Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un: Testimoni Para Sahabat
TS bersama Andra Soni dan Pengurus SI
Tiga bulan lebih Tryana Sjam’un meninggalkan kita. Tokoh pendiri Provinsi Banten ini wafat pada Ahad petang, 11 Januari 2026. Ia dimakamkan di kompleks kediamannya di Puri Salakanagara, Pandeglang, Banten. Untuk mengenang 100 hari kepergiannya menuju Sang Maha Pencipta, berikut ada testimoni dari sejumlah sahabat Tryana, yang kami petik dari Newsletter Salakanagara, edisi khusus Januari 2026. Redaksi
Andra Soni, Gubernur Banten:
Tryana Sjam’un memiliki peran besar dalam perjuangan pembentukan Provinsi Banten. Kami kerap berdiskusi mengenai Banten, baik terkait sejarah perjuangan maupun arah pembangunan ke depan. Beliau pribadi yang baik, punya kepedulian pada tanah kelahirannya, dan banyak membina pemuda-pemuda Banten, baik mahasiswa, pemuda, aktivis, maupun pada ASN Banten.
Semoga amal ibadah beliau diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Perjuangan beliau menjadi amanah yang harus terus kita lanjutkan sejalan dengan cita-cita pembentukan Provinsi Banten. Banyak kader dan rekan diskusi yang dibina oleh almarhum. Gagasan dan kenangan selama berinteraksi dengan beliau menjadi inspirasi dalam melanjutkan pembangunan Banten. ***
Dr. Achmad Dimyati Natakusumah, Wakil Gubernur Banten:
Kami kehilangan seorang tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Banten. H. Tubagus Tryana Sjam’un telah berjuang keras untuk kemajuan provinsi kita, dan kami akan selalu mengenang jasa-jasanya. Beliau pribadi yang baik, punya kepedulian pada tanah kelahirannya, dan banyak membina pemuda-pemuda Banten.***
Prof. Dr. Lili Romli, Peneliti Senior BRIN:
Bagi kami, kepergian H.Tubagus Tryana Sjam’un bukan hanya duka mendalam bagi keluarga dan para sahabat, tetapi juga kehilangan besar bagi masyarakat Banten. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu. Amin.

Ka TS, begitu kerap kami panggil, merupakan bagian penting dari jejak sejarah lahirnya Provinsi Banten, sosok yang hadir pada masa-masa krusial perjuangan pembentukan daerah dengan gagasan, energi, serta ketulusan pengabdian. Perannya sebagai Ketua Bakor Pembentukan Provinsi Banten mencerminkan komitmen kuat terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan daerahnya lebih mandiri, maju, dan memiliki ruang mengelola masa depannya sendiri.
Perjuangan itu tentu tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, keteguhan sikap, serta kesediaan mengorbankan waktu dan tenaga demi cita-cita bersama. Ka TS termasuk di antara figur yang bekerja lebih banyak dalam sunyi, namun hasil perjuangannya dapat dirasakan hingga kini oleh seluruh masyarakat Banten. Jejak pengabdiannya menjadi bagian tak terpisahkan dari fondasi berdirinya provinsi ini.
Semangat perjuangan, integritas, dan kecintaan beliau pada daerah menjadi teladan lintas generasi. Nilai-nilai itu penting untuk terus dihidupkan, agar pembangunan Banten tetap berpijak pada semangat kebersamaan dan pengabdian. Semoga segala ikhtiar, pengorbanan, dan kebaikan beliau tercatat sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. ***
A. Suryana Sudrajat, Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat:
Bagi saya, kepergiannya Tryana Sjam’un seolah menjadi bab penutup yang sempurna dari buku favoritnya, Dialogue with Death karya Eknath Easwaran—sebuah refleksi bahwa hidup memang singkat, namun bisa menjadi sangat bermakna. Kesadaran filosofis inilah yang membentuk karakter dirinya menjadi pribadi yang sangat murah hati dan memiliki integritas yang tak tergoyahkan. Dia tidak mencari panggung, bahkan kekuasaan sebagai gubernur yang hanya “sejengkal” bisa dengan mudah diraihnya. Dia membangun fondasi agar orang lain bisa berdiri di atasnya, meski dalam perjalanannya tidak semanis yang dia bayangkan.
Sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, Tryana adalah sosok “perekat”. Dia memiliki kemampuan langka untuk berdiri di tengah faksi-faksi yang berbeda—merangkul ulama dengan rasa takzim, menyatukan para jawara dengan pendekatan emosional yang tepat, dan memimpin para intelektual dengan wawasan yang luas. Semuanya ia lakukan dengan cara terbuka, tanpa jarak, dan selalu diselingi humor yang mencairkan kebuntuan politik.
Inilah antara lain yang membedakan dia dari sosok pebisnis pada umumnya. Di saat dunia bisnis sering kali hanya bicara tentang profit, Tryana bicara tentang legacy. Referensinya adalah kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Luasnya bacaan dia menjadikannya seorang negosiator yang tidak hanya mengandalkan otot politik, tapi juga kedalaman logika. Ia mendirikan Provinsi Banten dengan etika, sebuah nilai yang kini menjadi warisan tak ternilai bagi kita yang ditinggalkan.
Kepergian Haji Tubagus Tryana Sjam’un adalah kehilangan besar bagi kompas moral Banten. Namun, ia telah membuktikan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi sangat panjang dampak dan maknanya. Kini, setiap kali kita melihat tegaknya Provinsi Banten, kita sedang melihat wujud nyata dari integritas dan kasih sayang seorang anak bangsa yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Kepergian Tryana Sjam’un, juga bukan sekadar hilangnya satu nama dalam catatan sejarah Provinsi Banten. Bagi kita yang mengenal dan menyerap semangatnya, kepergiannya adalah saat di mana sebuah “buku besar” tentang integritas dan pengabdian akhirnya tertutup, meninggalkan kita dengan bab-bab hikmah yang harus terus dibaca.***
Dr. Saefudin, Ketua Umum Salakanagara Institute:
“Growing With Honest”—kalimat itu tertulis kecil di bagian bawah kop surat Salakanagara Institute. Sebuah pesan sederhana namun mendalam: tumbuhlah dengan kejujuran kapan pun dan di mana pun. Meski beliau telah berpulang ke Sang Khalik, pesan tersebut tetap hidup dan membersamai langkah kami hingga kini.
Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, jujur ada rasa gentar setiap kali saya bertemu almarhum, terutama jika pertemuan itu terjadi setelah mencuatnya peristiwa memilukan seperti kemiskinan dan putus sekolah, atau peristiwa memalukan seperti praktik korupsi di Banten. Kehadirannya terasa seperti sebuah inspeksi mendadak (sidak). Meski tutur katanya lembut, sorot matanya seolah menggugat: “Mengapa hal seperti ini dibiarkan terjadi di Banten?”

Kepedulian almarhum bukan sekadar kata-kata. Melalui Yayasan Sumur Tujuh, beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah gratis bagi anak-anak kurang mampu di pinggiran. Waktu sekolahnya pun diatur fleksibel agar selaras dengan jadwal mereka mengaji di pesantren. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau masih konsisten memberikan bantuan dana bagi putra-putri Banten yang kesulitan biaya untuk melanjutkan kuliah.
Beliau sangat yakin bahwa kemiskinan dan ketertinggalan di Banten adalah buah dari kebodohan. Itulah mengapa harapan beliau begitu besar agar generasi muda Banten terus belajar; supaya mereka berdaya, berkarya, dan mendedikasikan ilmunya untuk kemaslahatan tanah kelahiran.
Ketertinggalan daerah pulalah yang menjadi api semangat beliau saat memperjuangkan pembentukan Provinsi Banten. Bagi kami, kehadirannya di tengah berita-berita miring tentang daerah adalah bentuk “tanggung gugat”. Beliau menagih nurani kami sebagai abdi negara.
”Uang bisa dicari, tenaga bisa dipulihkan, tetapi air mata yang telah tumpah tidak bisa diganti.”
Ada air mata yang tumpah saat memperjuangkan berdirinya provinsi ini—air mata yang lahir dari perihnya kemiskinan sekaligus dari harapan besar setelah Banten mandiri. Beliau mendambakan Banten dipimpin oleh sosok yang jujur, penuh welas asih, dan benar-benar peduli pada rakyat. Pesannya jelas: jangan sampai Banten jatuh ke tangan orang yang salah. Tryana Sjam’un memang tidak ingin ada lagi air mata kesedihan. Dan beliau tidak ingin kami kembali merasa nelangsa melihat kondisi masyarakat Banten
Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Executive Coach dan Nadzir Wakaf:
Kepulangan Kak Tryana Syam’un tentunya merupakan kehilanga besar bagi dunia perbankan, masyarakat Banten, dan penggiat sosial kemasyarakatan dari sejumlah yayasan pendidikan yang didirikannya. Namun, energi positif, semangat, nilai-nilai profesionalitas, dan jiwa sosial pengabdiannya Insya Allah akan terus hidup di hati saya, para sahabat, dan masyarakat yang mengenalnya. Insya Allah barakah.
