Buku Adalah Jendela Dunia —Jangan Cuma Jadi Tirai : Membaca, Berpikir, dan Menolak Menjadi Manusia yang Hanya Tahu Judul.

Ada ungkapan klasik yang tak pernah benar-benar usang : “Buku adalah jendela dunia.” Masalahnya, di zaman sekarang, banyak orang memiliki jendela, tetapi malas membukanya. Lebih parah lagi, sebagian sibuk memotret jendelanya, mengunggahnya ke media sosial, lalu merasa sudah melihat dunia.

Padahal, memiliki buku tidak otomatis membuat seseorang berilmu. Membaca buku pun belum tentu membuat seseorang bijaksana. Yang membuat manusia tumbuh adalah membaca, memahami, mempertanyakan, lalu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.

Buku membawa kita pergi tanpa tiket. Kita bisa menyusuri peradaban Mesir tanpa naik pesawat, memahami revolusi tanpa berada di medan perang, mengenal teori Einstein tanpa harus menjadi fisikawan, dan belajar tentang kehidupan manusia lain tanpa harus mengalami semua penderitaannya sendiri. Itulah keajaiban membaca.

Buku Mengajarkan Dunia yang Tidak Kita Kenal

Dunia kita sering terlalu sempit karena pengalaman kita juga terbatas. Kita tinggal di satu kota, bergaul dengan kelompok tertentu, memiliki pengalaman hidup tertentu, lalu tanpa sadar menganggap dunia hanya sebesar lingkaran pergaulan kita.

Buku datang untuk membongkar kesombongan kecil itu. Melalui buku sejarah, kita belajar bahwa manusia pernah melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Melalui sains, kita belajar bahwa alam jauh lebih rumit daripada dugaan kita. Melalui sastra, kita belajar memahami perasaan manusia yang mungkin tidak pernah kita alami.

Membaca memperluas cakrawala karena ia memaksa kita bertemu dengan gagasan yang berbeda dari kepala kita sendiri. Dan di situlah pendidikan sesungguhnya dimulai.

Sebab orang yang hanya membaca sesuatu yang sesuai dengan pikirannya mungkin sedang mencari pembenaran, bukan pengetahuan.

Buku Bukan Sekadar Gudang Informasi

Otak manusia bukan hard disk yang tugasnya hanya menyimpan data. Pengetahuan tanpa pemikiran kritis bisa berubah menjadi hafalan. Hafalan tanpa pemahaman menjadi slogan. Slogan tanpa pengalaman menjadi kebisingan.

Karena itu, membaca seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang dikatakan buku ini?”. Tetapi berlanjut kepada: “Mengapa demikian?” “Apakah selalu benar?” “Apa buktinya?” “Apa hubungannya dengan kehidupan saya?”. Dan yang paling penting: “Apa yang harus saya lakukan setelah mengetahuinya?”.

Di sinilah membaca menjadi latihan intelektual. Membaca bukan sekadar aktivitas mata. Membaca adalah pekerjaan akal.

Ironi Zaman : Informasi Melimpah, Tetapi Pemahaman Menipis

Kita hidup di zaman yang luar biasa aneh. Dulu orang kesulitan mencari informasi. Sekarang informasi datang mengetuk pintu setiap detik.

Tetapi anehnya, semakin banyak informasi, tidak otomatis semakin banyak kebijaksanaan. Kita bisa menemukan jutaan artikel dalam beberapa detik, tetapi masih mudah percaya pada judul yang bahkan tidak dibaca sampai paragraf kedua.

Kita bisa memiliki ribuan “teman” di media sosial, tetapi belum tentu memiliki satu buku yang benar-benar mengubah cara berpikir. Kita bisa hafal kutipan orang terkenal, tetapi tidak memahami maknanya.

Zaman ini tidak kekurangan informasi. Yang langka adalah kemampuan memilah informasi. Maka membaca buku menjadi semakin penting, bukan semakin kuno.

Membaca Adalah Senam Otak

Tubuh perlu olahraga agar tidak kaku. Otak juga demikian. Membaca melatih konsentrasi, daya ingat, imajinasi, kemampuan memahami hubungan sebab-akibat, dan kemampuan melihat persoalan dari berbagai sudut.

Buku yang baik kadang membuat kita tidak nyaman. Ia bisa menggugat keyakinan kita. Ia bisa membuat kita menyadari bahwa pendapat yang selama ini kita anggap paling benar ternyata hanya salah satu sudut pandang.

Dan justru di situlah manfaatnya. Buku yang baik tidak selalu membuat kita merasa pintar. Kadang ia membuat kita sadar betapa banyak yang belum kita ketahui. Itulah tanda ilmu mulai bekerja.

Jendela Itu Harus Dibuka

Jendela tidak berguna kalau hanya dipandangi dari dalam. Demikian pula buku. Ilmu yang hanya disimpan di kepala tidak banyak mengubah dunia. Pengetahuan harus menjelma menjadi sikap, keputusan, karya, dan tindakan.

Kita membaca tentang kejujuran, lalu belajar jujur. Kita membaca tentang kemiskinan, lalu belajar memahami ketidakadilan. Kita membaca tentang alam, lalu belajar menjaganya. Kita membaca tentang manusia, lalu belajar menjadi lebih manusiawi.

Sebab tujuan akhir membaca bukanlah menjadi manusia yang paling banyak tahu, melainkan menjadi manusia yang lebih baik karena mengetahui lebih banyak.

Pada akhirnya, buku memang jendela dunia. Tetapi ada satu syarat penting : jendelanya harus dibuka.

Dan setelah dibuka, kita jangan hanya melihat pemandangan. Kita harus berani keluar, berjalan, berpikir, bertanya, dan mengalami kehidupan.

Sebab dunia tidak berubah hanya karena kita membaca tentangnya. Dunia berubah ketika pengetahuan yang kita baca mulai mengubah cara kita memandang, memilih, dan bertindak.

Jadi, kalau hari ini kita memiliki banyak buku tetapi sedikit membaca, mungkin persoalannya bukan kekurangan waktu. Bisa jadi kita terlalu sibuk membuka layar, sampai lupa bahwa ada jendela lain yang lebih tua, lebih sunyi, tetapi sering kali jauh lebih dalam : sebuah buku.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten