Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (8): Menolak Menjadi Gubernur Banten

Sejarah kontemporer Banten telah mencatat bahwa Tryana Sjam’un merupakan salah seorang aktor penting yang mengantarkan eks Keresidenan Banten menjadi provinsi, terpisah dari Jawa Barat. Dalam  sebuah rapat yang dihadiri para tokoh Banten pada 4 Februari 2000, ia secara aklamasi diangkat sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten (Bakor PPB). Organisasi ini dibentuk untuk mewadahi berbagai kelompok masyarakat yang berjuang sendiri-sendiri, dan tak jarang saling bertikai, meski mereka sama-sama ingin mewujudkan Banten sebagai provinsi. Terbukti kemudian Bakor PPB berjalan cukup efektif, dan tokoh-tokoh yang semula saling bertikai merasa terakomodasi dalam wadah baru itu.

Lalu momen yang ditunggu itu pun tiba pada 4 Oktober 2000. Tryana berada di antara ribuan warga Banten yang memenuhi pelataran Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, untuk menyaksikan secara langsung apa yang akan diputuskan oleh Sidang Paripurna DPR. Sejarah akhirnya mencatat, akhirnya Banten menjadi provinsi. Mereka bersorak seraya bertakbir. Alhamdulillah… Allahu Akbar.  Satu  momen penting dan indah  dari sebuah episode sejarah Banten di zaman Indonesia merdeka. 

Dalam acara syukuran masyarakat Banten atas terbentuknya povinsi baru itu pada 20 Oktober 2000 di Serang, Tryana mengatakan, “Siapa pun gubernur Banten nanti, ia harus berhadapan dengan musuh bebuyutan kita.”

Tryana Sjam’un mengucapkan kata-kata itu Pada acara itu ia berbicara dalam kapasitas ketua umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten. Waktu itu Banten memang telah resmi menjadi provinsi. Gubernur bisa siapa saja, tapi yang disebut Tryana musuh itu sudah pasti sosoknya karena sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Namanya juga musuh bebuyutan. Tak heran jika dalam teks pidatonya musuh utama masyarakat Banten itu dicetak dalam huruf tebal (bold) dan diberi garis bawah (under-line): kemiskinan dan kebodohan.

Tryana Sjam’un menyampaikan pidato Hari Jadi Provinsi Banten 4 Oktober 2025. Penampilan terakhir TS di muka publik.

Bisa dimaklumi Tryana tampak bicara keras pada acara syukuran itu. Dia menegaskan, “Di bumi Banten yang kita cintai ini, sudah tidak ada lagi tempat bagi mereka yang akan mengkhianati perjuangan kita, mengkhianati jiwa dan raga masyarakat kita. Di Banten sudah tidak ada lagi tempat bagi badut-badut politik, yang berpura-pura berorientasi kepentingan masyarakat, tetapi hati dan jiwanya serta tindakannya menyakiti dan menyengsarakan rakyat banyak, hanya demi seonggok uang dan kepentingan sesaat.”

Harus diakui, dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di provinsi Jawa Barat, tingkat pendapatan dan pendidikan rata-rata penduduk Banten relatif rendah. Menurut Tryana, kondisi ini tidak lepas dari faktor kepemimpinan pemerintah provinsi Jawa Barat sendiri. “Mereka kurang menaruh perhatian, dan seakan menganaktirikan Banten.” Karena itu, meski dicibir sementara kalangan, bagi Tryana, menjadikan Banten sebagai provinsi sudah menjadi semacam keharusan. Meski begitu, kata dia, Provinsi Banten hanya merupakan sarana institusional untuk mencapai cita-cita yang sebenarnya — kesejahteraan masyarakat.

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, barangkali itulah bahasa agamanya untuk Banten yang kita impikan. Yakni, sebuah negeri yang sejahtera dan mendapat pengampunan dari Allah Swt.,” kata Tryana pada acara pembubaran diri Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, 26 Februari 2001, di Tangerang.

Dalam satu wawancara dengan majalah Panji Masyarakat, dia menegaskan,  “Saya akan merasa sangat tersinggung sekali bila pemimpin di Banten tidak memikirkan kesulitan masyarakat dan hanya mementingkan dirinya, keluarganya, golongannya, dan partainya sendiri.”

Kiprah Tryana sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten tak urung membawanya ke puncak ketenaran di Banten. Maka, jadilah dia figur yang diharapkan dapat memimpin Banten. Berbagai kelompok masyarakat, organisasi politik maupun organisasi massa datang menemuinya untuk meminta kesediaannya menjadi calon gubernur. Tapi, pada hari terakhir pembukaan pencalonan, 26 September 2001, Tryana membuat semacam maklumat:

Perkenalkanlah dalam kesempatan ini, kami menghaturkan permohonan maaf dan sekaligus juga ucapan terima kasih atas saran dan dorongan Anda agar kami menjadi calon gubernur Banten.

Saudaraku, setelah kami renungkan dan pikirkan dalam-dalam serta diskusi yang intens dengan keluarga kami, kami memutuskan untuk tidak bersedia dicalonkan menjadi gubernur Banten.

Alasan utama ketidaksediaan kami tersebut tiada lain, karena melayani dan meningkatkan kesejahteraan baik rohani maupun jasmani dari seluruh masyarakat Banten.

Kami sadari, bahwa mungkin beberapa orang dan bahkan mungkin puluhan orang akan kecewa dengan keputusan kami ini, namun kami harus sadar pula, bahwa nanti mungkin ada pula ribuan dan bahkan jutaan penduduk Banten akan kecewa, manakala kami tidak mampu melakukan tugas kami sebagai gubernur Banten, yang pada hakikatnya merupakan pelayan, pengayom dan pemersatu masyarakat Banten.

Saudaraku, Anda telah banyak memberikan dorongan moril kepada kami sekeluarga. Untuk semua yang kami uraikan di atas, hanya permohonan maaf dan ucapan terima kasih yang dapat kami utarakan, kita tetap akan bersaudara dengan landasan ketulusan dan keikhlasan. Semoga Allah SWT akan tetap melindungi kita. Amin! 

Tryana Sjam’un dan penulis di Perpustakaan Saija-Adinda, Rangkasbitung, Lebak.

Boleh dibilang, saya termasuk yang paling bersemangat agar Tryana Sjam’un masuk ke dalam arena pencalonan. Sebab ini kesempatan baginya untuk merealisasikan apa yang sering dia katakan berulang-ulang tentang keniscayaan “mengubah dari dalam” – dan itu hanya bisa dilakukan orang yang memiliki otoritas. Lagi pula, kata orang, bukankah politik itu sebuah momentum; dan  kesempatan hanya datang sekali?    Meskipun dia menyatakan bisa menerima argumen saya, dasar memang tidak berminat, banyaklah alasan yang dicari-cari, yang terus terang sebagiannya, menurut hemat saya, tidak meyakinkan. Tryana pun sepertinya kecewa dengan kengototan saya itu, dan untuk beberapa waktu hubungan kami pun terasa dingin. Tetapi saya meyakini benar, karena persahabatan kami tidak didasari kepentingan atau pamrih tertentu, politik misalnya, perbedaan pandangan yang tajam semacam itu, tidak merusak persahabatan kami.

Saya percaya, bahwa yang menjadi fondasi persahabatan kami adalah ketulusan dan kejujuran – dua hal yang sering ditekankan oleh Tryana Sjam’un. “Being honest and sincere should be our way of life,” kata saudagar yang juga pecinta seni ini. Saya pernah diberi kaos oblong yang memuat kata-kata dalam bahasa Inggris itu. Berkata Umar ibn Khattab r.a.: “Engkau harus bersahabat dengan sahabat yang jujur, sebab engkau akan berada di sisi mereka, sebab mereka hiasan ketika dalam kesenangan, dan menjadi bekal pada saat ada bencana.” Bersambung:  Pedagang yang Membaca