“Profesional” yang Mengabdi Hingga Uzur

Pengalamannya demikian luas, jelajah intelektualnya lintas negeri. Sepanjang kariernya, ia berkhidmat dengan keahlian dan wawasannya. Benar, bahwa ilmu patut dihargai terlebih ilmu agama. Sudah sepantasnya ia tumbuh bersama berkembangnya manfaat. Namun, tatkala ilmu diabdikan pada penjajah, dalil agama dibenturkan dengan gerakan anti penjajahan, wawasan yang hebat sungguh tak berarti. Tentang ulama yang bekerja di pihak Belanda hingga hari tuanya.

Aliran tarekat pada suatu masa dianggap “apolitis”, ayem-tentrem, pasif. Penganutnya cenderung menarik diri dari dunia. Betul begitu? Tidak sepenuhnya benar. Pada pertengahan abad ke-19, tarekat-tarekat berpengaruh seperti Qadiriyah, Naqsabandiah dan Satariah terpanggil untuk terjun ke gelanggang berpolitik. Pemimpinnya amat berpengaruh yang dengan itu mereka menjadi magnit massa sehingga diikuti. “Kelompok-kelompok tarekat” itu menjadi “area protes”, massa tarekat pada suatu waktu tak menahan dirinya untuk memprotes kezaliman, bahkan lebih berani ketimbang pengajian lain. Inilah yang membuat penasihat Islam Pemerintah Hindia Belanda, ekstra serius mengurus tarekat. Satu orang diantaranya, Sayyid Usman al Alawi namanya. Snouk Hurgronje menyebutnya sebagai een Arabisch bondgenoot ner Nederlandsch Indische regering, kawan sepersekutuan Arab untuk pemerintah Hindia Belanda. Sayyid Usman konon mendapat upah 100 gulden. Dia orang alim antijihad sekaligus antitarekat.

Sejak kapan Snouk Hurgronje bersahabat dengan Sayyid Usman? Hurgronje sebagai rajul muslim Hulanda (tuan muslim Belanda) dengan nama samaran Haji Abdul Gaffar, saat menyelidiki pergerakan Islam dibantu Sayyid Usman. Hurgronje dikontrak kompeni sebagai orientalis selama dua tahun sejak 1889 untuk wilayah Hindia Belanda. Sayyid Usman lah yang membantu Hurgronje memberi berbagai informasi mengenai Islam dan perkembangannya di Hindia Belanda. Sayyid Usman konon diupah 100 gulden (sepertujuh gaji Hurgronje) yang karena hasil penyelidikannya dianggap berguna untuk melanggengkan penjajahan, kontrak Hurgronje diperpanjang sampai 17 tahun lamanya. Sayyid Usman si penasihat Hurgronje ini kelahiran Batavia, anak Abdullah ibn Umar ibn Yahya al-Alawi yang lahir di Mekah. Ibunya Aminah putri Syekh Abdurrahman al-Mishri. Saat Usman masih kecil, diasuh al-Mishri karena ayahnya kembali ke Mekah.

Sang kakek lah yang mendidik Usman, dan saat ia berusia 18 tahun, kakeknya meninggal. Usman berhaji, bersua ayah dan keluarganya, menetap 7 tahun di Mekah mendalami Islam termasuk kepada ayahnya, Lalu ia pergi ke Hadramaut, Arab Selatan, belajar kepada sejumlah ulama. Dari tanah leluhurnya, Usman meneruskan perjalanan ke Mesir. Ia mukim delapan bulan lamanya, ke berbagai tempat (Tunis, Aljazair, Iran, Istanbul dan Suriah), balik ke Hadramaut selama beberapa tahun dan kembali ke Batavia tahun 1862 sampai berpulang  tahun 1913.

Sayyid Usman cukup produktif manulis, spesial mengendurkan ghirah Islam. Ia sejak bekerja tandem dengan Hurgronje – sudah menulis 50 karangan, umumnya pendek-pendek (maksimum 20 halaman) dalam Bahasa Arab dan Melayu, kebanyakan menjawab masalah yang diajukan orang. Ia juga diangkat sebagai adviseur honorair untuk “urusan Arab” pada pemerintah kolonial. Sayyid Usman ini menulis kitab Al-Qawaninusy Syar’iyyah li Ahlil Majalisil Hukmiyyah wa-Iftaiyah – pedoman para penghulu yang waktu itu pengetahuan agama dan Arabnya terbatas – dan sejak ditulis tahun 1881. Terus dicetak ulang (menurut redaktur panjimasyarakat.com dalam salah satu kolomnya, hingga tahun 2000-an kitab ini masih dicetak).

Sayyid Usman punya kolega dengan ideologi dan keyakinan sejalan. Tahun 1894, Sayyid Usman menyerahkan fatwa mufti Johor, Salim ibn Atman ibnu Muhsin ibn Bakr al-Attas. Bunyi salah satu bagian fatwa itu,”Orang Aceh harus menghentikan perjuangan melawan Belanda, karena besarnya kerugian Islam dan muslimin.”

Sayyid Usman lah orang alim yang berpendapat,” Tak mungkin muslimin Hindia Belanda mengubah keadaan dan daerah mereka.” Dengan begitu, mendirikan Sarekat Islam/SI pun bagi Sayyid Usman percuma. Padahal, ada ulama besar seperti Ahmad Khatib al-Minankabawi, menyokong berdirinya SI dari Mekah. Nawawi al-Bantany yang juga di Mekah, memandang pemberontakan petani di daerah asalnya (Banten) pada 1888 sebagai jihad yang dibenarkan. Kontras dengan Sayyid Usman, yang berlawanan dengan pandangan dua ulama Mekah ini, tanggal 5 Juli 1890 dalam risalah bertajuk Manhajul Istiqamah fid-Din bis-Salamah, dikirim Hurgronje kepada Gubernur Jenderal, disebutkan, Sayyid Usman mengatakan,”Maka dari itu diketahui bahwa perbuatan bikin rusuh negeri, sebagaimana yang telah terjadi di Cilegon, Banten, dan yang dahulu di Bekasi, sekalian itu batil , buka  jihad, sebab tiada sayarat-syaratnya, malahan perbuatan begitu banyak melanggar hukum agama dengan menjatuhkan beberapa banyak darurat pada orang-orang sebagai yang terjadi dahulu di negeri Jeddah.” Usman kerap merujuk peristiwa kerusuhan dan pembunuhan orang-orang Kristen di Jeddah (1958) yang diikuti hukuman keras Sultan Turki kepada para pemuka muslim yang terlibat.

Begitulah potret orang yang cukup punya wawasan tetapi ada di seberang para pemimpin perjuangan yang anti Belanda. Padahal guru-guru Sayyid Usman bukan sorang sembarangan, pun perjalanan intelektualnya lintas negeri. Dan keberpihakannya di sisi kolonialis Belanda bersama Hurgronje, tidak dalam keterpaksaan, apalagi bersiasat. Upayanya mengabdikan diri pada kepentingan kolonialis, masih terus dilakukannya kendati sudah sangat uzur. Saat Sarekat Islam (SI) berdiri (1912), dan Sayyid Usman telah 90 tahun usianya, ia menulis brosur tajuk “Menghentikan Rakyat Biasa dari Bergabung dengan Sarekat Islam”, dikirim ke gubernemen untuk disebarkan ke kalangan guru agama di Jawa dan pulau-pulau lain. Isinya, menuduh SI sebagai kelompok yang “tidak Islam sama sekali” dan bahwa H.O.S. Tjokroaminoto pendirinya “tidaklah hidup sesuai dengan norma-norma Islam.” Sikap setelengas itu, diekspresikan Sayyid Usman bahkan saat telah berusia lanjut. Bukannya mengumpulkan bekal akhiratnya, justru kian terang-terang memfitnah H.O.S. Tjokroaminoto. MasyaAllah!

Leave a Reply

Your email address will not be published.