Selamat jalan Kak TS, the living inspiration.
Taftazani, Pemerhati Sosial Budaya:
Tryana Sjam’un meninggal dunia di usianya yang ke 82. Almarhum adalah Ketua Pembentukan Provinsi Banten, sebuah proses politik yang tidak mudah. Beliau pribadi yang menyenangkan, pintar, jenaka, dan dermawan.
Setiap kali ngobrol santai penuh gelak-tawa, tiba-tiba ia bisa terdiam sebentar kalau sudah menyinggung Banten. Suaranya pelan, lirih. “Teu sangka aing, Taf, Banten jadi kieu,” katanya dalam logat Sunda Banten. Maksudnya, tidak kebayang Prov. Banten ujungnya jadi seperti ini (ajang bancakan korupsi, kolusi, dan nepotisme). Terakhir jumpa dengan beliau pada hari ultahnya yang ke 80 di rumahnya yang di Pandeglang. Sudah mengenakan tongkat walau tetap banyak humor. Selebihnya, saya sering menyapa, kabar kesehatannya lewat WA. Beliau orang baik. Semoga segala amalnya diterima di sisi Allah. Amin.”
Butet Kertaredjasa, Seniman:
SUMANGGA GUSTI. Saya mengenal pendiri Provinsi Banten, H TB Tryana Syam’un, tahun 1990an, ketika orang asli Pandeglang ini masih Presdir Bank Angkasa Jakarta. Sore tadi beliau berpulang sowan Gusti. Saya percaya, orang baik seperti beliau pasti akan bertahta di sorga. Selamat jalan Pak Try. Sumangga Gusti.
Angghi Mulya Ma’mur, Praktisi Media:
Saya pertama kali mengenal Kak Tryana Sjam;un (T) S pada 14 November 2023 di Hotel Dharmawangsa, saat diperkenalkan oleh Pak Tommy Setiotomo. Sejak saat itu, beliau sering mengajak saya berdiskusi sambil minum kopi, bahkan mengundang saya ke rumahnya, Puri Salakanagara di Pandeglang.
Di sana, saya diperkenalkan dengan para “anak asuh” sekaligus “anak ideologis” beliau—para aktivis mahasiswa pejuang pembentukan Provinsi Banten tahun 2000. Kedekatan kami kian erat karena ibu saya berasal dari Cimanuk, Pandeglang, sehingga beliau menganggap saya sebagai anaknya sendiri dan memperkenalkan saya kepada keluarga besarnya. Beliau bahkan mempercayakan nama saya sebagai Anggota Dewan Pembina Salakanagara Institute (SI).
Minggu sore, 11 Januari 2026, Kak TS meninggalkan kita semua. Hanya satu pesan yang selalu beliau tekankan kepada saya: “Jaga kejujuran, jaga integritas.”
Memed Chumaedy, Akademisi:
Almarhum Kak Tryana Sjamun bukan sekadar tokoh dalam sejarah pembentukan Provinsi Banten, tetapi juga seorang bapa, kakak dan sahabat perjuangan bagi banyak aktivis.
Ia hadir bukan dari menara gading, melainkan dari ruang-ruang diskusi, mimbar aksi, dan percakapan sederhana yang penuh makna.
Bagi kami para mantan aktivis mahasiswa, Kak Tryana adalah figur yang rendah hati, terbuka, dan selalu memberi ruang bagi gagasan-gagasan kritis anak muda. Ia tak pernah lelah mendengarkan, menguatkan, dan mengingatkan bahwa perjuangan membentuk Provinsi Banten bukan semata soal pemekaran wilayah, tetapi tentang harga diri, keadilan, dan masa depan masyarakat Banten.
Kedekatannya dengan para aktivis terbangun secara tulus. Ia tidak memposisikan diri sebagai “senior yang harus selalu benar”, melainkan sebagai kawan seperjuangan yang percaya bahwa perubahan lahir dari keberanian berpikir dan konsistensi bergerak.
Banyak dari kami belajar darinya bahwa idealisme harus dirawat dengan etika dan keberpihakan pada rakyat.
Kepergian Kak Tryana Sjamun meninggalkan duka, namun juga warisan nilai yang kuat: integritas, kesederhanaan, dan komitmen pada Banten. Semangat perjuangannya akan terus hidup dalam langkah para aktivis yang ia dampingi, yang hari ini dan ke depan tetap menjaga api perjuangan itu agar tak pernah padam.

