Inilah Hikmah di Balik Perbedaan Lebaran
Tahun ini, 1447 H/2026 M, kaum muslimin di Tanah Air kembali berbeda hari dalam merayakan Idulfitri. Sebagian kita, khususnya warga Muhammadiyah, menyelenggarakan salat Id pada Jumat 19 April. Sedangkan sebagian lainnya mengikuti ketetapan pemerintah (Kementerian Agama), yang menentukan 1 Syawal 1447 jatuh pada Sabtu, 20 April 2026.
Bukan hal mengejutkan perbedaan itu, karena pada tahun-tahun sebelumnya, misalnya pada tahun 2023, perbedaan dalam menentukan 1 Syawal ini pernah terjadi. Karena itu beda lebaran di kalangan kaum muslimin , sudah dianggap biasa – dan tak semestinya dibuat heboh. Tapi apa hendak dikata, perbedaan itu sekarang menimbulkan sedikit gaduh, khususnya di kalangan netizen alias warganet, karena sempat muncul pernyataan dari salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bahwa selain pemerintah, tidak ada satu pun yang berhak mengumumkan penetapan 1 Syawal. Dan semua harus taat pada ulul amri alias pemerintah. Mungkin karena ada kehebohan itu, pernyataan tadi akhirnya diralat oleh yang bersangkutan.
Sejatinya, perbedaan penentuan awal lebaran yang biasa terjadi di kalangan kaum muslimin di Tanah Air, sejatinya dapat dijadikan sebagai pengalaman yang berharga dalam menyikapi perbedaan, sehingga kita mampu mengedepankan sikap tasamuh atau toleran, sebagaimana sering kita dengar dari para pemuka agama atau ormas Islam,
Tasamuh atau toleran adalah sikap lapang dada baik terhadap sesama muslim maupun non-muslim agama lain untuk menyatakan dan menerapkan keyakinannya. Dengan demikian, seorang muslim dan komunitas muslim harus menganut pola hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) dengan komuntas-komunitas lain yang berbeda dalam memahami dan menerapkan agama.
Toleransi, menurut penulis, adalah prinsip yang niscaya dalam sebuah masyarakat yang majemuk dan multikultur seperti Indonesia. Tanpa toleransi, masyarakat akan selalu berada dalam suasana konfliktual yang destruktif, saling bermusuhan, penuh arogansi dan tidak stabil. Toleransilah yang bisa membuat perbedaan menjadi kekuatan, mentransformasikan keragaman menjadi keharmonisan. Toleransi memungkinkan masyarakat plural bergerak maju secara dinamis dalam situasi sosial yang damai dan stabil. Momentum hari raya besar Islam seperti Idulfitri, meskipun kita berbeda dalam menentukan awal lebaran, merupakan kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan untuk merajut ukhuwah islamiah, sehingga perbedaan itu justru bisa ditransformasikan menjadi sebuah kekuatan bagi umat Islam.
Dalam pandangan Islam, toleransi merupakan sebagai titik tolak yang penting dalam membangun perdamaian (salam). Al-Qur’an mengajarkan bagaimana membangun perdamaian di tengah masyarakat yang memiliki umat beragama yang berbeda-beda, dan mengakui perbedaan keyakinan dan budaya. Islam menekankan betapa pentingnya pemeliharaan hubungan yang baik, di antara sesama muslim dan penganut agama lain, karena, sebagaimana ditekankan oleh Al-Qur’an, kebebasan dalam menjalankan agama merupakan fondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Al-Qur’an menyeru semua orang yang beriman untuk masuk ke dalam perdamaian dan tidak mengikuti langkah setan (Q.S. 2: 208).
Al-Qur’an memberikan landasan yang kuat bagi toleransi. Hal ini dapat dilihat dalam surat Al-Isrā’ ayat 70 yang menegaskan bahwa manusia diberikan posisi yang mulia di antara makhluk ciptaan-Nya. Ini diikuti oleh tanggung jawab untuk memelihara semua ciptaan oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi. Surat Al-Ma’idah ayat 32 dan Al-An‘am ayat 98 yang berbicara tentang kesamaan asal muasal manusia yang membuat semua manusia saling berhubungan.
Hidup berdampingan secara damai, yaitu hidup bersama dalam suasana saling menghormati dan menghargai, baik dengan sesama muslim maupun penganut agama lain yang berbeda, hemat penulis, tidak cukup. Sebab, masih dimungkinkan timbulnya kesalahpahaman antar-kelompok masyarakat yang pada saat tertentu bisa menimbulkan disintegrasi. Oleh karena itu, penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan ini harus disertai dengan kesediaan untuk bekerja sama, saling tolong-menolong (ta’awun) satu sama lainnya. Tentu dalam bermuamalah, bukan dalam konteks akidah dan ibadah.
Terciptanya tasamuh dalam kehidupan beragama (juga berbangsa) akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Jika keberagamaan tidak memiliki nilai-nilai tasamuh akan mengarah dan membentuk fanatisme yang berlebihan. Nilai ini pada dasarnya sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Semoga warisan kultural yang amat berharga ini bisa kita terus kita rawat, sehingga benar-benar terwujud suasana yang tenteram dan damai (salam). Bukankah ini yang kita dambakan, juga di hari lebaran ini?
Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqablallahu minna wa minkum. Minal aidin aal faizin. Mohon maaf lahir batin.***

