Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (7): Berputar Haluan

Tryana Sjam'un, berkongsi dengan kelompok usaha Bakrie.

Lepas dari Bank Duta, Tryana diajak kongsi oleh Go Swie Kie, pemilik Gunung Sewu, yang juga dikenal sebagai rekanan Bulog. Ada dua hal yang dimanfaatkan oleh Go Swie Kie dari seorang Tryana: profesionalismenya dan kedudukannya selaku pribumi. Yang disebut terakhir ini memang lebih politis sifatnya. Banyak perusahaan yang didirikan Tryana dengan Go Swie Kie, di antaranya pabrik pengolahan nanas di Lampung, pabrik karung  goni,  peternakan ayam di Legok, Tangerang, pabrik keramik, perusahaan leasing dan sebagainya.

Posisi Tryana di perusahaan-perusahaan yang dibangunnya bersama Go Swie Kie, selain sebagai profesional adalah pemegang saham. Kurang lebih 15 perusahaan yang mereka dirikan waktu itu. “Di setiap perusahaan itu saya diberi saham oleh dia. Tentu saja, saya tidak ikut menyetor saham. Tapi diberi saham, karena waktu keluar dari Bank Duta, saya bukan orang kaya. Cuma berbekal tekad that I want to be somebody. Dan kalau masih di bank duta terus, saya tidak mungkin mewujudkan keinginan saya itu,” kata Tryana. Posisi yang diduduki Tryana kala itu adalah Direktur Utama PT Cibadak Indah Sari Farm, Dirut PT Indo Ayala Leasing Corp., Dirut PT Indokeramik Inti Widya, Managing Director PT Great Giant Pineapple, dan Dirut PT Triesna Agung Pratama Leasing Corp.

Tryana Sjam’un saat menjadi Direktur Lippo Group tahun 1987. (Foto: Majalah Tempo)

Semasa berkongsi dengan Go Swie Kie, Tryana mendirikan dan sekaligus menjadi Ketua Umum Asosiasi Leasing/Lembaga Keuangan Indonesia. Selain itu, ia menjadi Wakil Ketua Asosiasi Leasing Asia-Pasifik.

Kurang lebih lima tahun Tryana berkongsi dengan salah satu konglomerat terbesar Indonesia itu. Selanjutnya, ia  mendapat penugasan dari pemerintah untuk mengelola Bank Angkasa, milik Angkatan Udara. Tryana pun menjual seluruh sahamnya di perusahaan-perusahaan tadi kepada Go Swie Kie.

Dalam perjalanannya kemudian, Tryana berkongsi antara lain  dengan Ismet Tahir, Oka Masagung, dan yang terpenting dengan keluarga Bakrie. Sampai kemudian datang krisis ekonomi tahun 1997-1998, yang juga ikut menghancurkan bisnis Tryana. Pada masa-masa “tiarap” inilah, tahun 2000, Tryana diminta menjadi Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten. “Anehnya, ada saja rezeki untuk keperluan pembentukan provinsi tersebut,” ujar Tryana. Selain  tenaga dan pikiran, perjuangan untuk membentuk Provinsi Banten, memang memerlukan dana tidak sedikit, yang diperoleh dari hasil iuran tema-temannya. Dan tentu saja terutama dari kocek Tryana sendiri.

Setelah ia menjadi praktisi dunia usaha, pergaulan intelektual Tryana pun semakin luas,. Hal ini tidak lepas dari karakternya yang pembelajar dan selalu berusaha untuk menambah pergaulan dan persahabatan. Di antara tokoh-tokoh intelektual dan ilmuwan serta teknokrat yang cukup banyak memberikan pengaruh dalam memperluas ilmu dan cakrawala pemikirannya antara lain: Marzuki Usman, Bambang Subianto, Iwan R. Prawiranata, Oskar Surjaatmadja, Nasruddin Sumintapura, J.B. Sumarlin, Ali Wardhana, Subroto, Sritua Arief, dan lain sebagainya. Dalam berbagai kesempatan berdialog dan berdiskusi dengan para teknokrat, ilmuwan dan para akademisi tersebut, terkait masalah yang dihadapi pengusaha di negara kita khususnya, dan kondisi perekonomian nasional pada umumnya, serta ketatnya kompetisi usaha dalam perspektif persaingan global, Tryana merasa memperoleh ilmu, pencerahan pemikiran, di samping kesabaran.

Pada episode “belajar berdagang” itu pula Tryana didaulat teman-temannya menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi dan Kerja Sama  Usahawan Serantau (Fokus). Dalam rangka menghadapi tantangan regional dan global, Tryana memang menyarankan perlunya pengusaha pribumi menjalin kemitraan dengan rekan-rekan mereka di negara-negara lain, terutama di kawasan ASEAN seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Di antara anggota Fokus dari Indonesia  waktu itu adalah Rachmat Gobel, pengusaha elektronik yang sekarang jadi politisi, Chaerul Tanjung, Chairman CT Corp. yang pernah jadi menterinya Presiden Yudhoyono, Ismet Tahir, pengusaha yang juga aktivis Partai Golkar. Kerja sama di antara anggota Fokus ini dapat dijalin di pelbagai sektor usaha, melalui bentuk usaha patungan, production sharing, dan sejenisnya. Tryana sendiri waktu itu sempat menjalin kerja sama dengan pengusaha dari Johor, Malaysia.

Menurut Tryana, kerja sama antarpribumi Muslim di kawasan Asia Tenggara  merupakan sebuah keharusan. Sebab, tantangan para pengusaha di negeri-negeri ini sama. Yakni ketertinggalan puak pribumi (Muslim), selain tantangan regional dan global. Dengan gerakan kemitraan, kata Tryana, diharapkan terjalin kebersamaan  dan akumulasi kekuatan usaha antara sesama perusahaan serantau. Dalam konteks ini pula, perusahaan kecil dan menengah (UMKM) dapat bermitra secara komersial dengan perusahaan-perusahaan besar. “Melalui kemitraan yang tulus, adanya saling ketergantungan, saling membutuhkan dan saling menguntungkan, maka perusahaan kecil dan menengah dapat meningkatkan efisiensi. Dengan kemitraan, semua perusahaan skala besar, menengah dan kecil dapat mengonsentrasikan diri dalam core bisnis masing-masing. Saya yakin, kemitraan akan bermanfaat bagi semua pihak terkait, sehingga tercipta kondisi saling tergantung, saling memanfaatkan dan saling menguntungkan,” ungkap Tryana. Bersambung:  Tryana Sjam’un dan Banten