Pemuda: Usia Boleh Muda, Pikiran Jangan Tua
Ada sebuah bangsa yang memiliki jutaan anak muda, tetapi belum tentu memiliki masa depan yang cerah apabila generasi mudanya kehilangan idealisme, malas berpikir, takut bersuara, dan lebih sibuk mengejar pengakuan daripada memperjuangkan perubahan. Sebab, menjadi pemuda bukan sekadar perkara usia. Pemuda adalah tentang semangat, keberanian, gagasan, dan kesediaan mengambil tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Usia boleh muda, tetapi pikiran jangan sampai berhenti berkembang. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya generasi muda, melainkan juga oleh kualitas pemikiran, karakter, dan kontribusi mereka bagi masyarakat.
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan menetapkan pemuda sebagai warga negara yang berusia 16 sampai 30 tahun. Namun, angka dalam undang-undang hanyalah batas administratif. Makna kepemudaan jauh lebih luas daripada sekadar hitungan ulang tahun. Ada orang yang usianya masih 20 tahun, tetapi pikirannya sudah menyerah sebelum berjuang. Ada pula orang yang usianya telah melewati 60 tahun, tetapi semangat belajar, keberanian mengkritik ketidakadilan, dan kepeduliannya terhadap masyarakat tetap menyala. Maka, usia muda tidak otomatis membuat seseorang berpikiran maju, sebagaimana bertambahnya usia tidak harus membuat seseorang berhenti menjadi pembelajar.
Sejarah Tidak Pernah Kekurangan Pemuda Pemberani
Mari kita menengok sejarah bangsa sendiri. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan daerah berkumpul untuk menyatakan tekad tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Mereka belum menikmati kemerdekaan dan masih hidup di bawah penjajahan. Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak mudah dibeli dengan uang, yaitu keberanian membayangkan Indonesia yang merdeka. Sumpah Pemuda menjadi bukti bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah belah. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disatukan oleh cita-cita bersama. Para pemuda saat itu tidak menunggu keadaan menjadi ideal untuk membangun masa depan bangsanya.
Pada 1945, kaum muda kembali memainkan peran penting dalam dinamika menuju Proklamasi Kemerdekaan. Mereka mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan, sehingga peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu episode penting menjelang lahirnya Republik Indonesia. Kemudian, pada 1998, mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat mengambil bagian penting dalam gerakan Reformasi yang mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto setelah berkuasa selama puluhan tahun. Ketiga momentum tersebut memperlihatkan satu pelajaran berharga: perubahan besar tidak lahir hanya dari keluhan, melainkan dari keberanian menyusun gagasan, membangun solidaritas, dan bertindak pada saat yang menentukan. Namun, keberanian saja tidak cukup. Perubahan membutuhkan pengetahuan, organisasi, integritas, dan tujuan yang jelas.
Pemuda Zaman Sekarang : Berani Berbeda atau Sekadar Ikut Tren?
Pemuda masa kini hidup dalam zaman yang berbeda. Mereka memiliki akses terhadap internet, kecerdasan buatan, pendidikan digital, dan informasi dari seluruh penjuru dunia. Peluang yang tersedia luar biasa besar. Dengan sebuah telepon pintar, seorang anak muda di pelosok negeri dapat belajar pemrograman, membangun usaha, menerbitkan tulisan, mempromosikan produk lokal, bahkan menyuarakan persoalan yang sebelumnya tidak mendapat perhatian publik. Teknologi telah membuka pintu yang dahulu sulit dijangkau oleh generasi sebelumnya. Namun, peluang besar tersebut hanya akan bermanfaat apabila disertai kemauan belajar, kedisiplinan, kreativitas, dan kemampuan menggunakan informasi secara bijaksana.
Teknologi yang sama juga dapat menjebak generasi muda dalam pusaran hiburan tanpa batas, perdebatan tanpa ujung, budaya pamer, dan perlombaan mendapatkan perhatian. Jempol begitu aktif, tetapi pikiran belum tentu produktif. Mudah sekali membagikan kutipan tentang perubahan dunia, tetapi sulit meluangkan waktu untuk membaca sebuah buku. Gampang mengecam korupsi, tetapi belum tentu berani menolak kecurangan kecil ketika mengurus kepentingan sendiri. Rajin mengkritik pemimpin, tetapi tidak sedikit yang lupa bahwa integritas harus dimulai dari diri sendiri. Tentu, ini bukan gambaran seluruh pemuda Indonesia. Banyak anak muda yang bekerja keras, meneliti, mengajar, merintis usaha, mengembangkan teknologi, membantu masyarakat, dan memperjuangkan lingkungan.
Justru anak-anak muda yang bekerja dengan sungguh-sungguh itulah yang membuktikan bahwa generasi muda bukan masalah yang harus dicemaskan, melainkan kekuatan yang harus diberi ruang untuk berkembang. Mereka tidak selalu tampil di panggung, tidak selalu viral di media sosial, dan tidak selalu mendapat penghargaan. Namun, melalui kerja nyata, mereka membangun harapan bagi masyarakat. Ada yang mendirikan usaha kecil untuk membuka lapangan kerja, mengajar anak-anak di daerah terpencil, menciptakan teknologi tepat guna, atau membantu petani memasarkan hasil panen. Perubahan tidak selalu lahir dari orang yang paling terkenal. Sering kali, perubahan tumbuh dari orang-orang yang tekun bekerja, meskipun namanya tidak pernah tercatat dalam berita.
Tiga Tugas Besar Generasi Muda
Pertama, menjadi kekuatan moral. Pemuda harus berani membedakan yang benar dari yang salah, sekalipun kebenaran tidak populer. Kejujuran tidak boleh berubah hanya karena lingkungan terbiasa melakukan kecurangan. Kritik harus disampaikan berdasarkan fakta, bukan sekadar kebencian. Keberanian moral juga berarti bersedia menolak ajakan yang bertentangan dengan prinsip, meskipun penolakan itu berisiko membuat seseorang kehilangan keuntungan. Bangsa yang besar membutuhkan generasi yang tidak mudah dibeli oleh uang, jabatan, atau popularitas. Sebab, kecerdasan tanpa integritas dapat berubah menjadi alat untuk menipu, sedangkan kekuasaan tanpa moral dapat menjadi sumber ketidakadilan.
Kedua, menjadi agen perubahan. Perubahan tidak selalu harus dimulai dengan demonstrasi besar atau pidato berapi-api. Mengajar anak yang kesulitan membaca, mengembangkan usaha kecil, meneliti persoalan lingkungan, membangun komunitas literasi, dan melawan penyebaran hoaks juga merupakan bentuk perubahan. Pemuda dapat memulai dari lingkungan terdekat, mengenali masalah yang nyata, kemudian mencari jalan keluar yang masuk akal. Jangan meremehkan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebuah komunitas baca mungkin bermula dari beberapa orang, tetapi dapat menumbuhkan budaya literasi di lingkungannya. Sebuah gagasan sederhana pun dapat berkembang menjadi solusi yang bermanfaat apabila dikerjakan dengan kesungguhan.
Ketiga, menjadi agen pembangunan. Indonesia membutuhkan pemuda yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kesehatan, pertanian, pendidikan, dan berbagai bidang strategis lainnya. Semangat nasionalisme akan semakin bermakna apabila disertai kemampuan nyata untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Cinta tanah air bukan hanya soal mengibarkan bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan, melainkan juga tentang memberikan kontribusi agar kehidupan rakyat menjadi lebih baik. Pemuda perlu meningkatkan keterampilan, membangun etos kerja, mengembangkan inovasi, serta menciptakan lapangan kerja. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga pelaku yang ikut menentukan arah kemajuan bangsa.
Bangsa Ini Membutuhkan Pemuda Kritis, Bukan Pemuda yang Sekadar Sinis
Ada perbedaan besar antara berpikir kritis dan bersikap sinis. Orang kritis mempertanyakan kebijakan, memeriksa data, menguji argumen, dan menawarkan alternatif. Orang sinis cenderung menganggap segala sesuatu buruk, semua pemimpin sama, dan setiap usaha perubahan pasti sia-sia. Sikap kritis membangun harapan yang masuk akal, sedangkan sikap sinis justru dapat mematikan harapan sebelum perjuangan dimulai. Pemuda perlu belajar membedakan kritik yang membangun dari kecaman yang hanya melampiaskan emosi. Tidak semua pendapat yang keras merupakan pendapat yang benar. Tidak semua orang yang berbeda pandangan merupakan musuh. Kedewasaan berpikir terlihat ketika seseorang mampu mempertahankan prinsip tanpa kehilangan kesediaan untuk mendengarkan.
Pemuda juga tidak harus selalu membenarkan pemerintah untuk disebut patriotik. Mengkritik kebijakan yang keliru, membongkar penyimpangan berdasarkan bukti, dan menuntut pertanggungjawaban pejabat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kritik harus disertai tanggung jawab. Jangan sampai kebencian menyamar sebagai keberanian, sementara kabar bohong menyamar sebagai kebenaran. Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas mengabaikan fakta. Sebaliknya, kebebasan tersebut menuntut tanggung jawab untuk memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Bangsa yang sehat membutuhkan anak muda yang berani bertanya, bersedia belajar, mampu mengakui kesalahan, dan tidak menggadaikan prinsip demi jabatan maupun popularitas.
Masa Depan Tidak Menunggu Kita Siap
Wahai generasi muda, masa depan Indonesia bukan hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Masa depan dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang kalian ambil hari ini. Apa yang kalian baca, keterampilan yang kalian pelajari, cara kalian memperlakukan orang lain, keberanian kalian mengakui kesalahan, dan kesediaan kalian membantu sesama akan ikut menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk berbuat jujur. Jangan menunggu kaya untuk membantu sesama. Jangan menunggu terkenal untuk menyampaikan gagasan yang bermanfaat. Mulailah dari apa yang kalian miliki, dari lingkungan tempat kalian berada, dan dari persoalan yang sanggup kalian selesaikan.
Pemuda yang hebat bukanlah orang yang paling lantang mengaku akan mengubah dunia, melainkan orang yang bersedia mengubah dirinya, memperbaiki lingkungannya, dan bekerja konsisten meskipun tidak selalu mendapat tepuk tangan. Keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat, sementara perjuangan sering kali menghadirkan kegagalan dan kekecewaan. Namun, kegagalan bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dari kesalahan, seseorang dapat memperbaiki cara berpikir, memperkuat karakter, dan menemukan jalan yang lebih baik. Generasi muda perlu memiliki cita-cita tinggi, tetapi juga harus membangun kedisiplinan untuk mewujudkannya. Sebab, mimpi tanpa tindakan hanya akan menjadi angan-angan yang semakin jauh dari kenyataan.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang berusia muda. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang pikirannya terbuka, ilmunya berkembang, moralnya terjaga, dan keberaniannya berpihak kepada kebenaran. Jangan sampai kelak sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah memiliki generasi muda yang luar biasa banyak, tetapi terlalu sedikit yang bersedia menggunakan kemampuannya untuk kepentingan bangsa. Usia muda adalah kesempatan, bukan jaminan. Masa depan adalah tanggung jawab, bukan sekadar impian. Karena itu, gunakanlah masa muda untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang pemuda bukan semata-mata seberapa tinggi ia mencapai kedudukan, melainkan juga seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan bagi sesama dan bangsanya.
Referensi
- Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.
- Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dokumentasi sejarah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.
- Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. Dokumentasi sejarah Pemilu dan Reformasi 1998.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

