Ketika Logika Menjadi Senjata Orang yang Merasa Paling Benar

“Orang bodoh akan selalu berkata tidak. Apakah kamu bodoh?” Pertanyaan itu tampak sederhana, bahkan lucu. Tetapi jika dibongkar lebih dalam, ada sesuatu yang jauh lebih serius: manusia sering kali tidak sedang mencari kebenaran ketika berbicara. Ia sedang mencari cara agar dirinya tampak benar.

Jawablah “ya”, engkau mengakui kebodohanmu. Jawablah “tidak”, jawabanmu akan dipakai untuk menjebakmu: “Nah, orang bodoh memang selalu berkata tidak.” Permainan selesai. Si penanya merasa menang. Tetapi sebenarnya tidak ada kemenangan intelektual di sana. Yang ada hanyalah permainan kata yang dibungkus seolah-olah sebagai logika.

Sebab dari pernyataan “orang bodoh selalu berkata tidak”, kita tidak boleh menarik kesimpulan bahwa “setiap orang yang berkata tidak adalah bodoh”. Itu adalah lompatan berpikir. Premisnya tidak cukup kuat untuk menopang kesimpulannya. Namun, justru lompatan semacam inilah yang setiap hari kita saksikan dalam kehidupan.

Di media sosial, seseorang berbeda pendapat lalu dicap bodoh. Seseorang mengkritik kebijakan lalu dianggap pembenci. Seseorang mempertanyakan pendapat tokoh yang kita kagumi lalu dituduh tidak berilmu. Seseorang tidak sepakat dengan kelompok kita lalu segera ditempatkan sebagai lawan. Kita tidak lagi membantah argumennya. Kita menyerang orangnya. Dan yang lebih menyedihkan, kita sering menyebutnya sebagai logika.

Padahal, logika tidak pernah dibuat untuk memberi kita alasan agar selalu menang. Logika justru seharusnya menjadi alat untuk menemukan titik di mana kita mungkin sedang salah. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Orang yang benar-benar berpikir tidak hanya bertanya, “Bagaimana saya membuktikan bahwa saya benar?” Ia juga berani bertanya, “Bagaimana jika saya yang salah?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Sebab untuk mengucapkannya, seseorang harus memiliki kerendahan hati intelektual. Kesombongan membuat manusia mempertahankan kesimpulan. Kebijaksanaan membuat manusia bersedia memeriksa kembali premis. Kita sering mengira orang bodoh adalah orang yang tidak banyak tahu. Belum tentu. Ada kebodohan yang jauh lebih berbahaya: mengetahui sedikit, lalu merasa mengetahui semuanya.

Orang semacam ini tidak datang ke dalam diskusi untuk belajar. Ia datang untuk menang. Ia tidak mendengar argumen untuk memahami, melainkan hanya untuk mencari celah menyerang. Ia tidak memeriksa premis karena premis itu sudah menjadi bagian dari keyakinannya. Akhirnya, apa pun yang dikatakan lawan akan selalu salah. Jika lawan diam, ia dianggap tidak mampu menjawab. Jika lawan menjawab, jawabannya dipelintir.

Jika lawan mengoreksi, ia dianggap sok tahu. Jika lawan meminta bukti, ia dituduh meragukan kebenaran. Pada titik tertentu, diskusi berhenti menjadi pencarian kebenaran. Ia berubah menjadi pengadilan ego. Dan ego adalah hakim yang hampir selalu memenangkan dirinya sendiri.

Karena itu, jebakan “Apakah kamu bodoh?” sebenarnya bukan sekadar permainan logika. Ia adalah cermin kecil bagi kehidupan kita. Berapa banyak pendapat yang kita yakini benar hanya karena datang dari kelompok kita? Berapa banyak orang yang kita anggap bodoh hanya karena tidak berpikir seperti kita? Berapa banyak kesimpulan yang kita pertahankan bukan karena bukti, tetapi karena terlalu malu untuk mengakui bahwa kita pernah salah?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih menakutkan daripada teka-teki tadi. Sebab bisa jadi, masalah terbesar kita bukan kekurangan kecerdasan, melainkan kelebihan keyakinan terhadap kecerdasan sendiri. Orang cerdas dapat keliru. Orang berilmu dapat salah memahami. Orang saleh dapat tergelincir dalam penilaian. Bahkan orang yang memiliki banyak argumen tetap bisa berdiri di atas premis yang keliru.

Maka jangan terlalu cepat bangga karena mampu memenangkan perdebatan. Bisa jadi engkau hanya lebih pandai memainkan kata. Jangan terlalu cepat merasa telah menghancurkan argumen orang lain. Bisa jadi engkau hanya berhasil menyerang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan. Dan jangan terlalu cepat menyebut orang lain bodoh. Sebab ketika seseorang begitu mudah melihat kebodohan di mana-mana, mungkin yang sedang gagal dilihatnya adalah kesombongan di dalam dirinya sendiri.

Pada akhirnya, filsafat bukan tentang menjadi orang yang selalu memiliki jawaban. Filsafat adalah keberanian untuk menguji pertanyaan, membongkar asumsi, mengoreksi kesimpulan, dan—yang paling sulit—mengakui kemungkinan bahwa diri sendiri telah keliru. Sebab orang yang benar-benar cerdas tidak takut mengatakan, “Saya salah.”

Yang harus kita takutkan justru adalah ketika mulut kita terus berkata, “Saya benar,” sementara akal kita sudah berhenti mencari kebenaran. Dan mungkin, di situlah letak kebodohan yang paling menyedihkan: bukan ketika seseorang tidak tahu bahwa dirinya bodoh, melainkan ketika ia begitu yakin bahwa dirinya cerdas sehingga tidak lagi merasa perlu belajar.***

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten