Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (5): Istri adalah Jimat

Pada masa-masa bekerja di Bank BNI  itu, Tryana mulai berkenalan dengan Asiah (Iah), putri Haji  Burhan dari Gunung Buntung, Padarincang. Yang mengenalkannya adalah sepupunya sendiri, Jabir, putra Haji Hanafi. Iah adalah teman sekelas Jabir di Akademi Ilmu  Administrasi (AIA) di Serang. Sewaktu ke Jakarta, Jabir mempromosikan sedemikian rupa teman kuliahnya itu, sehingga Tryana terkesan dan dibuat segera ingin bertemu. Rupanya Tryana juga sudah “diiklankan” kepada Iah dan keluarganya: pegawai BNI di Jakarta, calon sarjana, tokoh Gasbiindo, dari keluarga terkemuka di Pandeglang.

Mereka akhirnya menikah pada Maret 1970. Untuk menyumbang biaya pesta perkawinannya di Serang, Tryana meminjam Rp30.000 ke kantornya. Ia pun memboyong istrinya ke Jakarta, mengontrak rumah di daerah Matraman Dalam. Kecuali ranjang keroh dan tikar, ia tidak punya perabotan lain. Pakaian pun hanya dibungkus kain panjang. Alat-alat dapur pun hanya bisa ditumpuk karena tidak ada rak.

TS, istri dan para cucu

Dari perkawinannya dengan Hajjah Asiah, Tryana mereka dikaruniai lima anak: Mulki Taufal, Fardhi Taqin, Ferick Maliki, Fitria Anugeraheni, Fitranti Tresnayani.Menurut Tryana, istrinya adalah tipe manusia yang sabar, hormat pada suami, dan tekun dalam beribadah. “She never encourage me to be somebody. Atau memberi pandangan tentang masa depan atau karier saya. Dia hanya senyum saja, kalau saya bicara bahwa punya rencana atau menginginkan ini dan itu.” Meski begitu, Tryana merasa sangat beruntung punya istri seperti Asiah. “Kalau tidak karena dia, mungkin saya tidak jadi seperti sekarang. Dukungannya kepada cita-cita saya, mungkin hanya dituangkan dalam doa, bukan kata-kata.”

 

TS dapat kejutan ultah dari istrinya, Asiah Burhan

Alhasil, bagi Tryana, istrinya adalah jimat, yang denganya ia merasa aman dan tenteram. “Kesabarannya dalam menghadapi tingkah laku suami seperti saya, patut dipuji.

Ingin Seperti Tryana  ““      

Suatu ketika, seorang sarjana yang baru lulus bertandang ke rumah Tryana Sjam’un di Kemang, Jakarta Selatan. Dia mengaku berasal dari Banten, dan sedang mencari pekerjaan. Siapa tahu Tryana yang sudah dianggap jejegud ini bisa membantu. Syukur-syukur bisa diterima di perusahaannya.

Seperti biasa Tryana amat antusias kalau ada orang Banten yang berhasil jadi sarjana. Siapa tahu dia bisa berkembang, dan suatu saat bisa jadi bohir  pula di Jakarta. Ya, apes-apesnya jadi direktur, kalau bukan CEO. Dan dalam bayangan Tryana, sarjana kita yang satu ini sudah menyatakan dirinya siap bersaing bersama calon profesional muda lainnya, dan akan bekerja keras demi mencapai cita-citanya. Bukankah dia sudah menunjukkan dengan keberhasilannya menjadi sarjana?

`Omong punya omong, si anak muda pun buka suara. “Kula geh hayang siga (saya juga kepingin seperti) Kak Haji. Punya mobil bagus. Tinggal clak di jok karena sudah ada yang nyopirin. Punya rumah bagus, dan istri yang cantik pula. Pokoknya hidup enaklah seperti Kak Haji sekarang,” kata sarjana bru kita itu.

Tryana yang semula antusias, mengaku  mendadak turun selera bicaranya setelah mendengar kata pengantar tersebut. Bukannya kurang menghargai  mimpi hidup enak si anak muda. Melainkan, cara pandangnya dalam mengukur keberhasilan seseorang, yang ia simbolkan dalam kepemilikan benda-benda. Dianggapnya Tryana adalah orang yang berhasil, karena dia punya rumah dan mobil  yang bagus dan istri yang cantik dan seterusnya.

“Tidak salah sih, teu parigel bae (hanya kurang elok), baru selesai sarjana sudah pengen hidup enak”, ujar Tryana. Si anak muda lupa,  bahwa benda-benda yang disebutkan itu tidak berwujud begitu  saja. Dia lupa bahwa benda-benda itu sebenarnya  tidak begitu relevan dengan kenyataan hidup yang akan dan sedang dihadapinya. Yakni, bagaimana dia tidak lekas menyerah ketika berjuang memperbaiki nasib. Bukankah  benda-benda itu hanya  by product dari performa usaha seseorang, yang di dalamnya melibatkan kerja keras dan perwujudan kehendak melakukan yang terbaik?

Perjalanan hidup Tryana sendiri tidaklah mulus, kalau tidak dikatakan penuh liku. Orang bilang, samapai berdarah-darah. Seperti yang sudah disinggung, untuk mengongkosi kuliahnya dia harus bekerja, dan naik sepeda untuk ngirit biaya. Demikian juga dalam perjalanan kariernya.

Syahdan,  merasa tidak puas sebagai klerek di BNI 1946, Tryana menerima tawaran Boy Kuncoro-Jakti, bekerja di sebuah kantor perdagangan yang baru didirikan oleh Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo. Tapi, tak lama kemudian Pak Mitro beralih tugas menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Tryana tak sempat bekerja di sana, karena dia dianggap orangnya Soemitro.

TS dapat kejutan ultah dari istrinya, Asiah Burhan

Akhirnya Tryana bekerja di Badan Pengembangan Ekspor Nasional, yang waktu itu dipimpin Atmono Surjo. Pekerjaannya antara lain memberikan pelatihan kepada para pengusaha dan calon/eksportir di berbagai daerah. .Bagi Tryana sendiri,  Atmono Surjo lebih dari sekadar atasan. Dia adalah pendorong dan pemberi semangat  yang senantiasa mengingatkan Tryana supaya terus belajar agar menjadi orang yang pintar. Dia pernah mengatakan kepada Tryana, ibarat  mobil mainan yang mesti dikencangkan terlebih dulu pegasnya supaya kencang larinya, dia merasa perlu sedikit waktu untuk mengembangkan potensi dan kemampuan Tryana. Maka, tidak heran ketika Tryana berpamitan kepada Atmono Surjo untuk meninggalkan BPEN karena diterima bekerja di tempat lain, dia agak setengah menahan karena merasa belum cukup untuk mengencangkan “pegas” Tryana.

Salah satu pengalaman yang berkesan sampai sekarang adalah ketika Atmono Surjo mengajak Tryana mengunjungi pengusaha Achmad Bakrie di kantornya di Jalan Asemka,  Jakarta Kota. Di tengah perbincangan, Achmad Bakrie rupanya melihat putranya Aburizal (Ical) seraya memanggil: “Ical, ke sini. Perkenalkan ini Tryana dari BPEN.” Achmad Bakrie  memperkenalkan Ical dengan Tryana mungkin karena mereka sepantaran. Tetapi, Achmad Bakrie, seorang pengusaha besar yang baru mengenal Tryana pada waktu itu dan kemudian menyebut namanya ketika diperkenalkan kepada putranya, amat menyentak kesadarannya. Pertemuan itu telah memberinya sebuah hikmah: manusia harus respek dan ramah (friendly)  terhadap sesamanya, terlepas dari status sosial yang dimilikinya. 

`Dalam melaksanakan kegiatannya BPEN banyak menjalin kerja sama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Manajemen  Unversitas Indonesia (LPEM-UI), di antaranya dalam merumuskan skema pembiayaan ekspor (export financing scheme).  Selama bekerja di BPEN inilah Tryana  banyak berhubungan,  bergaul dan bertukar pikiran  dengan kalangan ekonom atau akademisi UI seperti  Suhadi Mangkusuwondo, Bakir Hasan, Arsyad Anwar. Kepada mereka inilah, Tryana mengaku banyak belajar. Sebagai akademisi, mereka sangat terlatih dalam penguasaan teori-teori ekonomi, manajemen dan perdagangan internasional. Di LPEM-UI pula Tryana, atas biaya UNDP,   berkesempatan untuk memahirkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Kegiatan BPEN memang banyak dibantu oleh lembaga PBB yang bergerak di bidang program pembangunan itu. Sebagai counterpart UNDP, BPEN sering menugaskan Tryana untuk mendampingi staf UNDP yang umumnya asing Bersambung: Menjadi Bankir Profesioal