Wong Edan Mangan Bledogan
Di kampung saya, ada ungkapan yang terdengar lucu sekaligus membuat orang yang mendengarnya refleks menoleh: “Wong edan mangan bledogan.” Kalau diterjemahkan secara harfiah, artinya orang gila makan petasan. Bayangkan saja. Orang normal saja biasanya menyalakan petasan dari jarak aman, ini malah dimakan. Entah ingin menjadi naga yang bisa menyemburkan api atau sedang mengikuti lomba ide paling tidak masuk akal sedunia.
Namun, seperti kebanyakan petuah rakyat, ungkapan ini bukan sedang membahas menu makan siang. Ia adalah sindiran sosial yang sangat tajam. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, ternyata cukup banyak orang yang “makan petasan”, meskipun tanpa mesiu dan tanpa sumbu.
Lihat saja di sekitar kita.
Ada yang gemar menyebarkan berita bohong tanpa membaca isi beritanya. Judul dibaca setengah, langsung dibagikan ke seratus grup. Ketika ditanya sumbernya, jawabannya santai, “Pokoknya viral.” Ini mirip orang yang menemukan petasan di jalan lalu mengira itu kerupuk udang.
Ada pula yang rela berutang demi terlihat kaya. Mobil dicicil, ponsel diganti tiap enam bulan, kopi harus yang paling mahal, sementara isi dompet lebih tipis daripada tisu restoran cepat saji. Ketika tagihan datang, wajahnya berubah seperti petasan yang basah kehujanan: tidak meledak, tetapi mengeluarkan asap kesedihan.
Yang lebih menarik lagi adalah mereka yang merasa dirinya paling benar. Nasihat tidak masuk, kritik dianggap iri, dan fakta dianggap gangguan terhadap keyakinan pribadi. Orang seperti ini biasanya berjalan dengan percaya diri menuju jurang sambil berkata, “Tenang, saya punya peta.” Sayangnya, peta itu ternyata gambar menu bakso.
Di ranah yang lebih luas, ungkapan wong edan mangan bledogan juga cocok untuk menggambarkan keserakahan. Ketika seseorang mengambil hak orang lain tanpa memikirkan akibatnya, ketika keuntungan pribadi menjadi tujuan utama, dan ketika akal sehat dikorbankan demi nafsu sesaat, sesungguhnya ia sedang mengunyah petasan kehidupannya sendiri. Mungkin belum meledak hari ini, tetapi sumbunya sudah menyala.
Ironisnya, manusia modern sering kali bangga melakukan hal-hal yang dulu dianggap tidak masuk akal. Kurang tidur dianggap produktif. Sibuk dianggap sukses. Marah dianggap tegas. Pamer dianggap prestasi. Padahal belum tentu. Kadang yang terjadi justru sebaliknya: kita sedang berlari kencang menuju tempat yang salah.
Kearifan lokal leluhur ternyata jauh lebih cerdas daripada yang kita kira. Dengan kalimat sederhana, mereka mengingatkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan layak dilakukan. Tidak semua yang menguntungkan hari ini akan baik untuk esok hari. Dan tidak semua yang ramai diikuti banyak orang merupakan jalan yang benar.
Karena itu, sebelum bertindak, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah keputusan ini lahir dari akal sehat atau hanya dari dorongan sesaat? Apakah langkah ini membawa manfaat atau justru seperti menggigit petasan yang siap meledak di mulut sendiri?
Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling berani menelan risiko tanpa berpikir. Hidup adalah seni menggunakan akal sehat, menjaga nurani, dan memahami batas antara keberanian dan kebodohan.
Jangan sampai suatu hari nanti sejarah menulis tentang kita dengan kalimat sederhana namun memalukan:
“Dia bukan makan petasan sungguhan. Tapi hidupnya meledak karena terlalu sering bertindak seperti wong edan mangan bledogan.”
Dalam pergaulan, orang daerah kadang menggunakan humor dan satire sebagai cermin sosial, terdengar kasar namun lucu, dan inti pesannya tetap sederhana: akal sehat adalah perlengkapan keselamatan paling murah dan paling sering dilupakan manusia.. Barakallahu fikum ! *
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

