Ketika Dunia Dipaksa Hitam Putih: Perang Narasi, Seni Memecah Belah, dan Hilangnya Kursi Tengah

Di sebuah warung kopi, ada pemandangan yang menarik. Dua orang sedang berdebat sengit. Yang satu bersikeras kopi harus pahit agar terasa “tegas”. Yang lain berteriak bahwa kopi susu adalah puncak peradaban manusia. Anehnya, tak ada yang bertanya kepada si pemilik warung apakah tersedia kopi dengan gula secukupnya.

Begitulah kira-kira wajah perang narasi di media sosial. Kita seolah dipaksa memilih: kopi pahit atau kopi susu, hitam atau putih, kawan atau lawan. Padahal hidup ini lebih sering berwarna abu-abu, bahkan kadang bercorak batik. Perlu dicatat bahwa esai ini bukan dalam konteks “lemah” bersikap dalam menghadapi kemungkaran, melainkan seni dan strategi berjaga jaga dari upaya adu domba pihak pihak tertentu.

Karena yang hak dan batil itu sudah jelas di dalam ajaran agama Islam (lihat ” Kebenaran atau Kebatilan : Tidak Ada Wilayah Abu-Abu” – https://anyerglobe.com/2026/06/20/kebenaran-atau-kebatilan-tidak-ada-wilayah-abu-abu/ )

Yang kita sedang bahas ini adalah konteks hikmah dalam menyikapi perbedaan. Sebab kita tahu bahwa pergaulan sosial selalu penuh warna. Ada seni dalam menyikapinya, sehingga tercipta harmoni hidup berdampingan secara damai.

Perang narasi bukan lagi sekadar adu pendapat. Ia telah menjelma menjadi perlombaan siapa yang paling cepat menguasai emosi publik. Fakta sering datang belakangan, sedangkan kemarahan sudah lebih dahulu menjadi viral.

Yang lebih menarik lagi adalah hadirnya teknik yang oleh para psikolog disebut splitting. Dalam dunia psikologi, splitting adalah kecenderungan melihat segala sesuatu secara ekstrem: semuanya baik atau semuanya buruk. Di ruang digital, teknik ini berubah menjadi strategi komunikasi. Publik dibelah menjadi dua kubu yang saling memandang seolah hanya satu pihak yang membawa cahaya, sementara pihak lain dianggap sumber segala kegelapan.

Celakanya, kursi di tengah perlahan diangkat dari ruang diskusi. Orang yang berkata, “Mari kita lihat datanya dulu,” sering dicurigai sebagai pendukung lawan. Yang mengajak berpikir jernih justru dianggap tidak punya keberpihakan. Di era perang narasi, bersikap tenang kadang lebih mencurigakan daripada marah-marah.

Maka lahirlah sebuah zaman yang unik. Semakin keras seseorang mengetik dengan huruf kapital, semakin dianggap paling benar. Seolah tombol Caps Lock telah resmi diangkat menjadi profesor ilmu politik.Media sosial pun berubah menjadi stadion raksasa. Setiap hari ada pertandingan. Penontonnya miliaran, wasitnya algoritma, dan pialanya adalah jumlah likes, shares, serta komentar penuh emoji api.

Ironisnya, algoritma tidak mengenal mana informasi yang menyejukkan dan mana yang memanaskan kepala. Ia hanya mengenal satu bahasa: keterlibatan (engagement). Maka konten yang membuat orang marah sering kali mendapat panggung lebih besar dibandingkan konten yang mengajak berpikir.

Belum lagi hadir “pasukan bayangan” yang dikenal masyarakat sebagai buzzer atau akun palsu. Mereka bekerja serempak, menggiring percakapan hingga seolah-olah satu pendapat didukung oleh jutaan orang. Padahal bisa jadi yang berbicara hanyalah segelintir akun dengan foto profil hasil kecerdasan buatan, nama yang terdengar seperti tetangga, tetapi aktivitasnya lebih sibuk daripada operator pusat panggilan.

Kalau dulu orang takut rumahnya kemasukan maling, sekarang yang perlu diwaspadai adalah pikiran kita jangan sampai “kemasukan narasi” tanpa izin.

Satire paling lucu sebenarnya bukan terletak pada para buzzer, melainkan pada kita sendiri. Sering kali kita membagikan informasi hanya karena judulnya membuat emosi bergetar. Isi beritanya? Dibaca nanti. Kalau sempat.

Barangkali inilah satu-satunya zaman ketika jempol bergerak lebih cepat daripada akal.

Padahal, masyarakat yang sehat tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat. Ia dibangun oleh warga yang mampu berbeda tanpa saling membenci. Demokrasi bukanlah perlombaan mencari musuh, melainkan seni mengelola perbedaan. Jangan merasa paling dalam berpendapat, melainksn harus saling melengkapi.

Dalam tradisi Islam, sikap pertengahan (wasathiyah) justru dipuji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan…”(Q.S. Al-Baqarah: 143).

Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada sikap ekstrem, melainkan pada keseimbangan. Umat yang baik adalah umat yang mampu bersikap adil, kritis, proporsional, dan tidak mudah hanyut oleh gelombang emosi.

Karena itu, melawan perang narasi bukan berarti berhenti berbicara. Yang perlu dihentikan adalah kebiasaan menelan informasi mentah-mentah. Biasakan memeriksa sumber, membaca hingga selesai, membandingkan berbagai sudut pandang, lalu memberikan ruang bagi akal untuk bekerja sebelum jempol menekan tombol “bagikan”.

Mungkin dunia maya memang tidak akan pernah sepi dari pertarungan opini. Akan selalu ada pihak yang ingin membelah masyarakat menjadi dua kubu. Namun kita masih memiliki pilihan yang paling berharga: tidak ikut menjadi kayu bakar yang memperbesar api.

Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar berbicara. Yang masih langka adalah orang yang mampu mendengarkan.

Dan barangkali, di tengah riuhnya perang narasi, sikap paling revolusioner hari ini bukanlah berteriak lebih keras, melainkan berpikir lebih jernih.

Referensi

  1. Daniel Kahneman. Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux, 2011.
  2. Cass R. Sunstein. Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media. Princeton University Press, 2017.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten