Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (3): Kembali Sekolah
Tryana Sjam'un dan petinju legendaris Mohammad Ali
Tamat dari Sekolah Dasar (SD) Tryana Sjam’un melanjutkan ke SMP Negeri Pandeglang (sekarang SMPN 1 Pandeglang). Ketika SD ia juga sekolah di madrasah ibtidaiyah pada siang hingga sore hari, dan mengaji pada malam harinya. Pada malam-malam tertentu ia juga belajar pencak. Dan setelah di SMP praktis ia tidak melanjutkan pendidikan agamanya ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ke pesantren. Kegiatan mengajinya di malam hari juga berhenti.
“Jadi, dasar-dasar pengetahuan agama saya jelas kurang,” katanya. “Tapi ada keyakinan pada diri saya, bahwa apa yang saya lakukan asalkan niatnya baik, pasti sudah diatur agama. Ada aturannya, walaupun kita tidak tahu ayat atau hadisnya. Begitu pula sebaliknya.”
Kita tambahkan, Ibn Taimiyah menyebut agama sebagai fithrah munazzalah atau fitrah yang diwahyukan untuk menguatkan fitrah yang secara alami sudah ada pada manusia, fithrah majbulah. Ini berarti bahwa agama adalah kelanjutan “natur” manusia sendiri, merupakan wujud nyata dari kecenderungan alaminya untuk mencari kebaikan dan kebenaran, hanif. Karena itu, sebagaimana nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan nilai keagamaan, maka nilai keagamaan mustahil bertentangan dengan nilai kemanusiaan. (Nurccholish Madjid: 1992). Dalam bahasa Tryana, setiap perbuatan yang dilandasi niat baik (nilai kemanusiaan) pastilah diatur oleh agama (tidak bertentangan dengan nilai keagamaan).

Tryana adalah satu-satunya murid yang lulus di kelasnya dulu di SD. Namun, ketika ujian akhir SMP diumumkan, ternyata tidak lulus. Rupanya dia sering membolos. “Waktu berangkat sekolah, saya kan suka melihat anak-anak santri pada nongkrong di pondokan mereka. Ya, saya ikut bergabung,” ungkap Tryana.
Lalu, karena tidak lulus tadi, sementara untuk mengulang kembali di kelas tiga juga malas, Tryana ikut dagang roti bersama kakak sepupunya di Menes. Kebetulan pula paman dan bibinya beli mobil “dogong” — itu jenis kendaraan niaga serba guna niaga tempo dulu yang digunakan untuk mengangkut orang dan barang. Maka jadilah dia kenek mobil, yang melayani trayek Menes-Pagelaran itu. “Kira-kira delapan bulan saya dalam perdogongan itu.”
Begitulah sampai suatu hari ia ketemu pamannya, Haji Hanafi, di alun-alun Pandeglang. Bukan paman langsung sebenarnya: aktivis Masyumi ini menikah dengan adik ayah Tryana. Orangnya galak dan punya wibawa, sampai-sampai bapak Tryana pun segan kepadanya. Tryana sendiri sudah lama tidak bertemu dengan paman iparnya itu. Pada tahun 1960 Haji Hanafi memang baru keluar dari penjara, karena dituduh ikut membakar sekolah Mardi Yuana dan sebuah gereja di Rangkasbitung.
Haji Hanafi, seperti diceritakan Tryana, bukan main marah, begitu mengetahui pekerjaan sang keponakan. Tryana pun mengulang lagi di SMP satu tahun. Katanya, perasaan takut pada pamannya itulah yang mengembalikannya ke bangku sekolah. “Belum ada cita-cita waktu itu.” Karena sempat menganggur hampir setahun, maka ketika kembali ke sekolah, Tryana duduk bersama murid-murid, yang dulu duduk di kelas satu ketika dia di kelas tiga. Ia pun lulus pada tahun 1961.
Apa yang ada di benak Haji Hanafi begitu mengetahui Tryana berhenti sekolah dan menjadi kenek? Hampir bisa dipastikan, sebagai aktivis partai kaum modernis — pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan oleh Soekarno, dan pada awal Orde Baru Soeharto melarangnya untuk dihidupkan kembali — Haji Hanafi punya pandangan jauh ke depan. Dia sadar betul, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh seseorang yang berpendidikan SMP saja tidak tamat.
Pendidikan, tak syak lagi, adalah kunci bagi seseorang ingin maju dan meningkatkan harkat hidupnya. Juga bagi sebuah bangsa jika ingin mencapai taraf kemajuan tertentu. Menyadari akan hal ini, Tryana di kemudian hari mendirikan sebuah yayasan pendidikan di kampungnya di Pandeglang, yang menyelenggarakan pendidikan tingkat menengah pertama dan menengah atas.
SMA di Dua Kota
Pada awal 1960-an di Pandeglang belum ada sekolah lanjutan tingkat atas baik SMA maupun sekolah menengah kejuruan lainnya. Tryana, yang mulai menyadari pentingnya nasihat Haji Hanafi, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri (sekarang SMA Negeri I) Serang. Karena kelas I masuk siang, pukul 13.00, Tryana berangkat dari Kadumerak, rumah keluarga ibunya, pukul 11. Transportasi waktu itu tentu tidak mudah seperti sekarang. Maka, kendaraan apa saja, asalkan tujuannya ke Serang dinaiki. “Naik truk, naik apa, segala macam,” kata Tryana.
