KEPO-isme Knowing Every Particular Object?

“Mengapa manusia senang mengurusi hidup orang lain? Karena mengoreksi diri sendiri jauh lebih melelahkan. Menilai orang lain hanya membutuhkan lidah, sedangkan menilai diri sendiri membutuhkan hati. Dan lidah memang jauh lebih ringan daripada hati”

Pernah bertemu teman di jalan, tapi basa basinya selalu mengarah kepada jurus kepo yang berbau ghibah. Eh si nganu sekarang dimana?, katanya dia begini begitu, inilah yang disebut kepo toksik menuju ghibah, dosa berat yang sering di anggap ringan.

Konon, ada yang bilang KEPO adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object. Kedengarannya keren. Akademis. Seperti nama mata kuliah di universitas luar negeri.

Sayangnya, itu hanyalah cocoklogi modern—singkatan yang dibuat belakangan setelah kata “kepo” telanjur populer. Secara sejarah yang valid, kata ini berasal dari bahasa Hokkien, kay poh atau kaypo, yang berarti orang yang suka ikut campur dan terlalu ingin tahu urusan orang lain. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepo diartikan sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap kepentingan atau urusan orang lain.

Masalahnya, di negeri ini kepo telah berevolusi. Ia bukan lagi sekadar rasa ingin tahu. Ia sudah menjadi sebuah isme, sebuah gaya hidup, bahkan seperti profesi yang tidak pernah digaji.

“Eh, kamu tahu nggak? Si Fulan sudah cerai.” “”Serius? Kok bisa?”. “Katanya istrinya begini…” bla..bla blaa. “Eh, si Fulanah juga diceraikan suaminya.” “Lho, kamu belum dengar?” “Masa ngga tahu?”. Dan sederet kebiasaan “ngabsen” lainnya..

Begitulah percakapan yang tumbuh subur setiap pagi. Bahkan sering menyebar lebih cepat daripada informasi cuaca. Yang lucunya, ketika ditanya, “Sumbernya dari mana?”, jawabannya sering penuh keyakinan: “Katanya…”, “Orang bilang…”, atau “Dengar-dengar…”. Seolah-olah “katanya” telah menjadi kantor berita paling terpercaya di dunia.

Padahal, kalau ditanya siapa penemu AI, siapa penemu vaksin cacar, atau siapa penulis Al-Muqaddimah l, mendadak jaringan internet di otaknya berubah menjadi EDGE. Tetapi urusan rumah tangga tetangga? Kecepatannya sudah 6G.

Ada orang yang hafal jadwal pertengkaran pasangan lain, tetapi lupa jadwal salatnya sendiri. Ada yang tahu cicilan mobil tetangga, tetapi tidak tahu berapa utang amalnya kepada Allah. Ada yang hafal siapa menikah lagi, siapa bangkrut, siapa operasi plastik, siapa kena PHK, siapa anaknya nakal, hingga siapa menantunya cerewet.

Namun ketika ditanya, “Sudah berapa juz Al-Qur’an yang dibaca bulan ini?”, jawabannya berubah menjadi mode pesawat.

Yang lebih menarik, pelaku kepo hampir selalu mengaku memiliki niat mulia. “Saya cuma prihatin.” “Saya cuma peduli.” “Saya cuma ingin tahu.” Padahal, sering kali yang disebut “peduli” itu hanyalah ghibah yang diberi parfum.

Dalam Islam, ukuran ghibah sangat sederhana. Bukan apakah berita itu benar atau salah, melainkan apakah orang yang dibicarakan akan senang jika mendengarnya. Kalau ia tidak suka, itulah ghibah, meskipun semua yang kita ceritakan benar. Inilah yang sering tidak disadari. Banyak orang merasa dirinya sedang menyampaikan fakta, padahal sebenarnya sedang mengirim dosa secara berjamaah.

Ironisnya, zaman digital membuat kepo menjadi jauh lebih praktis. Tidak perlu lagi keluar rumah. Cukup membuka media sosial, melihat siapa menyukai foto siapa, memeriksa siapa berhenti saling mengikuti, menganalisis siapa menghapus foto pasangan, lalu dibuatlah kesimpulan setebal tesis doktoral. Padahal semuanya hanya berdasarkan dua emoji dan tiga status yang samar. Sherlock Holmes pun mungkin akan menyerah menghadapi metode investigasi seperti ini.

Mengapa manusia senang mengurusi hidup orang lain? Karena mengoreksi diri sendiri jauh lebih melelahkan. Menilai orang lain hanya membutuhkan lidah, sedangkan menilai diri sendiri membutuhkan hati. Dan lidah memang jauh lebih ringan daripada hati.

Ada pepatah yang layak direnungkan: semakin kosong sebuah gelas, semakin nyaring bunyinya. Demikian pula manusia. Semakin sedikit kesibukan memperbaiki diri, semakin besar semangat membicarakan kehidupan orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar sibuk berkarya biasanya tidak punya waktu mengurusi siapa yang bertengkar, siapa yang putus cinta, siapa yang pindah rumah, atau siapa yang sedang bermasalah. Mereka sibuk memperbaiki hidupnya sendiri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Perumpamaan itu begitu keras. Bukan sekadar menggambarkan dosa, melainkan menghadirkan ilustrasi yang membuat hati bergidik.

Sementara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Betapa sederhana nasihat itu. Tetapi betapa sulit mempraktikkannya di era notifikasi tanpa henti.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah makna KEPO. Bukan lagi Knowing Every Particular Object, melainkan Keep Evaluating Personal Objectives—teruslah mengevaluasi diri sendiri. Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi editor kehidupan orang lain.

Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perceraian tetangga. Namun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kalimat yang keluar dari mulut kita.

Maka sebelum bertanya, “Eh, kamu tahu nggak…”, mungkin lebih baik bertanya kepada diri sendiri, “Eh, aku sendiri sudah sejauh mana memperbaiki diriku?”

Waktunya mengevaluasi dan mengoreksi kehidupan sendiri, itu jauh lebih mulia daripada sibuk selalu ingin tahu hidup orang lain. Ghibah itu renyah, apalagi bila di telan mentah-mentah. Maka perbaiki diri sebelum terlambat.dan celaka di akhirat kelak karena bangkrut pahala amal kita.

Barangkali, di situlah awal berakhirnya KEPO-isme. Dan di situlah pula awal dimulainya kebijaksanaan.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten