Jajan di Kaki Lima, Menggerakkan Ekonomi dari Bawah

Pernahkah kita berpikir bahwa sepiring nasi uduk, sebungkus gorengan, semangkuk bakso, atau secangkir kopi dari pedagang kaki lima bukan sekadar urusan mengisi perut? Di balik transaksi kecil itu, sesungguhnya ada mesin ekonomi yang sedang bergerak. Kita menyerahkan uang beberapa puluh ribu rupiah kepada seorang pedagang. Pedagang itu kemudian membeli beras, minyak, telur, cabai, sayuran, daging, atau bahan lainnya. Uang yang sama berpindah lagi ke pedagang pasar, petani, pemasok, pengemudi, hingga pekerja lainnya.

Begitulah ekonomi bekerja: bukan selalu melalui gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, atau transaksi miliaran rupiah. Kadang ia bergerak dari sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan. Dalam perspektif ekonomi makro, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Secara sederhana, pendapatan nasional dapat dilihat melalui persamaan Y = C + I + G + (X − M), dengan C sebagai konsumsi rumah tangga.

Karena itu, ketika masyarakat membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dan minuman, termasuk dari PKL, terjadi tambahan permintaan terhadap barang dan jasa. Jika transaksi itu dilakukan oleh jutaan orang secara berulang, akumulasinya bukan lagi transaksi kecil. Ia menjadi aktivitas ekonomi yang besar. Yang menarik, uang yang dibelanjakan di sektor informal sering kali memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ekonomi lokal. Pedagang membutuhkan bahan baku setiap hari.

Beras harus dibeli, minyak harus diisi kembali, telur harus tersedia, cabai harus didatangkan. Artinya, pendapatan seorang pedagang tidak berhenti di tangannya. Uang itu bergerak. Dari pembeli ke pedagang. Dari pedagang ke pemasok. Dari pemasok ke petani atau produsen. Dari sana bergerak lagi kepada pekerja, pengemudi, pedagang pasar, dan pelaku ekonomi lainnya. Satu transaksi kecil menciptakan rangkaian transaksi berikutnya.

Inilah yang membuat keberadaan PKL memiliki arti lebih luas daripada sekadar menyediakan makanan murah. Mereka menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menghubungkan konsumsi masyarakat dengan sektor produksi dan distribusi. Jajan di kaki lima juga memiliki dimensi pemerataan. Ketika seseorang membeli makanan dari usaha mikro, uang tersebut secara langsung menjadi pendapatan bagi pelaku usaha kecil. Bagi pedagang, keuntungan beberapa puluh ribu rupiah mungkin berarti uang belanja keluarga hari itu.

Bagi pemasok, transaksi tersebut berarti omzet. Bagi petani, berarti permintaan. Bagi pekerja, berarti upah. Ekonomi akhirnya bukan hanya soal seberapa besar uang yang beredar, tetapi juga ke mana uang itu mengalir dan siapa yang mendapatkan manfaat dari perputarannya. Karena itu, aktivitas konsumsi yang tampak sederhana dapat memiliki efek berantai terhadap banyak pelaku ekonomi, terutama ketika berlangsung terus-menerus dalam skala yang luas.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan: bukan berarti setiap rupiah yang dibelanjakan di PKL otomatis menciptakan tambahan PDB secara penuh. Dalam pengukuran PDB, yang dihitung adalah nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi, sementara transaksi barang bekas, input antara, impor, dan berbagai komponen lainnya diperlakukan secara berbeda. Tetapi secara ekonomi, konsumsi masyarakat tetap menciptakan permintaan yang mendorong aktivitas produksi dan distribusi.

Karena itu, jangan remehkan uang Rp10.000 atau Rp20.000 yang kita belanjakan di warung, gerobak, atau lapak sederhana. Bagi pembeli, mungkin hanya sebungkus nasi. Bagi pedagang, itu pendapatan. Bagi pemasok, itu permintaan. Bagi petani, itu pasar. Bagi pekerja, itu penghasilan. Dan bagi ekonomi lokal, itu adalah satu putaran kecil dari mesin ekonomi yang jauh lebih besar.

Barangkali di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap PKL. Mereka bukan sekadar penghias trotoar atau bagian dari ekonomi informal yang sering dilihat sebelah mata. Di banyak tempat, mereka adalah simpul ekonomi rakyat yang mempertemukan konsumsi, produksi, distribusi, dan pendapatan dalam satu rantai yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Maka, ketika kita membeli makanan dari pedagang kaki lima, sesungguhnya kita tidak hanya sedang “jajan”. Kita sedang ikut menggerakkan roda ekonomi. Bukan dengan teori yang rumit. Bukan dengan angka triliunan. Tetapi dengan transaksi kecil yang dilakukan jutaan orang, berulang setiap hari. Sebab ekonomi sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya tumbuh dari keputusan besar di ruang rapat. Ia juga tumbuh dari keputusan sederhana di pinggir jalan : “Bang, nasi satu.”

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten