Ketika “Ngelumbuk” Menjadi Ideologi Bangsa

Di tanah Banten, ada satu istilah yang tampaknya sederhana, tetapi diam-diam menyimpan kedalaman filosofis yang mungkin sulit disaingi buku-buku motivasi setebal batu bata. Istilah itu adalah: ngelumbuk.

Bagi mereka yang belum akrab dengan bahasa pergaulan Banten atau Jaseng, ngelumbuk berarti bermalas-malasan, rebahan, duduk diam, atau berdiam diri di rumah tanpa aktivitas yang jelas manfaatnya. Singkatnya, tubuh hadir, napas berjalan, tetapi semangat bekerja sedang mengambil cuti panjang.

Pada mulanya, ngelumbuk hanyalah sebuah kata.

Lama-kelamaan, ia berubah menjadi kebiasaan.

Lalu naik pangkat menjadi gaya hidup.

Dan jangan-jangan, pada tahap tertentu, telah menjelma menjadi sebuah ideologi.

Kita mengenal berbagai aliran besar dunia: kapitalisme, sosialisme, liberalisme, hingga pragmatisme. Namun, diam-diam tumbuh satu mazhab baru yang pengikutnya sangat banyak—lintas profesi, lintas generasi, bahkan lintas status sosial—yakni ngelumbukisme.

Pengikutnya mudah dikenali.

Bangun tidur.

Meraih telepon genggam.

Menggeser layar.

Menonton video.

Menggeser lagi.

Tertawa.

Membaca komentar.

Ikut berkomentar.

Tanpa terasa, azan Zuhur berkumandang.

Belum mandi.

Lalu kembali rebahan.

Ketika ditanya, “Sedang apa?”

Jawabannya terdengar sangat filosofis.

“Lagi santai.”

Tentu saja, bersantai bukanlah kesalahan. Tubuh membutuhkan istirahat. Pikiran memerlukan jeda. Bahkan produktivitas pun memerlukan keseimbangan agar tidak berubah menjadi kelelahan yang berkepanjangan.

Masalah muncul ketika santai bukan lagi jeda setelah bekerja, melainkan berubah menjadi identitas.

Lebih jauh lagi, ketika rasa nyaman dijadikan tujuan hidup.

Ironisnya, kita hidup pada zaman yang sangat kompetitif. Di berbagai tempat, orang berlomba memperbaiki diri. Ada yang mempelajari keterampilan baru, membangun usaha, membaca buku, menulis karya, mengikuti pelatihan, bahkan memanfaatkan sebidang tanah sempit untuk menambah penghasilan.

Sementara itu, sebagian lainnya sedang memperjuangkan hak konstitusional untuk tidak diganggu ketika ngelumbuk.

Satire ini tentu bukan untuk mengejek mereka yang sedang beristirahat. Manusia bukan mesin yang harus bekerja tanpa henti. Kita berhak lelah. Kita boleh menikmati secangkir kopi sambil memandangi hujan dari balik jendela.

Namun, jeda akan kehilangan maknanya apabila tidak pernah diakhiri dengan langkah berikutnya.

Sejarah peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang menunggu inspirasi datang sambil menggulir layar tanpa henti.

Jembatan dibangun oleh tangan yang bekerja.

Buku lahir dari ketekunan.

Ilmu ditemukan oleh rasa ingin tahu.

Perubahan selalu dimulai oleh mereka yang memilih bergerak, bahkan ketika rasa malas mengajaknya berunding.

Sesungguhnya, setiap manusia hidup bersama dua suara yang saling bersaing.

Suara pertama berkata, “Bangun. Masih ada mimpi yang harus diperjuangkan.”

Suara kedua berbisik lebih lembut, lebih nyaman, dan sering kali lebih meyakinkan.

“Lima menit lagi rebahnya…”

Masalahnya, lima menit versi rasa malas sering kali memiliki kemampuan ajaib: berubah menjadi dua jam tanpa pemberitahuan.

Kita boleh ngelumbuk sesekali. Bahkan mungkin itulah cara tubuh menyelamatkan diri dari kelelahan. Akan tetapi, jangan sampai hidup habis hanya untuk menunggu hari esok yang tidak pernah benar-benar dimulai.

Sebab mimpi tidak mengetuk pintu rumah hanya karena kita ahli rebahan.

Kesempatan tidak datang karena kita juara mengganti posisi tidur.

Masa depan tidak dibangun oleh kalimat yang paling populer di negeri ini:

“Besok saja.”

Karena sesungguhnya, kata “besok” adalah tempat paling nyaman bagi mimpi-mimpi yang gagal menjadi kenyataan.

Maka, jika hari ini Anda sedang ngelumbuk, nikmatilah sebentar sebagai jeda.

Setelah itu, bangkitlah.

Rapikan kasur.

Buka jendela.

Hirup udara pagi.

Susun rencana.

Lalu kerjakan satu hal kecil yang bisa diselesaikan hari ini.

Tidak perlu langsung mengubah dunia.

Cukup mulai bergerak.

Sebab dunia tidak membutuhkan manusia yang hanya sibuk terlihat sibuk, apalagi sibuk mempertahankan kemalasan sebagai gaya hidup. Dunia membutuhkan orang-orang biasa yang bersedia melangkah, meski perlahan.

Pada akhirnya, rebahan hanyalah tempat beristirahat, bukan tempat menetap.

Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dalam penundaan yang tak berujung.

Dan mungkin, pertanyaan paling berat dalam sejarah umat manusia bukanlah tentang makna kehidupan, melainkan satu kalimat sederhana yang terus menghantui setiap pagi. Karena sesungguhnya, kata ‘besok’ adalah tempat paling nyaman bagi mimpi-mimpi yang gagal menjadi kenyataan,

“Mau bangun sekarang… atau habis satu video lagi?”

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten