Penguatan Entrepreneurship Melalui Pendidikan di Pesantren

"Entrepreneurship education" peserta pelatihan BLKK Pesantren Al-Ihsan Anyar di Balai Pengrajin Sri Mulya

Oleh : Zulfikri

Mengangkat tema semangat ekonomi dalam pendidikan Islam bukanlah hal baru. Namun demikian tema ini terasa masih kurang mendapat perhatian jika dibanding kajian pendidikan Islam dalam dimensi lain. Kajian tentang kewirausahaan telah menjadi diskursus yang ramai bagi jenis pendidikan lain, apalagi pendidikan di Barat.

Sekalipun demikian, pendidikan kewirausahaan sebetulnya suatu yang inheren dalam dunia pendidikan Islam, lebih kepada watak dan perilaku dari pada termaktub dalam kurikulum. Jika substansi kajian ini dimaknai dalam konteks, maka pendidikan Islam bisa dikatakan sudah leading dalam waktu yang begitu lama dalam bidang ini, mengingat perkembangannya sejalan perkembangan Islam di Nusantara, jauh sebelum munculnya istilah entrepreneurship education (pendidikan kewirausahaan) yang dikenal saat ini.

Meninjau pendidikan Islam saat ini, masih sangat terbatas adanya upaya untuk menghidupkan dimensi praktis kewirausahaan atau sekurangnya wawasan entrepreneurship dalam program-program yang diluncurkan kepada sekolah. Dimensi entrepreneurship ini sebenarnya bisa saja menjadi bentuk penawaran baru dalam program-program untuk siswa-siswa SMA dan SMK atau lainnya. Bentuk awal dari hal tersebut bisa berupa wawasan kewirausahaan dalam Agama Islam.

Di samping program selama ini yang banyak menekankan aspek pengetahuan keagamaan, baik yang berupa kemampuan baca tulis Qur’an, ibadah, atau pembentukan karakter moderasi dalam kaitan pergaulan kerukunan, sudah saatnya pula memberikan hal lain yang sejak lama menjadi ekspektasi, terutama orang tua murid yang punya harapan dalam menitipkan anak-anaknya untuk mendapatkan pengetahuan kognitif serta pengetahuan praktis yang dapat menjadi bekalnya setelah menamatkan pelajaran mereka di sekolah.  

Oleh karena itu, untuk memunculkan kembali dan mempertahankan tradisi entrepreneurship Islam, kita dituntut memainkan peran lain sesuai ekspektasi masyarakat dan tuntutan perkembangan zaman. Perkembangan yang demikian cepat menuntut adanya pendidikan yang komprehensif. Masyarakat dewasa ini menghendaki pembinaan anak didik yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan, serta kemampuan komunikasi dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Lebih dari itu anak didik diharapkan juga bisa merespon secara positif derasnya arus teknologi informasi dalam segala lini kehidupan yang semakin digitalized.

Tawaran Pesantren untuk Entrepreneurship

Penelaahan aspek ekonomi dalam tulisan ini sebetulnya muncul dari keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya umat Islam dalam kategori low-class yang kian hari makin memprihatinkan. Tingginya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan hanya untuk menyambung hidup, sementara “lapangan” pekerjaan sangat terbatas. Dalam penelusuran penulis, masyarakat bukanlah malas atau tidak kreatif, namun kebingunan tentang apa yang musti dikerjakan, sementara tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan sangat kecil. Upaya peng-atribusian masyarakat dalam kegiatan ekonomi inilah yang menjadi concern pemikiran untuk menemukan formulasi yang tepat melalui program-program pendidikan yang bisa dimulai dari dunia pesantren. 

Dalam lintas batas wilayah dan ideologi yang dipengaruhi perkembangan teknologi informasi saat ini, pendidikan untuk menguatkan karakter individu yang akan memperkokoh daya juangnya harus diberi prioritas. Pendidikan Islam yang secara tradisi menjadi centre of social development, baik dalam pengembangan dakwah dan ekonomi, kini sudah saatnya diformulasikan kembali dalam bentuk transformasi pembelajaran untuk menciptakan model baru pendidikan agama.

Namun demikian bentuk dimensi pembelajaran ekonomi yang diinginkan di sini bisa dikatakan ekonomi yang bercorak spiritual atau Islami. Ciri khas ekonomi Islami adalah ekonomi ke-jama’ahan (kebersamaan dalam persaudaraan). Semangat tersebut bahkan termaktub dalam konstitusi negara, dan menurut ekonom senior Sri Edy Swasono, sangat terinspirasi dari nilai ajaran Islam.

Menurut Edy Swasono, kejama’ahan dalam berekonomi mengisyaratkan adanya rasa kebersamaan, tolong-menolong dalam ikatan persaudaraan (sebagaimana petunjuk dalam Al-Qur’an), bukan hanya trust dalam pergaulan antar sesama, lebih dari itu ada konsekuensi teologis dalam setiap tindakan yang diambil. Pesan moral dalam ekonomi jama’ah ini, berbeda sekali dengan apa yang sering diungkapkan sebagai moral sentiment, dalam teori Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith, yang menjadi kiblat ekonom neo-klasik yang justru terkungkung mengabaikan ilmu ekonomi sebagai ilmu moral. 

Menjadikan tema entrepreneurship Islam dalam program-program pesantren, akan menjadi pintu masuk bagi penguatan karakter santri dalam memahami fenomena perkembangan dunia yang tak pernah sepi dari pergulatan ideologi. Sebagaimana difahami bersama, konstitusi kita menjamin kemakmuran bersama, kepentingan masyarakat lebih utama dari kepentingan orang-seorang, hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara untuk menjamin keselamatan bangsa dan negara, serta untuk memperkokoh ketahanan nasional Indonesia. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (sebagai pokok-pokok kehidupan dan kemakmuran rakyat) harus pula dikuasai oleh negara dan digunakan hanya untuk sebesar-besar kemakmuran bersama seluruh masyarakat. Sangat berbeda sekali dengan doktrin ekonomi kapitalisme-liberalisme dengan pasar bebas sebagai bawaannya menempatkan ‘daulat pasar’ untuk menggusur ‘daulat rakyat’.

Dalam kaitan ini, tulisan ini bermaksud memberikan stressing tentang keniscayaanadanya reformasi kurikulum dalam pengajaran ekonomi sebagai antitesa terhadap hegemoni akademis yang disajikan selama ini, yang pada dasarnya adalah neoclassical-based economics. Penganut ekonomi neoklasikal menggunakan asumsi simplistik, sebagai pelaku ekonomi, manusia rasional adalah manusia yang berdasar inisiatif individunya mengejar utilitas ekonomi optimal, yang mencari maximum gain dan minimum sacrifice, yang merupakan ciri khas dari ekonomi kapitalisme.

Catatan ini masih merupakan garis besar, dan diharapkan menjadi stimulus dalam proses perwujudannya kepada program yang lebih detail. Namun demikian patut dipertimbangkan sebagai upaya membangkitkan semangat para santri untuk tumbuh dalam iklim yang kompetitif di era disrupsi ini.

* Penulis adalah analis mutu pendidikan Islam. Alumni PPS UIN Jakarta. Saat ini bekerja di Direktorat Pendidikan Agama Islam, Kementerian Agama

3 thoughts on “Penguatan Entrepreneurship Melalui Pendidikan di Pesantren

  1. Vk amatör türk porn pic sikişen alman kızları ten kızlık bozma new teen anal porn movies türk erkek iki kız grup türkçe porno.
    Amatör porno; anal porno; Gizli porno; grup pornosu; hard pornolar; Atesli sarisin bebek.
    1 ay önce 25 izlenme. sisman beyaz kadinlar porno.

    2 sene önce 389 izlenme.

  2. Iç çamaşırı seksi hakkında: Baştan çıkarıcı.
    ‘da bulunan iç çamaşırı seksi çeşitleri, kullanıcıların cinsel
    yaşamına biraz renk katmanın harika bir yoludur. Bunlar,
    farklı bireysel öğeler ve öğe setlerinden oluşan en geniş perçinleme parçaları koleksiyonunda bulunur.
    Diğer özelliklerin yanı sıra.

Leave a Reply

Your email address will not be published.