Brain Rot: Ketika Jempol Rajin, Otak Malas

Ada manusia yang bangun tidur mencari ponsel sebelum mencari kesadaran. Mata belum sepenuhnya terbuka, tetapi jempol sudah bekerja lembur. Satu video berganti video lain, satu berita disusul berita berikutnya. Katanya hanya lima menit, tetapi lima menit berubah menjadi satu jam. Layar terus digulir meski tubuh sudah lelah dan mata mulai mengantuk. Informasi memang bertambah, tetapi tidak selalu pengetahuan yang bertambah. Yang sering bertambah justru emosi, distraksi, dan keinginan untuk terus melihat. Di sinilah istilah brain rot menjadi relevan sebagai metafora populer. Jempol begitu aktif, sementara otak justru semakin jarang diajak berpikir.

Brain rot bukan diagnosis medis resmi, melainkan istilah populer di era digital. Istilah ini menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi konten dangkal secara berlebihan. Konten pendek, repetitif, sensasional, dan serba cepat mudah memancing perhatian. Jika menjadi kebiasaan, kita dapat semakin terbiasa dengan rangsangan instan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang terasa lebih melelahkan. Membaca buku terasa berat, sementara menggulir video terasa sangat ringan. Masalahnya bukan semata-mata keberadaan teknologi atau media sosial. Masalahnya muncul ketika manusia menyerahkan kendali perhatian kepada algoritma. Kita merasa memilih konten, padahal perhatian kita terus diperebutkan.

Saudaranya yang tak kalah mengkhawatirkan adalah doomscrolling. Kita membaca satu berita buruk, kemudian mencari berita buruk berikutnya. Melihat konflik, lalu membuka komentar yang penuh kemarahan dan pertengkaran. Sudah tahu membuat stres, tetapi tangan tetap menggulir tanpa henti. Sudah tahu membuang waktu, kita masih berkata, “Satu video lagi.” Kalimat sederhana itu sering menjadi pintu menuju puluhan menit berikutnya. Kita merasa sedang mengikuti perkembangan dunia, padahal hanya mengikuti arus. Mengetahui banyak hal yang viral tidak otomatis membuat kita lebih berpengetahuan. Informasi yang banyak tanpa proses berpikir hanya menghasilkan kebisingan mental.

Karena itu, melawan brain rot tidak berarti memusuhi teknologi. Kita tidak perlu membuang ponsel, apalagi kembali hidup tanpa internet. Yang perlu dikembalikan adalah kendali manusia atas waktu dan perhatiannya. Batasi durasi layar dengan memanfaatkan fitur screen time pada perangkat. Kurangi aplikasi atau aktivitas digital yang paling sering mencuri perhatian. Jauhkan perangkat setidaknya satu jam sebelum tidur untuk memberi jeda mental. Alihkan perhatian kepada membaca, olahraga, hobi, atau interaksi sosial langsung. Sesekali biarkan diri merasa bosan tanpa harus mencari hiburan dari layar. Sebab dalam keheningan, otak memperoleh ruang untuk berpikir dan merenung.

Teknologi seharusnya memperbesar kemampuan manusia, bukan memperpendek perhatiannya. Kita hidup dalam zaman ketika informasi berada hampir di ujung jari. Namun kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman berpikir. Jangan sampai kita hafal ribuan konten viral tetapi gagal memahami satu persoalan. Jangan sampai jempol begitu terlatih menggulir sementara otak malas bertanya. Pertanyaan terpenting bukan berapa banyak konten yang sudah kita konsumsi. Pertanyaannya adalah apa yang tersisa setelah layar kita matikan. Apakah kita menjadi lebih tahu, lebih kritis, dan lebih bijaksana? Atau sekadar menjadi manusia yang semakin lama menggulir layar?

Referensi

  1. Cambridge Dictionary. Brain Rot.
  2. American Psychological Association. Social Media and Mental Health.
  3. U.S. Surgeon General. Social Media and Youth Mental Health.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten