Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (9): Pedagang yang Membaca dan Menulis
Tryana Sjam’un menyebut dirinya seorang yang sedang belajar berdagang. Sebagai pelaku bisnis maupun praktisi jasa keuangan, boleh dikatakan Tryana punya latar belakang teori yang kuat karena dulu dia menempuh studi di fakultas ekonomi. Karena itu dia segera memahami jika menemukan praktik-praktik atau kebijakan ekonomi yang tidak bersesuaian dengan teori-teori yang pernah dipelajarinya. Begitu pula sebaliknya. Di negeri ini sudah menjadi lumrah pekerjaan seseorang tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikannya.
Tetapi Tryana Sjam’un, hemat saya bukan pedagang biasa, yang hanya disibukkan oleh berbagai kalkulasi atau hitung-hitungan pragmatis mengenai untung-rugi. Dia pedagang yang membaca, yang selalu gelisah melihat berbagai persoalan terutama yang melanda bangsa dan negaranya. Karena itu, berbicara dengan Tryana Sjam’un tidak seperti tengah berbicara dengan seorang pedagang yang cenderung berpikir pragmatis. Tentu dia sendiri tidak berpretensi bahwa dirinya seorang intelektual, atau pemerhati masalah-masalah sosial yang serius, atau seorang budayawan yang menganut paham humanisme universal. Tidak. Sebab baginya sudah cukup sebagai seorang pedagang. Tepatnya, seperti yang dia katakan, seorang yang sedang belajar berdagang. Tetapi, sekali lagi, Tryana bukan pedagang biasa. Dia pedagang yang membaca. Tidak hanya buku-buku yang dia simak secara intens, tetapi juga fenomena-fenomena sosial yang muncul di masyarakat.
Dua dasawarsa sudah Tryana Sjam’un “belajar berdagang”. Selama itu pula dia pernah berkongsi dengan sejumlah pengusaha yang juga teman-temannya seperti Kelompok Usaha Gunung Sewu, Ayala Corp., Johor Corp., Putra dan Oka Masagung, dan terakhir dengan keluarga Bakrie. Seperti halnya gelombang laut, ada pasang naik dan pasang surutnya, begitu pula perjalanan usaha makhluk pembelajar yang satu ini. Kata orang, hidup beserta masa depan dan peruntungannya memang sering kali tidak mudah ditebak. Meski begitu, Tryana percaya akan keniscayaan sebuah roda nasib, yang memutar perjalanan hidup seseorang. “Tidak ada yang langgeng, dan semua ada masanya,” kata dia. Karena itu pula, Tryana merasa tidak kehilangan apa pun di dalam dirinya jika harus menanggung risiko dagang. Sebab hidup, kata dia, untuk mensyukuri yang ada, bukan merengek kepada yang belum ada atau menangisi yang sudah tiada.
Sebagai pelaku dunia usaha yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi, Tryana Sjam’un mengharuskan dirinya untuk terus menambah dan memperbarui pengetahuannya tentang ilmu ekonomi yang diperolehnya dulu di universitas. Dia juga menyegarkan kembali pengetahuannya dengan membaca ulang buku-buku teori atau prinsip-prinsip dasar tentang ekonomi. Sebagai sarjana ekonomi, Tryana merasa perlu untuk mengetahui perkembangan disiplin ilmunya itu. Tidak dengan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi dengan belajar secara otodidak, menyerap dari satu literatur ke literatur lainnya.
Sebagai pedagang yang membaca, spektrum bacaan Tryana Sjam’un dapat dikatakan luas. Selain ekonomi sebagaimana sudah disebutkan, Tryana menyukai sejarah, terutama sejarah bangsa-bangsa dan agama-agama, biografi pemikiran, dan cerita-cerita mitologi, termasuk kisah-kisah dari dunia pewayangan. Pemikiran filsafat dari zaman Yunani kuno, para pemikir Muslim klasik, sampai filsafat modern dari Barat, turut pula memperkaya khazanah pustakanya. Dia juga peminat yang serius mengenai spiritualisme, dan masalah-masalah di sekitar demokrasi dan kemanusiaan. Roman sejarah, cerita detektif serta komik, termasuk yang mengisi waktu-waktu luangnya. Seperti dikatakannya, membaca adalah bagian dari mencari ilmu – salah satu keharusan yang wajib dijalani setiap muslim sepanjang hayatnya. Jadi, membaca, sebagai bagian dari mencari ilmu itu, tidak hanya bersifat fungsional yakni untuk memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga merupakan tindakan religius serta bersifat etis. Dengan membaca, kata dia, seseorang bukan hanya bisa memperkaya pengetahuannya tapi juga mengasah kemampuan nalarnya – dan buku adalah kawan yang paling setia dan jujur untuk diajak berdialog.

Dorongan dan semangat membaca itu ia tularkan kepada guru-guru, khususnya yang mengajar di Madrasah Tsnawiyah dan Madrasah Aliyah At-Taqwa, Pandeglang. Kedua satuan pendidikan ini berada di bawah naungan Yayasan Sumur Tujuh (Yastu) yang didirikan Tryana lebih dari 30 tahun lalu, sebagai kepeduliannya untuk mencerdaskan masyarakat di kampung halamannya.
Tak hanya membaca, Tryana juga mencatat. Terutama bagian-bagian yang menarik dari yang bacanya itu – dari buku maupun artikel-artikel di media massa. Catatan-catatan itu kemudian mengkristal dalam pikirannya, lalu ia lontarkan baik dalam pertemuan-pertemuan formal, informal, maupun ngobrol ala warung kopi. Saya termasuk orang yang sering dibagi pengetahuan oleh Tryana. Saya ikut mendorong agar lontaran-lontaran atau percikan pemikirannya itu ditulis dalam bentuk artikel atau kolom dan dikirim ke media. Sebagiannya juga saya rekam dan dimuat secara berkala di muat di koran lokal (Banten). Ada pula yang kemudian dijadikan buku dan diterbitkan Pustaka LP3ES (Negeriku Begini, Bangsaku Begitu, Percikan Pandangan Tryana Sjam’un, 2005; dan Menegkkan Moralitas, Menafsir Pemikiran Tryana Sjam’un, 2013).

Sementara kolom-kolomnya dan makalah serta sambutan yang pernah ditulisnya dihimpun dalam buku Berjuang dari Tengah, Membangun Demokrasi yang Beradab, 2013. Juga diterbitkan Pustaka LP3ES. Buku ini, yang berasal dari kumpulan karangan Tryana Sjam’un yang dia tulis dalam kurun waktu sekitar 12 tahun (Tryana lebih suka menyebutnya sebagai “coretan” dari diskusi dengan teman-teman), merupakan buah dari persentuhan dia dengan bahan-bahan bacaannya dan realitas sehari-hari yang dilihat dan dirasakannya. Karena itu, dari coretan-coretannya itu Tryana tampak sedang berbicara, tepatnya bergumam, dengan dirinya sendiri. Tak urung pula, sebagian tulisan itu merefleksikan pula kecemasannya tentang beberapa hal. Ia juga sering merasa tidak mengerti, mengapa orang tidak mengerti tentang sesuatu yang seharusnya dimengerti. Di negeri ini hal-hal yang aneh bin ajaib memang sering terjadi, di mana banyak “jalan pikiran susah dipahami.”
Seperti bacaannya yang luas, spektrum pemikiran Tryana juga menyentuh pelbagai aspek kehidupan. Beberapa di antaranya kemudian menjadi semacam titik keprihatinannya, dan berulang-ulang dia kemukakan. Bersambung: Membaca Percikan Pemikiran Seorang Saudagar

