Mengenang 100 Wafatnya Hari Tryana Sjam’un (6): Menjadi Bankir Profesional

Tryana Sjam’un adalah orang bank. Bankir kelahiran Banten ini mengawali kariernya di dunia perbankan mulai dari juru tulis sampai direktur utama dan komisaris utama. Berbagai bank juga pernah disinggahinya. Dari bank “pelat merah”, bank asing, sampai bank swasta nasional. Selain malang melintang di perbankan, ia juga  bergiat di lembaga keuangan nonbank. Yaitu lembaga pembiayaan atau leasing. Bahkan ia sempat didapuk jadi Wakil Ketua Asosiasi Leasing Asia-Pasifik.

Bankir profesional yang pernah masuk deretan pembayar pajak terbesar di Jakarta ini, sejak beberapa tahun lalu telah bertransformasi menjadi seorang saudagar. Ia sendiri lebih suka menyebut dirinya  orang  yang sedang “belajar” berdagang. Area bisnis dan kongsinya, tidak hanya di dalam negeri  tetapi juga di mancanegara. Ia bergerak baik di sektor riil maupun bidang keahlian dan pengalaman yang dulu digelutinya itu – finance. “Saya akui, saya memang sering tidak menekuni satu bidang saja. Saya pikir ini penting. Karena saya harus punya opportunity lain. Jadi, saya tidak puas dengan hanya satu bidang karena ada usaha lain yang bisa dikembangkan,” kata ex-Citibanker itu.  Ini  sebutan bankir profesional yang  pernah bekerja di bank  terkemuka dari  Amerika Serikat itu.

Tryana Sjam’un memang pernah beberapa tahun bekerja di Citibank. Dan dari sinilah kariernya sebagai bankir profesional mulai mencelat. Dengan kata lain, Citibank adalah pintu yang membukakan Tryana untuk berkarier di dunia perbankan sehingga ia menjadi salah satu bankir top yang diperhitungkan di Tanah Air.

Syahdan, tahun 1975 Citibank membuka lowongan untuk oara pemuda Indonesia, untuk dijadikan trainee. Tryana pun mendaftar dan diterima menjadi EDP (Executive Depelopment Program) trainee.. Dia memang punya modal  Bahasa Ingris yang lumayan, karena pernah dikursuskan oleh BPEN. Di sinilah Tryana banyak belajar mengenai berbagai seluk beluk perbankan, mengembangkan sikap profesionalisme, dandilatih kepemimpinan.

Sering dikatakan, bahwa pengalaman bekerja Citibank merupakan modal penting bagi karier seseorang di masa yang akan datang. Banyak di antara ex-Citibanker yang kemudian menanjak karirnya. Ada yang menjadi CEO andal, menjadi pengusaha sukses, bahkan perdana menteri seperti di Pakistan. Seperti diungkapkan Gita l. Wiryawan, CEO JP Morgan Indonesia Securities [pernah menjabat Menteri Perdagangan dalam Kabinaet Indonesia Bersatu II  setelah sebelumnya menjabat Kepala BKPM], yang pernah menjadi kepala cabang  Citibank di Landmark, Jakarta, memang cukup fair bila disebut bahwa orang dari Citibank banyak yang menanjak karirnya. “Masuk Citibank kan tidak gampang, mereka yang diterima di Citibank adalah orang yang kualifikasinya baik, paling tidak catatan akademisnya tidak mengecewakan,” katanya. (Majalah CEO, Agustus 2005). Hanya saja, dia segera mengingatkan, selain banyak yang sukses, ada juga orang Citibank yang lemah moralnya dan masuk penjara.

Tryana sendiri mengakui, bahwa setelah bekerja di Citibank-lah kondisi ekonominya mulai ada perbaikan. Walaupun,  waktu itu dia masih bergelantungan naik bus kota pulang pergi kantor. Karena Citibank mewajibkan para memakai dasi, sementara Tryana merasa risi pakai dasi di bus kota, pengikat leher itu baru dipakainya di kamar mandi setelah tiba di kantor.

Setelah menjadi trainee di Citibank, Tryana pindah ke American Express Bank, sebelum akhirnya ke Bank Duta. Di Bank yang sekarang sudah melebur ke Bank Danamon ini, Tryana bekerja samapai tahun 1981. Jabatan terakhirnya direktur eksekutif. Bosan menjadi orang gajian, Tryana mengundurkan diri dari Bank Duta. Banyak yang merasa kaget, termasuk komisaris utamanya Bustanil Arifin, yang waktu itu menjabat kepala Bulog. Bersambung: Berputar Haluan