Magrib baru pulang. Saking hausnya, beli es pun sering tidak diudek dulu. Langsung diteguk. Begitu airnya habis, minta tambah lagi. Baru di-udek. “Kan masih tertinggal tuh rasa manisnya,” kenang Tryana.
Yang repot, ketika pulang sering kali kendaraan tidak mau distop. Sebenarnya bukan tidak mau berhenti, tapi anak-anak sekolah itu tidak mau bayar. Maka Tryana dan anak-anak sekolah lainnya jalan kaki sampai Sempu. Di pinggir kota itu ada pos polisi. Di sanalah anak-anak minta bantuan Pak Polisi menyetop truk yang lewat agar mau mengangkut mereka. Truk berhenti di Pandeglang, dan Tryana pun balik arah lagi, jalan kaki ke Kadumerak. Kurang lebih satu setengah tahun Tryana bolak-balik Serang-Pandeglang, dengan cara menumpang kendaraan seperti itu. Lama-lama, capek juga dia.
Dia pun pindah ke Rangkasbitung, ikut pamannya, Tubagus Cholil, pegawai penjara. Transportasi sekarang tidak lagi menjadi kendala, sebab setiap hari Tryana bisa pulang pergi naik kereta api Rangkasbitung-Serang. Ongkos pun lebih murah, sebab pakai abodemen.
Dalam pada itu, di Rangkas sebenarnya sudah ada SMA. Jadi, mengapa pula harus desak-desakan naik KA ke Serang? Maka, kira-kira pertengahan kelas II Tryana pun memutuskan pindah ke SMA Rangkas. Selain soal teknis tadi, kepindahan itu dipicu oleh, katakanlah, sebuah “insiden” antara seorang murid asal Rangkas dengan seorang guru aljabar yang dikenal galak. Insiden murid menempeleng guru itu berbuntut keluarnya anak-anak Rangkas dari SMA Serang. “Saya dianggap orang Rangkas juga. Itu salah satu sebabnya kata orang, padahal belum tentu begitu,” kata Tryana, yang menyelesaikan SMA-nya di Rangkasbitung pada tahun 1964.
Salah satu kenangan yang membekas pada Tryana Sjam’un adalah masa-masa naik truk di Sempu itu. Tidak semata bersifat nostalgik, tapi juga menimbulkan semacam rasa berutang pada diri Tryana, yang tidak mungkin bisa dibayarnya.
Pernah, suatu kali, Tryana dibawa oleh ingatannya ke masa-masa naik truk di Sempu itu. Kebetulan, pada waktu itu ia sudah punya “sedikit uang”. Ditemani istrinya, ia pun meluncur ke pos polisi itu.
“Bisa bertemu dengan komandan?” tanya Tryana.
“Pak komandan kebetulan tidak ada, Pak,” kata polisi piket.
“Kalau begitu, terimalah ini,” kata Tryana seraya menyodorkan segepok amplop.
“Dari mana uang sebanyak ini, Pak?”
“Titipan orang. Dia tidak mau disebut namanya. Katanya, ya, bisa digunakan untuk memperbaiki pagar kantor, atau merehab mushalla.”
“Terima kasih, Pak,” kata polisi itu.
Bagi Tryana, apa yang kemudian bisa disumbangkannya itu tidak seberapa nilainua dibandingkan dengan kebaikan para polisi yang setiap hari menyetop truk untuk anak-anak sekolah itu.”Kalau tidak di-periwit polisi, truk-truk itu tidak mau berhenti. ‘Kan jauh, kalau jalan kaki ke Pandeglang, kira-kira 20 kilometer,” katanya.
Satu lagi kenangan tentang numpang kendaraan. Kejadiannya di Rangkas, ketika Tryana duduk-duduk di jembatan Ciujung menunggu mobil yang akan ke Pandeglang. Tiba-tiba berhenti mobil sedan.
“Mau ke mana Ceng?” kata si empunya mobil.
“Ke Pandeglang, Pak,” jawab Tryana.
“Ayo ikut. Di mana Pandeglang-nya?”
Sekali lagi, kata Tryana, kebaikan orang seperti itu tidak mungkin bisa kita bayar. Hemat penulis, yang jadi soal justru bukan apakah kita mampu atau tidak membayar kebaikan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita, sebab orang yang mengakui kebaikan orang lain biasanya tidak akan segan-segan berbuat baik kepada orang lain. Melainkan, bahwa kita sendiri sering lupa atau bahkan mengingkari kebaikan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Penyakit lupa yang satu inilah antara lain yang menyebabkan kita enggan mengulurkan tangan. Kita merasa bahwa apa yang kita capai adalah semata hanya berkat keringat kita, dan karena itu kita merasa wajar-wajar saja jika kita nikmati sendiri. Allah berfirman: “Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q. 42:23). Bersambung: Kuliah Sambil Bekerja

