Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (2): Dari Keluarga Ulama dan Jawara

Tryana Sjam'un berziarah ke makam leluhur di Kadupeusing, Pandeglang

Selama lebih dari dua dasawarsa  bergaul dengan Tryana Sjam’un, saya kira banyak hal yang bisa di-share tentang sosok, jejak langkah dan pemikirannya. Sebagian bisa kita baca  dalam tulisan-tulisan yang terhimpun dalam buku-buku Negeriku Begini, Bangsaku Begitu, Menegakkan Moralitas, dan Berjuang dari Tengah. Namun, sungguh saya baru tahu bahwa usianya adalah 80 tahun pada 23 November 2023. Akhir tahun lalu memang sempat ada perayaan untuk memperingati ultahnya. Tapi entah yang ke berapa dan jatuh tanggal berapa persisnya. Dulu, dalam sebuah wawancara saya sempat tanya mengenai tanggal lahirnya, tapi dia hanya mengira-ngira saja berapa umurnya. Sebab dia juga tidak tahu kapan persisnya.  Soalnya, catatan di bilik bambu rumah orangtuanya dulu hilang. Jadi, hampir dipastikan  dokumen-dokumen resmi, seperti KTP, ijazah, surat nikah, paspor, polis asuransi, yang mencatat  tanggal lahirannya, hanya karangan. Apa anehnya, bukankah sebagian teman-teman SD kita dulu tanggal lahirnya dikarang guru?

Yang pasti, Tryana Sjam’un lahir di Pandeglang pada tahun 1940-an. Jika sekarang diperkirakan 80 tahun, maka ia lahir pada tahun 1943.  Latar belakang keluarganya boleh dikata unik karena mewakili dua arus subkultur masyarakat Banten: ulama dan jawara. Ulama dan jawara muncul sebagai pemimpin lokal di Banten, menyusul kekalahan dan dihapuskannya kesultanan dan keterjepitan kaum bangsawan. Pada masa kolonial ini muncul semangat baru di Banten, yaitu semangat independen, “nasionalitas lokal” yang kental, dan keterikatan pada norma keagamaan. Sejak saat itulah, boleh dibilang, tidak ada suatu peristiwa pun di Banten yang tidak dimotori oleh ulama dan jawara. Tidak berlebih kiranya, jika Banten mendapat julukan “negeri ulama dan jawara”.

Sampai sekarang pun kaum ulama di Banten cukup berpengaruh di masyarakat, meskipun tidak besar seperti dulu. Sejarah memang telah mencatat, pada zaman revolusi ulama tampil sebagian pemegang tampuk kekuasaan. Misalnya, menjadi residen Banten, bupati Serang, bupati Pandeglang, dan menjadi bupati Lebak. Mereka tidak hanya berhadapan dengan Belanda yang ingin menguasai Republik, tapi juga pasti berhadapan dengan sesama anak bangsa yang proBelanda atau mereka yang melawan Republik. “Berkat keteguhan sikap mereka, Banten tetap eksis sebagai bagian dari Republik. Mereka tidak tergiur, misalnya, ikut mendirikan Negara Pasundan.

Pada tahun 1976 Michael C. Wiliams dalam rangka studinya tentang pemberontakan komunis 1926 di Banten, menanyakan tentang peran jawara di masyarakat kepada seorang ulama di Pandeglang. Ulama yang banyak berhubungan dengan para jawara selama revolusi 1945 ini menyatakan: Jawara adalah istilah Banten untuk orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Berbeda dengan perampok dan pencuri, jawara adalah figur yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga sebab itu masyarakat menghormati keberadaan mereka. Pada umumnya, jawara sangat patuh kepada ulama. Semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para ulama. Tetapi, tentu ada sebagian yang berprilaku negatif, namun biasanya itu diatasi oleh rekan-rekan mereka sendiri. (Wiliams,  2003: 54).

Seperti sudah disinggung, kaum jawara muncul sebagai golongan sosial di Banten setelah memudar hingga tereliminasinya kekuasaan kesultanan. Bersama ulama, kaum jawara merupakan eksponen dari berbagai gerakan protes pada abad ke-19. Seperti diungkapkan Prof. Tihami, jawara memang berasal dari kelompok santri yang mempunyai bakat yang berkaitan dengan  ilmu bela diri.

Alhasil, jawara adalah “jagoan” yang selalu siap membela apa yang mereka anggap benar. Adapun yang mereka hadapi adalah kekuasaan asing. Maka tak heran, jika ada gerakan sosial yang dimotori oleh ulama dan jawara, kaum kolonial serta merta menyamakan jawara dengan “bandit sosial”. Memang di antara jawara, ada yang berprilaku negatif, atau bahkan mereka disusupi bandit-bandit sesungguhnya. Hal ini kemudian oleh Belanda dimanfaatkan untuk menjatuhkan citra jawara. Dalam perkembangannya kemudian jawara dikonotasikan negatif, misalnya disebut sebagai akronim “jalma wani rampog” atau “jalema wani rahul”. Maka lama kelamaan etos kejuangan, membela kebenaran, kepahlawanan, yang merupakan ciri-ciri jawara, terkontaminasi dengan premanisme. Mereka bukan lagi membela yang benar tapi membela yang bayar.

Tryana Sjam’un: Perpaduan kultur ulama dan jawara

Sekarang, sebagian masyarakat punya persepsi negatif kalau bicara soal jawara. Tidak bisa disalahkan tentu. Apalagi jika mengingat tindakan-tindakan yang mengarah kepada premanisme oleh kelompok-kelompok orang tertentu yang menamakan atau dinamakan jawara. Meski demikian, menurut Tryana, jawara tetaplah jawara bukan preman. Lebih jauh dia  menyatakan: “Jika jawara tidak lagi membela kebenaran, atau bahkan cenderung merusak atau berbuat mungkar di tengah masyarakat, maka dia bukan jawara lagi. Ini sama saja dengan ulama yang perbuatannya tidak sesuai dengan atau menyimpang dari ajaran agama, apakah dia masih bisa disebut ulama? Jadi, bagi saya, baik ulama maupun jawara haruslah mempunyai kualifikasi moral. Hanya fungsinya saja yang berbeda. Yang satu berkaitan dengan kegiatan keilmuan, yang kedua berkaitan dengan kegiatan fisik atau kanuragan. Meskipun keduanya bisa menyatu pada seseorang, kualifikasi ulama dan jawara sekaligus, seperti pada almarhum Abuya Bustomi. Jadi jangan campuradukkan antara kejawaraan dan premanisme,” kata Tryana yang dilahirkan dari keluarga ulama dan jawara.

Ayah Tryana, Haji Tubagus Masduki, yang berasal dari Kadupeusing adalah keluarga santri. Bahkan adik buyutnya, KH Tb. Abdul Halim, merupakan ulama terkemuka dan pemimpin pesantren, yang melahirkan dua ulama yang paling berpengaruh di Banten pada saat ini: Abuya Dimyathi dan Abuya Busthom. Pada zaman revolusi Kiai Abdul Halim dan sejumlah ulama terkemuka lainnya diangkat menjadi pejabat pemerintahan. KH Tb. Achmad Chotib sebagai residen Banten, KH Sjam’un (pendiri Perguruan Al-Khairiyah di Citangkil, Cilegon)  sebagai bupati Serang merangkap komandan Tentara Rakyat Indonesia (TRI), KH Muhammad Chasan sebagai bupati Lebak, dan KH Tubagus Abdul Halim sendiri menjadi bupati Pandeglang.

Adapun ibunya,  Nyi Bainah, social origins-nya, asal-muasal dan latar belakang sosialnya dari subkultur jawara. Maka tidak heran, sejak awal pihak keluarga lelaki tidak setuju putra mereka menikah dengan anak gadis dari keluarga jawara. Tapi cinta memang sering kali menembus batas-batas budaya (juga jangan lupa: agama), maka akhirnya pun mereka menikah juga. Sayang “perkawinan silang budaya” itu tidak berumur panjang. Ketika Tryana berumur kira-kira lima tahun, mereka  berpisah, dan kemudian meneruskan hidup dengan jodoh yang lain. “Mungkin terjadi benturan kultur sehingga Bapak dan Emak akhirnya berpisah,” kata Tryana. Benturan itu, tak urung mengganggu perkembangan fisik Tryana dan adik perempuannya Tatu Tuhamah (telah berpulang ke rahmatullah beberapa tahun lalu).

Menurut Muhammad Saepi (sekarang sudah almarhum), sepupu Nyi Bainah yang juga menjadi pengasuhnya, sejak kecil Tryana bolak-balik tinggal di rumah keluarga emak dan bapaknya di Kadumerak dan di Kadupeusing. Selama duduk di bangku SMA di Rangkasbitung, barulah dia tinggal di rumah keluarga ayahnya, Tubagus Cholil, adik ayah Tryana. “Sayalah yang mengasuh dia. Sudah agak gedean, dia jadi teman saya. Sekarang saya panggil dia bos,” kata Saepi, yang biasa disapa Ende Epi oleh Tryana. “Dulu, kita masak ‘kan pakai kayu. Nah, dia suka saya ajak ke hutan cari kayu bakar. Saya yang bawa goloknya, dia yang nyusun-nyusun kayunya,” kenang Saepi.

Syukurlah, perpisahan itu, meskipun pahit, tidak sampai membuat kedua belah pihak patah arang. Bahkan akhirnya mereka menjadi saudara dan keluarga besar. Misalnya, pada tahun 1985 Tryana memberangkatkan ayah, ibu dan ayah tirinya ke haji. Ayahnya wafat di Tanah Suci, sedangkan ibu dan ayah tirinya bisa kembali di Tanah Air. Keduanya kini sudah berangkat ke alam baka. Bersambung: Kembali Sekolah