Otak Goreng, Pikiran Krispi : Ketika Scroll Lebih Cepat daripada Berpikir
Konon, manusia adalah makhluk yang berpikir. Namun, belakangan ini tampaknya definisi itu perlu direvisi. Barangkali manusia modern lebih tepat disebut sebagai makhluk yang scrolling. Bangun tidur scrolling, menunggu angkot scrolling, antre kopi scrolling, bahkan sebelum tidur masih scrolling—seolah-olah ibu jari telah mengambil alih tugas otak.
Lucunya, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin sedikit yang benar-benar kita pahami.
Inilah ironi zaman yang disebut brain rot atau “pembusukan otak”. Namanya memang terdengar seperti diagnosis film horor, padahal pelakunya bukan zombie, melainkan kita sendiri yang rela mengubah layar ponsel menjadi habitat utama kehidupan.
Otak kita sebenarnya diciptakan untuk berpikir, menganalisis, dan merenung. Sayangnya, algoritma media sosial punya agenda lain. Ia lebih suka kita tertawa tiga detik, marah lima detik, lalu lupa sepuluh detik kemudian. Bagi algoritma, perhatian manusia adalah komoditas. Semakin lama kita menatap layar, semakin besar keuntungan yang mengalir. Yang kenyang bukan otak kita, melainkan mesin iklan.
Akhirnya, muncul generasi yang hafal seluruh tren TikTok, tetapi lupa di mana terakhir kali meletakkan kunci rumah. Bisa menyebutkan puluhan istilah viral, tetapi kesulitan membaca artikel sepanjang tiga halaman tanpa merasa tersiksa.
Attention span kita kini mungkin lebih pendek daripada durasi iklan yang dulu selalu kita lewati.
Yang lebih menggelikan, kita sering berkata, “Saya hanya buka media sosial lima menit.”
Lalu tiba-tiba ayam tetangga sudah berganti generasi.
Fenomena ini dikenal sebagai zombie scrolling—aktivitas menggeser layar tanpa tujuan, seperti berjalan di lorong supermarket sambil terus memasukkan barang ke keranjang, padahal tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Ironisnya, setelah satu jam menonton video receh, kita merasa lelah seolah baru saja menyelesaikan sidang disertasi. Padahal yang dipikirkan hanya, “Mengapa ada orang yang rela mencampur mi instan dengan es krim?”
Kelelahan mental akibat banjir informasi dangkal ternyata bukan sekadar perasaan. Otak dipaksa terus menerima rangsangan baru tanpa sempat mengolah maknanya. Akibatnya, konsentrasi menurun, emosi lebih mudah meledak, dan pikiran terasa penuh tetapi kosong sekaligus.
Kita hidup di zaman ketika jari bergerak lebih cepat daripada akal.
Padahal, peradaban besar tidak dibangun oleh orang yang paling cepat menggulir layar, melainkan oleh mereka yang mampu berhenti sejenak untuk berpikir.
Membaca buku memang tidak memberikan notifikasi.
Merenung memang tidak menghasilkan likes.
Berdiskusi memang tidak viral.
Namun justru dari aktivitas-aktivitas yang tampak “membosankan” itulah lahir penemuan ilmiah, karya sastra, kebijakan besar, hingga perubahan peradaban.
Satire terbesar zaman ini adalah ketika seseorang bisa menghabiskan empat jam menyaksikan orang asing menari di internet, tetapi merasa lima belas menit membaca buku adalah bentuk penyiksaan.
Barangkali bukan bukunya yang terlalu berat.
Mungkin otaknya sudah terlalu dimanjakan.
Tentu media sosial bukan musuh. Ia hanyalah alat. Pisau bisa digunakan untuk memasak, bisa pula melukai. Persoalannya bukan pada pisaunya, melainkan pada siapa yang memegangnya.
Karena itu, solusi brain rot bukan berarti membuang telepon genggam ke sungai atau pindah tinggal di gua tanpa sinyal. Yang diperlukan adalah mengembalikan manusia sebagai pengendali teknologi, bukan sebaliknya.
Mulailah dengan memberi otak waktu bernapas. Batasi waktu layar di luar pekerjaan, biasakan satu jam tanpa gawai sebelum tidur, kembalilah membaca buku fisik, berjalan kaki, bercakap-cakap tanpa menatap layar, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa merasa harus memotretnya lebih dahulu.
Sesekali, izinkan otak mengalami kesunyian. Karena pikiran yang sehat sering kali tumbuh bukan ketika dipenuhi notifikasi, melainkan ketika diberi ruang untuk mendengar dirinya sendiri.
Dan jika suatu saat Anda merasa jempol bekerja jauh lebih keras daripada otak, mungkin itu bukan pertanda rajin. Bisa jadi itu alarm bahwa sudah waktunya berhenti menggulir layar dan mulai menggulir kembali lembar-lembar kehidupan yang nyata.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa jauh ia berhasil scroll down, melainkan seberapa tinggi ia mampu level up cara berpikirnya.
Jangan sampai ponsel kita semakin pintar, sementara pemiliknya justru semakin kehilangan kebiasaan berpikir.
Karena otak, seperti otot, tidak membusuk karena digunakan. Ia justru membusuk ketika terlalu lama dibiarkan pasif di balik cahaya layar yang tak pernah padam.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

