Jihad Harta: Mengaku Berjuang di Jalan Allah, tetapi Hatinya Masih Pelit

Ada sebuah ironi dalam kehidupan beragama yang kadang luput dari perhatian kita. Seseorang bisa berbicara lantang tentang perjuangan Islam, mengajak orang lain berjihad, bahkan mengelola kegiatan dakwah dengan penuh semangat. Namun, ketika tiba saatnya mengeluarkan harta untuk kepentingan umat, tangannya mendadak terasa berat. Lisannya fasih berbicara tentang pengorbanan, tetapi dompetnya seperti memiliki pertahanan berlapis. Inilah kontradiksi yang menarik untuk direnungkan: berjihad dengan harta, tetapi masih memelihara sifat pelit. Padahal, jihad bil maal bukan sekadar aktivitas mengumpulkan dana, membangun lembaga, atau membiayai kegiatan keagamaan. Lebih jauh dari itu, jihad harta merupakan perjuangan melawan kecintaan berlebihan terhadap kekayaan, demi meraih keridaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.:(QS. As-Saff: 11).

Perhatikan susunan ayat tersebut. Harta disebut sebelum jiwa. Ini bukan berarti setiap keadaan menempatkan jihad harta lebih tinggi daripada jihad jiwa, melainkan menunjukkan betapa pentingnya pengorbanan kekayaan dalam perjuangan keimanan. Sebab, bagi sebagian manusia, kehilangan uang terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan kenyamanan hidup.

Ketika harta menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan

Manusia memang memiliki kecenderungan mencintai harta. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, menabung, membangun usaha, atau mengumpulkan kekayaan. Islam bahkan menghargai usaha mencari rezeki yang halal. Persoalannya muncul ketika harta yang semestinya menjadi alat kehidupan justru berubah menjadi penguasa hati. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam QS. Ali ‘Imran: 92 bahwa seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan sebagian harta yang dicintainya.

Ayat ini mengandung pesan mendalam. Yang diuji bukan sekadar kemampuan seseorang mengeluarkan uang, melainkan kesediaannya melepaskan sesuatu yang memang disayanginya. Memberikan barang yang sudah tidak berguna tentu berbeda dengan memberikan sesuatu yang masih bernilai dan dibutuhkan. Karena itu, jihad harta bukan perlombaan nominal sumbangan. Ia adalah pendidikan spiritual tentang keikhlasan, kepedulian, dan keberanian mengalahkan ego kepemilikan.

Pelit yang bersembunyi di balik simbol perjuangan

Ada bentuk kepelitan yang lebih sulit dikenali, yakni ketika seseorang pandai membungkus kepentingan pribadi dengan simbol perjuangan agama. Ia senang tampil sebagai pejuang dakwah, tetapi kurang peduli terhadap kesejahteraan orang-orang yang bekerja di sekitarnya. Bisa jadi ia mudah mengeluarkan uang untuk kegiatan yang disaksikan banyak orang, tetapi sulit memenuhi hak karyawan, membantu tetangga yang kesulitan, atau memperhatikan kebutuhan keluarganya sendiri.

Ada pula yang bersedia menyumbang selama namanya diumumkan, fotonya dipajang, atau kedudukannya dihormati. Ketika tidak ada publikasi dan tepuk tangan, semangat berbagi mendadak kehilangan tenaga. Di sinilah kita perlu membedakan antara pengorbanan dan pencitraan. Tidak semua orang yang gemar menyumbang pasti riya, sebagaimana tidak semua orang yang berhati-hati mengelola hartanya berarti pelit. Penilaian terhadap niat seseorang bukan urusan manusia. Namun, perilaku dan tanggung jawabnya tetap bisa menjadi bahan introspeksi.

Syuhh : Ketika pelit bertemu keserakahan

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memperingatkan bahaya sifat syuhh, yakni kekikiran yang disertai dorongan kuat untuk terus menguasai dan menumpuk harta. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa sifat syuhh telah membinasakan umat-umat terdahulu. Sifat tersebut mendorong mereka melakukan pertumpahan darah dan menghalalkan perkara yang diharamkan.

Pesannya sangat serius. Keserakahan bukan sekadar persoalan seseorang enggan mengeluarkan uang. Jika dibiarkan, ia dapat merusak hubungan sosial, melahirkan ketidakadilan, bahkan mendorong seseorang mengambil hak orang lain. Maka, memerangi syuhh sesungguhnya merupakan bagian dari perjuangan memperbaiki diri. Sebelum seseorang sibuk mengajak orang lain berkorban, ada baiknya ia bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah aku mampu mengalahkan keserakahan dalam hatiku?

Jangan sampai kaya dalam angka, tetapi miskin dalam kepedulian

Ada orang yang hartanya tidak seberapa, tetapi tangannya ringan membantu sesama. Sebaliknya, ada orang yang kekayaannya berlimpah, tetapi selalu merasa kekurangan ketika diminta berbagi. Islam tidak mengukur kemuliaan seseorang semata-mata dari jumlah kekayaannya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana harta diperoleh, digunakan, dan dipertanggungjawabkan.

Jihad harta juga bukan berarti menghabiskan seluruh kekayaan tanpa perhitungan. Nafkah keluarga, kewajiban membayar utang, hak pekerja, dan tanggung jawab sosial harus tetap diperhatikan. Keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban. Sebab, perjuangan di jalan Allah membutuhkan keseimbangan antara pengorbanan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.

Penutup: Sebelum mengajak orang lain berjihad harta, perangilah dahulu sifat pelit dalam diri sendiri. Jangan sampai kita begitu bersemangat membangun gedung dakwah, tetapi lupa membangun kepedulian. Jangan sampai kita bangga menyumbang untuk proyek besar, tetapi abai terhadap penderitaan orang kecil. Jangan pula kita merasa telah berjihad hanya karena nominal sumbangan terpampang di papan pengumuman.

Pada akhirnya, jihad harta bukan tentang seberapa besar angka yang keluar dari rekening, melainkan seberapa besar keikhlasan dan tanggung jawab yang menyertainya. Sebab, Allah tidak membutuhkan kekayaan manusia. Manusialah yang membutuhkan keridaan-Nya. Dan mungkin, musuh terbesar dalam jihad harta bukanlah orang yang tidak punya uang, melainkan orang yang punya banyak uang tetapi tidak pernah merasa cukup untuk berbagi.

Sebuah pertanyaan untuk kita renungkan

Jangan-jangan kita begitu rajin mengajak orang lain berjihad di jalan Allah, tetapi ketika harus mengorbankan harta sendiri, justru kita menjadi orang pertama yang mencari alasan untuk mundur. ***

Referensi

  1. Al-Qur’an, QS. As-Saff: 11 dan QS. Ali ‘Imran: 92 — tentang jihad dengan harta dan menginfakkan harta yang dicintai.
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, hadis tentang bahaya sifat syuhh (kekikiran dan keserakahan).
  3. Al-Qur’an, QS. Al-Hasyr: 9 — tentang keutamaan orang yang menjaga diri dari sifat kikir.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten.