Pesantren dan Tantangan Entrepreneur di Era Pandemik

Oleh: Ahmad Yani

Dunia saat ini sedang menghadapi perubahan yang ekstrem akibat wabah pandemik Corona-19, suatu fenomena yang para ahli sudah memperkirakan, namun tetap tidak bisa membendung dahsyatnya dampak dari musibah ini.

Kita tampak tidak siap menghadapi musibah yang sangat mendadak dan tidak tahu kapan akan berakhir, namun yang jelas hal ini telah merubah tatanan dunia, termasuk di dalamnya merubah tatanan peradaban umat manusia.

Pada perkembangannya, realitas pandemik ini telah mendorong terjadinya perubahan pola hidup di hampir semua lini kehidupan dan menandai dimulainya pemanfaatan dunia teknologi kreatif dengan produktif.

Proses pembelajaran di dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya tatap muka, yang selama ini menjadi kekuatan dalam proses pembelajaran. Dunia pendidikan, termasuk pesantren, dipaksa  harus “melek teknologi” karena pembelajaran juga harus dikemas secara online untuk menghidari kerumunan massa yang dapat memicu kerawanan penyebaran virus corona-19 yang hingga kini masih dicarikan obatnya.

Bagi pesantren yang kurang kreatif, maka pandemik ini akan menggiring mereka “teralienasi” dari arena percaturan peradaban dunia. Akan tetapi bagi yang kreatif, maka pandemik ini justru akan mengantarkanya untuk menjadi lebih teruji dan matang dalam menghadapi perubahan dunia.

Pesantren diharapkan mampu menyiapkan alumni yang kreatif, berkarakter, dan memiliki keunggulan kompetitif yang kemudian mampu memainkan perannya sebagai entrepreneur yang hebat. Salah satu upaya strategisnya adalah melalui penanaman nilai-nilai entrepreneur yang berkarakter dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan secara fulltime dan berkelanjutan.

Untuk menyiapkan lulusan dalam menghadapi tantangan pandemik ini, maka pola pendidikan di pesantren harus direkonstruksi sebagai upaya menjembatani kesenjangan dan membekali mereka dengan berbagai keterampilan (skill), baik hard skill maupun soft skill.

Pendidikan pesantren harus berorientasi pada proses untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menjadi ulama yang handal, namun juga harus bisa menyiapkan para santrinya menjadi seorang entrepreneur yang handal.

Tidak semua lulusan atau alumni pondok pesantren akan menjadi ulama atau kiai sehingga perlu memilih pekerjaan sesuai dengan perkembangan zaman. Santri perlu diberi berbagai pelatihan keterampilan sebagai bekal ketika lulus dari pesantren agar mereka menjadi manusia yang memiliki karakter dan mandiri.

Untuk menjadi pribadi yang sukses, tentu membutuhkan ketekunan, kegigihan, serta mental yang kuat. Biasanya orang yang telah berada di puncak kesuksesan memiliki pola dan cara berpikir yang berbeda dengan orang yang baru akan meraih kesuksesan. Jika ingin sukses, cobalah mulai ubah dan miliki cara berpikir pengusaha sukses.

Berbagai tips serta strategi bisnis banyak tertuang di dalam buku bisnis atau seminar. Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa bisnis yang dijalankan belum mencapai kesuksesan? Atau kenapa sebagai pengusaha merasa kesulitan dalam mengikuti tips-tips bisnis yang telah diberikan oleh para pengusaha sukses, baik melalui buku atau seminar?

Menurut Burgess, wirausaha adalah seseorang yang melakukan pengelolaan, mengorganisasikan, dan berani menanggung segala risiko dalam menciptakan peluang usaha dan usaha yang baru. Sedangkan  menurut J.B Say, wirausaha adalah pengusaha yang mampu mengelola sumber-sumber daya yang dimiliki secara ekonomis (efektif dan efisien) dan tingkat produktivitas yang rendah menjadi tinggi.

Dunia pesantren bisa meng-copy pengalaman Bill Gates yang menggunakan Konsep 10 D yang dikembangkan oleh Willian Bygrave dalam mengembangkan bisnisnya sehingga bisa menguasai jagat dunia teknologi informasi.

Seorang entrepreneur memang berbeda dibandingkan dengan orang biasa. William Bygrave membuat daftar 10 D sebagai ciri kewirausahaan, yaitu:

  1. Dream (Mimpi)

Seorang wirausaha mempunyai visi bagaimana keinginannya terhadap masa depan pribadi dan bisnisnya dan yang paling penting adalah dia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan impiannya tersebut.

2. Decisiveness (Ketegasan)

Seorang wirausaha adalah orang yang tidak bekerja lambat. Mereka membuat keputusan secara cepat dengan penuh perhitungan. Kecepatan dan ketepatan dia mengambil keputusan adalah merupakan faktor kunci (key factor) dalam kesuksesan bisnisnya.

3. Doers (Pelaku)

Begitu seorang wirausaha membuat keputusan maka dia langsung menindak lanjutinya. Mereka melaksanakan kegiatannya secepat mungkin yang dia sanggup artinya seorang wirausaha tidak mau menunda-nunda kesempatan yang dapat di manfaatkan.

4. Determination (Ketetapan Hati/Kebulatan Tekad)

Seorang wirausaha dalam melaksanakan kegiatannya memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan tidak mau menyerah, walaupun dia dihadapkan pada halangan atau rintangan yang tidak mungkin diatasi.

5. Dedication (Dedikasi)

Dedikasi seorang wirausaha terhadap bisnisnya sangat tinggi, kadang-kadang dia mengorbankan hubungan kekeluargaan, melupakan hubungan dengan keluarganya untuk sementara. Mereka bekerja tidak mengenal lelah, 12 jam sehari atau 7 hari dalam seminggu. Semua perhatian dan kegiatannya dipusatkan semata-mata untuk kegiatan bisnisnya.

6. Devotion (kecintaan/kesetiaan)

Devotion berarti kegemaran atau kegila-gilaan. Demikian seorang wirausaha mencintai pekerjaan bisnisnya dia mencintai pekerjaan dan produk yang dihasilkannya. Hal inilah yang mendorong dia mencapai keberhasilan yang sangat efektif untuk menjual produk yang ditawarkannya.

7. Details (Cermat)

Seorang wirausaha akan selalu memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci. Dia tidak akan mengabaikan faktor-faktor kecil tertentu yang dapat menghambat kegiatan usahanya.

8. Destiny (Nasib)

Seorang wirausaha bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak dicapainya. Dia merupakan orang yang bebas dan tidak mau bergantung kepada orang lain.

9. Dollars (Uang)

Wirausahawan tidak sangat mengutamakan mencapai kekayaan. Motivasinya bukan memperoleh uang, akan tetapi uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan bisnisnya. Mereka berasumsi jika mereka sukses berbisnis maka mereka pantas mendapat laba/bonus/hadiah.

10. Distribute (Pembagian tugas)

Seorang wirausaha bersedia mendistribusikan kepemilikan bisnisnya terhadap orang-orang kepercayannya. Orang-orang yang kepercayaan ini adalah orang-orang yang kritis dan mau diajak untuk mencapai sukses dalam bidang bisnis.

Bill Gates adalah salah seorang entrepreneur yang sukses saat ini. Keberhasilannya ternyata dimulai dari sebuah impian yang menjadi visinya yaitu “satu komputer di setiap meja kantor dan di setiap rumah”. Saat ini komputer bukan lagi barang asing karena mudah dijangkau dan ada dimana-mana. Semua ini berawal dari sebuah “impian”.

Bill, Gates telah mundur dari singgasana sebagai CEO Microsoft pada Januari 2000. Sahabat lama dan koleganya, Steve Ballmer, kemudian menggantikan posisinya. Namun orang menilai, bahwa pergantian itu sebenarnya hanya simbolis, karena Bill Gates masih tetap memegang posisi kunci sebagai Komisaris Utama yang memegang laju kendali perusahaan.

Bagi Bill Gates menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Menjadi kaya bukanlah motivator utama bagi seorang wirausahawan. Uang lebih berarti sebagai ukuran kesuksesannya. Mereka menganggap jika mereka sukses, mereka akan diberi penghargaan.

Kesepuluh Konsep D tersebut sebaiknya menjadi perhatian bagi pesantren agar dalam menyiapkan pembelajaran bagi para santrinya agar para santri tidak gagap dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa yang lebih kompleks.

Mengutip pernyataan dari Ali bin Abi Tholib bahwa kita harus mendidik anak-anak kita tidak sebagaimana kita dididik, karena mereka diciptakan untuk masa depan mereka.

Wallahua’lam.

                                              Cirendeu, 9 Desember 2020


Leave a Reply

Your email address will not be published.