Framing Opini Negatif di Media Sosial

Media sosial tidak selalu memperlihatkan kenyataan sebagaimana adanya. Sebuah peristiwa dapat dipilih bagian tertentu, dipotong dari konteksnya, diberi judul yang provokatif, lalu disusun menjadi cerita yang perlahan menggiring pembaca menuju kesimpulan tertentu. Kita merasa sedang melihat sebuah fakta, padahal mungkin yang sedang kita lihat hanyalah fakta yang sudah dipilih dan dibingkai. Inilah framing: cara menyajikan kenyataan melalui sudut pandang tertentu sehingga perhatian publik diarahkan pada bagian yang dianggap penting oleh pembuat narasi.

Framing menjadi jauh lebih problematis ketika digunakan untuk membangun opini negatif terhadap seseorang atau kelompok. Satu kesalahan dapat diulang berkali-kali hingga tampak sebagai karakter. Satu kalimat dapat dipisahkan dari percakapan panjang, kemudian diperlakukan seolah-olah itulah seluruh sikap seseorang. Sementara itu, kebaikan, prestasi, konteks, dan penjelasan yang tidak sesuai dengan narasi justru dibiarkan menghilang. Akhirnya, publik tidak lagi menilai manusia secara utuh, tetapi menilai potongan dirinya yang telah dipilih untuk ditampilkan.

Contohnya sederhana. Seseorang sedang berbicara dalam sebuah forum. Dalam rekaman lengkap, ia mengatakan, “Kita tidak boleh menyalahkan orang hanya karena hasil kerjanya belum sempurna. Kita perlu melihat proses dan memperbaikinya.” Tetapi seseorang mengambil potongan beberapa detik dan hanya menyebarkan bagian, “Kita tidak boleh menyalahkan orang.” Potongan itu kemudian diberi judul, “Tokoh Ini Membela Kesalahan.” Orang yang hanya melihat judul dan potongan video bisa membentuk kesan tertentu, padahal makna pernyataan dalam rekaman lengkap justru berbeda. Fakta tidak sepenuhnya dipalsukan, tetapi konteksnya dipersempit sehingga persepsi yang muncul berubah.

Contoh lain dapat terjadi pada sebuah foto. Seseorang tertangkap kamera sedang meninggalkan sebuah ruangan ketika orang lain sedang berbicara. Foto itu kemudian diberi keterangan, “Tidak menghargai pembicara.” Padahal dalam video lengkap, ia mungkin keluar karena menerima telepon penting, dipanggil panitia, atau memang acara telah selesai. Foto tersebut benar-benar menggambarkan momen yang terjadi, tetapi keterangan yang menyertainya memberikan makna tertentu kepada momen tersebut. Di sinilah kita perlu membedakan antara fakta tentang apa yang terlihat dan narasi tentang apa yang dianggap terjadi.

Media sosial menyediakan ruang yang sangat subur bagi pola semacam itu. Algoritma bekerja dengan perhatian, interaksi, dan keterlibatan pengguna. Konten yang membuat orang marah, tertawa, tersinggung, atau penasaran sering mendapatkan respons lebih cepat daripada penjelasan yang panjang dan tenang. Di ruang seperti ini, kontroversi dapat bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Sesuatu yang paling banyak dibicarakan akhirnya mudah dianggap sebagai sesuatu yang paling penting, bahkan seolah-olah paling benar.

Yang lebih ironis, framing tidak selalu berhasil karena pembuat narasi sangat hebat. Ia sering berhasil karena kita terlalu cepat mempercayainya. Kita membaca judul tanpa membuka isi. Melihat potongan video tanpa mencari rekaman utuh. Membaca komentar sebelum memahami peristiwa. Kemudian kita membagikannya kepada orang lain dengan keyakinan bahwa kita sedang menyebarkan informasi. Padahal tanpa sadar, kita mungkin hanya sedang meneruskan sebuah sudut pandang yang belum pernah kita periksa.

Di sinilah kedewasaan berpikir diuji. Ketika sebuah informasi membuat kita langsung marah, mungkin justru saat itulah kita perlu berhenti sejenak. Apa yang terjadi sebelum potongan itu? Apa yang terjadi sesudahnya? Apa yang sengaja tidak ditampilkan? Dari mana informasi itu berasal? Apakah ada sumber lain yang memberikan konteks berbeda? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu dapat menjadi rem sebelum emosi mengambil alih penilaian.

Sebab opini negatif yang terus diulang dapat berubah menjadi stigma. Stigma yang terus dipercaya dapat berubah menjadi persepsi umum. Dan persepsi umum yang tidak pernah diperiksa dapat membuat sesuatu yang keliru terasa seperti kebenaran. Di sinilah framing menjadi berbahaya: bukan karena ia selalu menciptakan kebohongan dari ketiadaan, tetapi karena ia dapat memilih sebagian kebenaran dan menyembunyikan bagian lainnya sehingga keseluruhan cerita berubah makna.

Pada akhirnya, persoalan framing bukan semata-mata persoalan teknologi, algoritma, atau media sosial. Ia juga merupakan persoalan etika manusia dalam memperlakukan informasi. Kita memiliki pilihan untuk menjadi sekadar konsumen opini atau menjadi pembaca yang kritis. Kita dapat ikut memperbesar suara yang sedang ramai, atau memilih memeriksa sebelum menyebarkan. Sebab setiap kali kita menekan tombol bagikan, kita bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi juga ikut menentukan narasi apa yang semakin kuat di ruang publik.

Karena itu, di tengah derasnya arus media sosial, kecerdasan bukan hanya kemampuan berbicara, melainkan kemampuan menahan diri sebelum percaya. Tidak semua yang viral adalah fakta yang utuh. Tidak semua yang membuat kita marah layak dipercaya. Dan tidak semua kesalahan orang lain harus dijadikan tontonan. Kadang-kadang, tindakan paling cerdas bukan ikut berbicara, melainkan berhenti sejenak dan bertanya: apakah saya sedang melihat kenyataan, atau hanya sedang melihat kenyataan yang sengaja dibingkai?

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten