Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (1): Awal Mula Perkenalan
Tiga bulan lebih Tryana Sjam’un meninggalkan kita. Tokoh pendiri Provinsi Banten ini wafat pada Ahad petang, 11 Januari 2026. Ia dimakamkan di kompleks kediamannya di Puri Salakanagara, Pandeglang, Banten. Untuk mengenang 100 hari kepergiannya menuju Sang Maha Pencipta, berikut tulisan A. Suryana Sudrajat, salah seorang sahabat dekat TS, yang sempat bertemu seminggu sebelum dia pulang ke rahmatullah. Redasksi.
Tuhan memperkenalkan saya dengan Tryana Sjam’un 23 tahun silam, lewat pekerjaan saya sebagai wartawan. Lalu kami bersahabat dan, alhamdulillah, langgeng sampai sekarang. Dalam banyak hal, terus terang saya banyak berutang budi kepadanya, dan rasanya tak mungkin terbayarkan. Melalui tulisan ini izinkan saya memberi sekadar tanda mata untuk ultahnya yang ke-80 tahun.
Syahdan, beberapa hari setelah DPR mengesahkan pembentukan Provinsi Banten, 4 Oktober 2000, Panji Masyarakat, majalah tempat saya dulu bekerja dan sekarang telah bertransformasi menjadi panjimasyarakat.com, akan menurunkan tulisan panjang tentang Banten. Tryana Sjam’un dipilih sebagai narasumber utama sehubungan posisinya sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten.
Ringkas cerita, saya pun menemuinya di kantor Sekretariat Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, Jalan Panglima Polim Raya, Jakarta Selatan. Ini bekas kantor Bank Angkasa, di mana Tryana menjadi direktur utama, sebelum bank milik Angkatan Udara ini merger dengan Bank Nusa milik Keluarga Bakrie. Wawancara berlangsung dalam suasana akrab. Setelah itu disusul dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Semula hanya terbatas pada hubungan wartawan dengan narasumbernya, lama-lama menjadi hubungan persahabatan antara junior dan senior. Kami pun sering terlibat diskusi, bahkan sampai pukul 3 dini hari. Banyak hal yang kami perbincangkan. Mulai dari persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Banten, di sekitar persoalan demokrasi, penegakan hukum dan korupsi, sampai hal-hal yang “dalam” dan abstrak, seperti menyangkut pandangan dan makna hidup, eksistensi manusia, spiritualitas dan seterusnya.
Diskusi-diskusi dengan tema-tema yang sangat luas itu dimungkinkan karena Tryana Sjam’un belakangan, seperti dikatakan sahabat saya Syu’bah Asa (almarhum), adalah pengusaha yang membaca. Di negeri ini rupanya sedikit pengusaha yang suka membaca buku. Syu’bah mengenal Tryana sebagai orang yang luas bacaannya karena kami pernah mendirikan majalah Panjimas. Di majalah itu Tryana Sjam’un menjadi pemimpin umum, Syubah Asa pemimpin redaksi dan A. Suryana Sudrajat wakil pemimpin redaksi. Majalah yang membawakan suara Islam moderat dan beroleh pujian dari kalangan intelektual dan aktivis Muslim itu sayang tidak bertahan lama. Dari berbagai diskusi dan perbincangan itulah saya mulai mengenal siapa Tryana Sjam’un, apa pandangan hidupnya, bagaimana kegelisahan intelektualnya, mimpi-mimpinya, dan juga pemikiran-pemikirannya.
Selama lebih dari dua dasawarsa bergaul dengan Tryana Sjam’un, saya kira banyak hal yang bisa di-share tentang sosok, jejak langkah dan pemikirannya. Sebagian bisa kita baca dalam tulisan-tulisan yang terhimpun dalam buku-buku Negeriku Begini, Bangsaku Begitu, Menegakkan Moralitas, dan Berjuang dari Tengah, Membangun Demokrasi yang Beradab.. Namun, sungguh saya baru tahu bahwa pada 24 November 2023 usianya 80 tahun. Akhir tahun 2022 memang sempat ada perayaan untuk memperingati ultahnya. Tapi entah yang ke berapa dan jatuh tanggal berapa persisnya. Bersambung: Dari Keluarga Ulama dan Jawara

