak dengan sendirinya antikafir. Kepada mereka yang tidak menjajah, Nawawi membolehkan kaum Muslim bekerja sama dengan tujuan  kebaikan dunia.

Sumber:  Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Perkembangan Islam di IndonesiaAbad ke-19  (1984).

63 thoughts on “Syekh Nawawi, Ulama Banten yang Mendunia

  1. LSbet 2012’den beri faaliyet gösteren bir Casino
    ve Bahis Şirketidir! Aza’da kâr için. Oyun Platformu LSBET oyuncuların Spor ve eSpor üzerine bahis oynayabileceği
    yerleşik bir bahisçiye sahip modern bir
    Online Casino! 300€ Para Yatırma Bonusu, 5€ Bedava Nakit Bonusu
    (bonus koduyla) alın PLAYBEST5) ve her oyuncu için cömert bir.

  2. Leyla ile Mecnun 10. yüzyılda Arap edebiyatında ortaya çıkan doğu edebiyatının en değerli aşk hikayelerinden biri.

    Eserde birbirlerini çocukluk döneminden beri seven Kays ve Leyla’nın kavuşma yolunda çektiği acılar ve Kays’ın maddi varlığı
    geride bırakıp ruhani aşka ulaşması anlatılır.

Leave a Reply

Your email address will not be published.