AG OPINI

Ketika Nasihat Diukur dari Tebalnya Dompet

Oleh Ruli Alqodri Mustafa

Ada fenomena menarik dalam kehidupan kita: nasihat yang sama bisa terdengar berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya. Jika seorang biasa berkata, “Jangan boros,” mungkin kita hanya mengangguk. Tetapi ketika seorang miliarder mengatakan kalimat yang sama, mendadak ia terdengar seperti guru ekonomi. Padahal kalimatnya tetap sama. Yang berubah bukan nasihatnya, melainkan status orang yang menyampaikannya.

Mengapa demikian? Karena manusia sering menilai pesan bukan hanya dari isinya, tetapi juga dari siapa yang berbicara. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengaruh menjadi semacam “stempel kredibilitas”. Orang kaya dianggap telah menemukan formula kehidupan. Orang berkuasa dianggap lebih tahu arah. Orang terkenal dianggap lebih layak didengar. Seolah-olah rekening bank, jabatan, dan jumlah pengikut adalah sertifikat kebijaksanaan.

Di sinilah social proof. bekerja. Kita cenderung menganggap sesuatu benar atau layak diikuti ketika banyak orang menganggapnya benar. Kesuksesan seseorang menjadi bukti sosial yang membuat nasihatnya tampak lebih meyakinkan. Ia pernah berhasil membangun perusahaan, maka orang menganggap ia pasti tahu cara membangun kehidupan. Ia pernah memenangkan pemilu, maka ia dianggap tahu bagaimana mengatur negara. Padahal keberhasilan di satu bidang tidak otomatis menjadi bukti keahlian di semua bidang.

Ada pula halo effect. Satu keunggulan seseorang membuat kita memberikan keunggulan lain yang belum tentu ia miliki. Kaya dianggap bijaksana. Berkuasa dianggap cerdas. Terkenal dianggap benar. Tampan dianggap baik. Bahkan kadang-kadang, orang yang memiliki jas mahal lebih dipercaya daripada orang yang memiliki argumen mahal. Kita bukan sedang menimbang gagasan; kita sedang terpesona oleh pembungkusnya.

Kekuasaan menambahkan lapisan lain: otoritas. Sejak kecil manusia terbiasa mendengar guru, orang tua, pemimpin, dan mereka yang dianggap memiliki posisi lebih tinggi. Karena itu, suara pejabat sering terdengar lebih penting daripada suara rakyat biasa, bahkan ketika substansi yang dibicarakan sebenarnya sederhana. Mikrofon kekuasaan kadang membuat kalimat biasa terdengar seperti keputusan sejarah.

Namun ada alasan yang lebih pragmatis. Mendengarkan orang kaya dan berkuasa terkadang memang memiliki keuntungan. Mereka memiliki akses terhadap pekerjaan, modal, jaringan, informasi, dan peluang. Maka sebagian orang tidak hanya mendengarkan karena percaya, tetapi karena berkepentingan. Dalam dunia sosial, telinga pun kadang mengenal kalkulator. Nasihat didengar karena di baliknya mungkin ada pintu yang bisa terbuka.

Media kemudian memperbesar semuanya. Orang berpengaruh memiliki panggung yang lebih besar. Ucapannya dikutip, dipotong menjadi video pendek, dibagikan jutaan kali, lalu muncul kembali di berbagai platform. Karena sering terlihat, kita menjadi semakin akrab dengannya. Dan sesuatu yang sering kita dengar perlahan terasa semakin benar—meskipun frekuensi kemunculannya bukan bukti kebenarannya.

Ironisnya, masyarakat sering lupa membedakan antara *kesuksesan dan kebijaksanaan. Seseorang bisa sukses mengumpulkan kekayaan tetapi gagal mengelola keluarganya. Bisa memenangkan kekuasaan tetapi gagal mengendalikan dirinya. Bisa memiliki jutaan pengikut tetapi tidak memiliki satu pun gagasan yang benar-benar matang. Kekayaan adalah fakta tentang kepemilikan; kekuasaan adalah fakta tentang posisi; popularitas adalah fakta tentang perhatian. Ketiganya bukan otomatis bukti kebenaran.

Maka persoalan sebenarnya bukan mengapa nasihat orang kaya, berkuasa, dan berpengaruh lebih didengar. Persoalannya adalah: mengapa kita begitu mudah mengukur kebenaran dari siapa yang berbicara, bukan dari apa yang dibicarakan?. Sebab jika nasihat harus menunggu keluar dari mulut orang kaya agar dianggap berharga, maka orang miskin hanya kehilangan uang—sementara kita semua bisa kehilangan kebijaksanaan.

Nasihat seharusnya tidak memiliki kasta. Ia harus diuji oleh akal, pengalaman, fakta, dan moralitas. Sebab kebenaran tidak bertambah benar hanya karena disampaikan dari podium mewah. Dan kebijaksanaan tidak menjadi kurang bernilai hanya karena keluar dari mulut seseorang yang tidak memiliki jabatan.

Jangan sampai kita begitu kagum pada tinggi kursinya, sampai lupa memeriksa benar tidaknya kalimat yang diucapkan.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten