Ketika Bumi Berguncang Dua Kali: Pelajaran Venezuela, Ketangguhan Jepang, dan Pekerjaan Rumah Indonesia

Bumi tidak pernah berjanji akan selalu tenang. Ia menyimpan energi yang sewaktu-waktu dilepaskan tanpa meminta izin kepada siapa pun. Ketika itu terjadi, manusia baru menyadari bahwa kemajuan teknologi, gedung pencakar langit, dan pertumbuhan ekonomi tetap memiliki satu musuh yang sulit diprediksi: alam.

Dunia baru-baru ini dikejutkan oleh fenomena earthquake doublet di Venezuela (24 Juni 2026), ketika dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 terjadi hanya dalam selang sekitar 39 detik. Dalam ilmu kebumian, fenomena ini tergolong sangat jarang, tetapi bukan mustahil terjadi. Dua gempa besar yang muncul hampir bersamaan dapat menghasilkan tingkat kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan satu gempa tunggal.

Mengapa demikian?

Gempa pertama umumnya sudah cukup untuk melemahkan struktur bangunan. Kolom mengalami retak, sambungan baja bergeser, fondasi kehilangan sebagian kekuatannya. Dalam kondisi seperti itu, datangnya gempa kedua yang bahkan lebih besar dapat menjadi pukulan terakhir yang menyebabkan bangunan runtuh. Dengan kata lain, bangunan bukan hanya diuji oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh kemampuannya bertahan dari guncangan berulang.

Fenomena ini memberikan pelajaran penting bahwa ancaman bencana tidak selalu datang satu kali. Dalam banyak kasus, justru guncangan berikutnya menjadi penyebab kerusakan paling fatal.

Alam Tidak Bisa Dicegah, Risiko Bisa Dikurangi

Selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap gempa bumi sebagai takdir yang tidak bisa dihindari sehingga tidak ada yang dapat dilakukan selain pasrah. Cara pandang ini kurang tepat.

Yang memang tidak bisa dicegah adalah terjadinya gempa. Namun, dampaknya dapat dikurangi secara signifikan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui kerangka Sendai Framework for Disaster Risk Reduction bahkan menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana harus menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan. Artinya, investasi pada bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, tata ruang yang aman, hingga pendidikan kebencanaan bukanlah pemborosan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan kehidupan.

Sayangnya, pelajaran seperti ini sering baru disadari setelah bencana besar terjadi.

Jepang : Bukti Bahwa Mitigasi Bekerja

Jika Venezuela mengingatkan dunia tentang dahsyatnya ancaman gempa beruntun, Jepang justru menunjukkan bahwa negara rawan gempa tetap dapat hidup berdampingan dengan ancaman tersebut.

Setiap tahun Jepang mengalami ribuan gempa, namun jumlah korban sering kali jauh lebih kecil dibandingkan negara lain dengan kekuatan gempa yang serupa. Rahasianya bukan karena Jepang lebih beruntung, melainkan karena mereka mempersiapkan diri.

Bangunan modern di Jepang dirancang menggunakan teknologi seismic isolation;dan energy dissipation, yaitu sistem yang memungkinkan bangunan “bergerak” mengikuti getaran tanah tanpa mengalami kerusakan fatal. Fondasi dibuat fleksibel, struktur diperkuat, dan berbagai perangkat peredam dipasang agar energi gempa tidak langsung menghantam bangunan.

Namun teknologi hanyalah separuh cerita.

Separuh lainnya adalah budaya mitigasi. Anak-anak di sekolah rutin mengikuti simulasi evakuasi. Perkantoran memiliki prosedur darurat yang jelas. Jalur evakuasi dipahami masyarakat. Bahkan keluarga biasa memiliki tas siaga berisi makanan, air minum, obat-obatan, senter, radio, dan dokumen penting.

Mitigasi di Jepang bukan kegiatan seremonial tahunan. Ia telah menjadi bagian dari budaya hidup.

Indonesia: Negeri di Atas Cincin Api

Pelajaran Venezuela dan Jepang menjadi sangat relevan bagi Indonesia.

Secara geologis, Indonesia berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai bagian dari Ring of Fire, kawasan dengan aktivitas gempa dan gunung api paling tinggi di dunia.

Sejarah telah mencatat berbagai gempa besar yang meninggalkan luka mendalam: Aceh (2004), Yogyakarta (2006), Padang (2009), Lombok (2018), Palu (2018), Cianjur (2022), hingga berbagai gempa lain yang terus berulang.

Ironisnya, banyak korban meninggal bukan semata-mata karena kekuatan gempanya, melainkan karena bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa.

Di sinilah pekerjaan rumah terbesar Indonesia berada.

Standar konstruksi sebenarnya telah tersedia melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai ketahanan gempa. Persoalannya terletak pada implementasi yang belum merata. Tidak sedikit bangunan dibangun tanpa pengawasan teknis memadai, menggunakan material berkualitas rendah, atau mengabaikan prinsip rekayasa struktur.

Gempa tidak pernah memilih apakah bangunan itu rumah sederhana, sekolah, rumah sakit, maupun gedung pemerintahan. Semua akan diuji dengan standar yang sama: apakah dibangun dengan benar atau tidak.

Mitigasi Adalah Investasi, Bukan Biaya

Masih sering terdengar anggapan bahwa membangun rumah tahan gempa terlalu mahal.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa tambahan biaya konstruksi tahan gempa relatif kecil dibandingkan kerugian yang dapat dicegah ketika bencana terjadi. Biaya memperkuat struktur sejak awal jauh lebih murah daripada membangun kembali kota yang telah hancur.

Begitu pula dengan pendidikan kebencanaan.

Simulasi evakuasi mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi dapat menyelamatkan ribuan nyawa ketika bencana benar-benar datang.

Sistem peringatan dini memang membutuhkan investasi besar, tetapi nilainya tidak sebanding dengan kehidupan manusia yang berhasil diselamatkan.

Dalam perspektif ekonomi, mitigasi adalah investasi dengan tingkat pengembalian sosial yang sangat tinggi.

Membangun Budaya Siaga

Mitigasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Keluarga perlu mengetahui titik kumpul yang aman. Sekolah harus melatih peserta didik menghadapi gempa. Perusahaan perlu memiliki prosedur evakuasi yang jelas. Media massa memiliki tanggung jawab mengedukasi masyarakat, bukan sekadar memberitakan jumlah korban.

Budaya siaga dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Karena pada akhirnya, ketika gempa datang, waktu yang tersedia bukanlah hitungan jam, melainkan detik.

Penutup

Fenomena earthquake doublet di Venezuela mengingatkan kita bahwa alam mampu menghadirkan kejutan di luar perkiraan. Sementara itu, pengalaman Jepang membuktikan bahwa risiko bencana dapat ditekan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, regulasi, dan budaya mitigasi yang kuat.

Bagi Indonesia, pelajaran tersebut tidak boleh berhenti sebagai berita internasional yang lewat begitu saja. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih tegas, pembangunan yang lebih berkualitas, dan masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.

Gempa bumi mungkin tidak bisa dicegah. Namun tragedi kemanusiaan akibat gempa seharusnya tidak selalu menjadi takdir.

Peradaban yang maju bukanlah peradaban yang berhasil mengalahkan alam, melainkan peradaban yang belajar menghormati hukum-hukum alam, mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan, dan melindungi setiap kehidupan dengan sebaik-baiknya.***

Referensi

  1. United States Geological Survey (USGS). Earthquake Hazards Program.
  2. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi mitigasi gempa bumi dan tsunami.
  3. United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030.
  4. Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.
  5. Kajian berbagai publikasi mengenai teknologi seismic isolation dan energy dissipation pada bangunan tahan gempa di Jepang.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten