Mengapa Siswa Indonesia Penakut dan Tidak Percaya Diri

Suasana belajar siswa p

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim baru-baru ini melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyatakan bahwa siswa Indonesia itu penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di luar negeri. Karena itu tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang masuk di kampus top dunia.

Menurut Nadiem, salah satu alasannya adalah banyak yang merasa takut dan tidak percaya diri untuk mendaftar kuliah atau beasiswa ke luar negeri.

“Ini alasannya kenapa pada tidak masuk sekolah top. Satu alasannya, karena banyak yang enggak berani apply,” kata Nadiem di Kompas mengutip akun YouTube resmi penyanyi Putri Ariani, Jumat (22/3/2024).

Pernyataan ini sebenarnya menampar pipi Nadiem sendiri. Karena kenyataannya memang mutu pendidikan di Indonesia hingga masih dianggap rendah dan mengalami banyak masalah.

Hal itu tentu berdampak langsung dengan daya saing lulusan yang dihasilkan. Karena dengan rendahnya mutu pendidikan maka rendah pula kualitas lulusan yang dihasilkan. Maka wajar saja kalau siswa kita dianggap penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di universitas top di luar negeri, seperti yang dialami oleh Nadiem yang lulusan Universitas Brown dan Harvard Bussiness School, keduanya di Amerika Serikat.

Nadiem merupakan salah satu Menteri di pemerintahan Jokowo yang banyak menunai kontroversi. Banyak pakar dan praktisi pendidikan yang melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Sejumlah kebijakan Mas Nadiem, sapaan akrab Mendikbudristek ini, dinilai sebagai suatu bentuk kebingungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pemerintah bingung menentukan arah kebijakan di sektor pendidikan. Mungkin juga lebih disebabkan karena minimnya pengetahuan dan pengalaman Mas Menteri dalam bidang pendidikan.

Nadiem dianggap tak paham kendala maupun permasalahan pendidikan karena tidak terjun langsung melihat keadaan di lapangan. Padahal pendidikan di Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang Jakarta. Maka wajar apabila banyak pihak sudah minta ke Presiden Jokowo agar Bos Gojek ini diganti, namun hingga hari ini dia masih tetap sebagai Mendikbudristek.

Sejumlah kebijakan Nadiem menunai kritik karena justru dianggap melemahkan pendidikan di Indonesia. Pertama, pembubaran Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP ) dan menggantinya dengan Dewan Pakar Standar Nasional Pendidikan. Alasannya karena peran lembaga itu dinilai tidak terlalu penting dalam merumuskan standar nasional pendidikan.

Kedua, dihilangkannya Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) yang digantikan oleh Balai Guru Penggerak berdasarkan PP Nomor 57 Tahun 2021.

Ketiga, dihilangkannya Ujian Nasional (UN) atau Ujian Kesetaraan mulai tahun 2021 yang mengakibatkan sekolah tidak lagi punya standar nasional untuk dijadikan tolok ukur.

Mutu Pendidikan Indonesia

Statemen Nadiem diatas tidak ada yang salah karena memang mutu siswa Indonesia masih rendah dibanding dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara anggota ASEAN.

Kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia masih mengalami banyak masalah tentu berdampak langsung dengan daya saing lulusan yang dihasilkan, karena dengan rendahnya mutu pendidikan maka rendah pula kualitas lulusan yang dihasilkan. Maka wajar saja kalau siswa kita dianggap penakut dan tidak percaya diri.

World Population Review, sebuah lembaga survey internasional menerbitkan laporan perihal indeks daya saing global. Laporan ini menampilkan tren regional dan analisis negara terpilih dari edisi 2021 Global Competitiveness Index (GCI) 4.0.

Dalam laporannya tentang peringkat daya saing Indonesia berada di posisi ke-54 di dunia, turun empat peringkat dari tahun lalu. Indonesia juga tertinggal dari tetangganya di ASEAN, di belakang Singapura (21), Malaysia (38) dan Thailand (46).

Mencermati laporan BPS (2019), Indonesia memiliki Mean Years of Schooling dengan skor 8,34 tahun. Ini berarti pelajar di Indonesia rata-rata hanya selesai sekolah sampai dengan kelas 8 di tingkat SMP.

Sementara Malaysia 10,2 tahun atau kira-kira sampai kelas 10 SMA dan Singapura 11,1 tahun atau setara kelas 11 SMA.

Jepang yang dianggap sebagai negara maju mempunyai MYS 12,8 tahun, yang berarti rata-rata siswa di sana adalah lulusan SMA atau mendapatkan diploma.

Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2022 telah diumumkan pada 5 Desember 2023, dan Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor; matematika (379), sains (398), dan membaca (371).

Penelitian ini mengevaluasi prestasi siswa yang berusia 15 tahun dalam disiplin ilmu matematika, membaca, dan sains. Partisipasi PISA 2022 melibatkan sekitar 690 ribu siswa dari 81 negara, dan survei ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Sejak 2000, OECD secara konsisten telah mengadakan penilaian ini. Survei PISA 2022 seharusnya dilaksanakan pada 2021. Namun, ditunda karena pandemi covid-19.

Dengan hasil tes PISA yang rendah dan kemampuan literasi yang lemah, maka wajar kalau mutu siswa Indonesia masih rendah dan tidak kompetitif. Ini menunjukkan bahwa siswa Indonesia tidak memilik pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Makanya tidak mengherankan apabila banyak siswa Indonesia yang mengalami kesulitan untuk mendaftar di perguruan tinggi top dunia. 

Optimisme siswa dalam belajar

Perubahan Kurikulum

Pada dasarnya, perubahan kurikulum sesungguhnya menemukan momentum yang tepat dan merupakan suatu usaha mulia dan akan menjadi legacy bagi Nadiem dan Pemerintahan Jokowi hanya apabila dilakukan dengan jujur untuk kemajuan bangsa.

Sejak Indonesia merdeka, dari 1945 sampai dengan 2023 ini, kurikulum pendidikan nasional telah berubah sebanyak 11 kali. Jadi, rata-rata hampir setiap enam tahun sekali kurikulum pendidikan nasional kita berubah.

Tidak jelas apakah seringnya pergantian kurikulum tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi anak didik dan daya saing lulusan atau hanyalah karena ego politik dari pejabat terkait.

Pergantian kurikulum yang sering terjadi telah membuat bingung para siswa maupun orang tua. Tentu saja hal ini menjadi persoalan yang serius mengingat konsistensi sistem pendidikan menjadi tidak jelas, proses belajar terganggu, dan kualitas siswa yang dihasilkan juga tidak optimal.

Pendidikan kita sekarang ini memang harus diperbaiki agar dapat mengantar anak didik kita bisa punya keberanian hidup dan punya kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapi masa depan. Masa depan yang penuh persaingan dan ketidakpastian menuntut peran dunia pendidikan yang dapat memberikan bekal yang memadai bagi anak didik agar bisa survive dan kompetitif. Menyitir petuah dari Sayidina Ali, kita perlu menyiapkan pendidikan yang sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zamannya, bukan di zaman kita.

Paradigma baru pendidikan diharapkan dapat mewujudkan suatu hasil yang luar biasa (extra ordinary) agar menjadi leverage (daya ungkit) bagi masa depan anak-anak kita yang lebih unggul dan berdaya saing.

Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa kurikulum baru yang konon akan disahkan oleh Nadiem bulan April 2024 ini dapat menjadikan anak-anak kita lebih aktif, kreatif dan kompetitif. Dengan demikian, maka dunia pendidikan kita bisa membangun berbagai harapan fundamental.

Pendidikan harus bisa memahamkan kepada anak didik kita tentang hak dan kewajibannya, sebagai warga Indonesia. Jadi, ultimate goalnya adalah untuk membentuk anak didik kita menjadi anak-anak yang berkarakter, sebagaimana ciri Pelajar Pancasila nomor 6, yaitu kreatif.

Pengalaman Jepang bisa maju karena mempunyai kepribadian yang sangat kuat, dan telah teruji dalam Perang Dunia, baik di Perang Dunia I maupun Perang Dunia II hingga saat ini. Tradisi belajar orang Jepang, terutama tradisi membaca pada anak-anak, termasuk yang tertinggi di belahan dunia sejak anak usia kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Sementara itu, Korea juga dianggap sebagai bangsa yang tidak malu untuk meniru hal-hal yang baik atau inovatif yang dilakukan orang Jepang. Ada semacam pameo bahwa orang Jepang itu maju karena meniru Amerika (what American Do, Japan Can Do).

Sedangkan bagi Korea, apa yang dilakukan oleh Jepang menjadi acuannya. Maka rumusnya, apapun yang bisa dilakukan oleh Jepang, maka Korea juga bisa melakukan dengan lebih baik (what Japan do, Korea can do better). Karena itu adalah hal yang biasa apabila orang Jepang dan Korea yang tidak mahir berbahasa Inggris, karena mereka bangga dengan Bahasa nasionalnya dan hasil pendidikan nasionalnya.

Tanggung Jawab GUPPI

Kita memerlukan iklim pendidikan nasional yang progresif dan kompetitif agar dapat mengantarkan anak didik kita mempunyai daya saing yang tinggi dan siap menaklukkan kampus-kampus top di luar negeri.

Namun, jangankan mendaftar kuliah di kampus top luar negeri, mendaftar di kampus top dalam negeri saja mungkin juga masih pas-pasan. Ini terlihat dari adem ayemnya kampus-kampus top dalam negeri dalam penerimaan mahasiswa baru.

Inilah saatnya Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan (GUPPI) untuk aktif membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, baik melalui gagasan-gagasan kritisnya maupun dengan munculnya sekolah dan madrasah GUPPI yang hebat dan kompetitif.

Ini tugas berat namun mulia bagi GUPPI yang bulan depan akan mengadakan Muktamar untuk memilih nahkoda baru dan ikut memajukan pendidikan Indonesia yang lebih kompetitif. Insya Allah.