Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (10): Pemimpin di Tengah “Negeriku Kaya, Bangsaku Miskin”

Konon, bangsa yang tidak memiliki daya kreatif dan miskin imajinasi, bolehlah dikatakan, akan sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Maka,  ketika Tryana Sjam’un menyatakan, “negeriku kaya, bangsaku miskin”, sebenarnya tidak begitu mengherankan. Indonesia memang negara yang kaya akan sumber daya alam. Tapi kekayaan yang melimpah itu tidak punya arti apa-apa jika kita  tidak mempunyai kemampuan untuk mengolahnya dan menjadikannya produk yang bernilai.

Dalam konteks kehidupan bernegara, kemampuan mengelola sumber daya alam itu dengan sendirinya berkaitan dengan pengelolaan negara secara keseluruhan. Dengan bahasa yang lugas dan sederhana Tryana menyatakan, pastilah ada sesuatu yang keliru dalam mengurus negara, jika negeri yang kaya ini penduduknya hidup miskin.  Oleh karena itu, menurut Tryana, orang yang mula-mula mesti bertanggung jawab terhadap problem yang dihadapi anak bangsa, seperti kemiskinan dan kebodohan adalah para pemimpin negara ini. Sebab merekalah yang diberi mandat, dan sudah bersumpah pula, untuk mengurus negeri ini sebaik-baiknya. Salah satu yang menjadi titik keprihatinan Tryana Sjam’un selama ini memang terkait dengan performa para elite pimpinan negeri ini. Terkait hal ini, Tryana sering mengutip Abdullah ibn Al-Mubarak, salah satu tokoh klasik dalam sejarah Islam, yang mengatakan, bahwa makmur tidaknya rakyat tergantung kepada bagaimana pemimpin membuat aturan.”

Bersama Pengurus Yastu di Pandeglang

Pada Tryana, pemimpin dituntut untuk mengetahui gejolak hati rakyat, berusaha memenuhi harapan-harapan mereka, dan tahu benar ke mana harus membawa rakyatnya menuju. Bukan sekadar menyelesaikan persoalan-persoalan rutin, tapi juga menjadi sumber inspirasi dan keteladanan sehingga rakyat tergerak melaksanakan bukan saja kewajiban-kewajiban mereka  sebagai wrga negara, tetapi juga melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan demikian, mereka akan merasa bahwa mereka punya masa depan yang lebih baik. Untuk sampai pada level atau maqam kepemimpinan seperti ini, menurut Tryana, pertama kali pemimpin itu harus jujur dan tulus. Kredibilitas seorang pemimpin memang bertumpu pada kejujurannya, dan kesediaannya berkorban bagi kepentingan orang banyak tentulah bermula dari ketulusan jiwanya.

Salah satu tugas pokok pemimpin, menurut Tryana, adalah bagaimana merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan untuk mengatasi persoalan akut bangsa. Salah satunya  kemiskinan. “Apabila kemiskinan itu berwujud manusia, pasti akan saya penggal dengan pedangku ini.” Demikian Tryana, mengutip Ali ibn Thalib, sahabat dan sekaligus mantu Nabi Muhammad itu. Kemiskinan bukan hanya akan membawa kesengsaraan hidup, tetapi juga diyakini akan berdampak pada keimanan seseorang. “Orang menjadi miskin,” kata Tryana, “bukan selamanya karena orang itu malas. Kemiskinan bukan pula semata karena suratan takdir, garis nasib, atau faktor keturunan. Kebijakan struktural membuat orang menjadi miskin, marjinal, terpinggirkan, dan terabaikan.”

Menghadiahkan buku dengan dibubuhi tandatangan kepada Gubernur Banten Andra Soni dan Iti Octavia Jayabaya, staf ahli Menteri Transmigrasi dan eks Bupati Lebak.

Lebih jauh, Tryana Sjam’un melihat pemimpin dari perspektif etis dan moral. Yakni sebagai sosok yang membawa dan mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika keberadaan sang pemimpin hanya menyengsarakan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, maka dia tidak pantas disebut sebagai pemimpin. Dari pandangannya itu, selain etis dan moral,  Tryana melihat pemimpin secara fungsional, apa pun definisi orang tentang pemimpin. Dalam konteks kepemimpinan publik, dia adalah orang yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan jiwa, serta keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Tentu saja, dia juga harus seorang yang jujur, tulus, bermoral, mampu memberi motivasi, dan punya kecakapan memimpin.

Menurut Tryana, kekurangmampuan para pemimpin di Indonesia dalam mengelola dan menyelenggarakan pemerintahan yang efektif, berwibawa, bersumber pada kelemahan-kelemahan yang berkaitan dengan akhlak. Kata dia, telah terjadi disorientasi kepemimpinan politik, karena berpolitik dipahami sebatas permainan di pentas kekuasaan. Para pemimpin pemerintahan tampaknya kurang menyadari bahwa amal perbuatan mereka berdampak langsung terhadap kebahagiaan dan kesengsaraan masyarakat. Dia menyatakan, “Jika di Tanah Air  masih banyak rakyat  yang terserang busung lapar, kurang gizi, tingkat kematian bayi yang tinggi, buta huruf, dan rupa-rupa penyakit sosial lainnya, tidak sepatutnya kesalahan hanya ditimpakan kepada mereka yang menjadi korban. Penderitaan mereka, sering muncul sebagai akibat tak terhindarkan dari sistem sosial yang tak ramah” Tryana menegaskan, jika rakyat makmur, pemimpin pasti makmur. Sebaliknya, jika pemimpin makmur, rakyat belum tentu makmur.

Tryana Sjam’un, tidak hanya bicara pemimpin dalam konteks kepemimpinan politik. Sebab fungsi kepemimpinan juga melekat pada mereka yang tidak punya jabatan publik, tetapi memiliki wibawa di tengah-tengah masyarakat. Kiai, misalnya. Dia bukan hanya seorang yang memiliki pengetahuan yang luas di bidang keagamaan, tetapi juga merupakan panutan, bukan saja bagi para santri melainkan juga bagi masyarakat pada umumnya. Kedekatannya dengan masyarakat, menjadikan kiai sebagai figur yang dihormati dan disegani. Melihat posisinya yang sentral itu di dalam masyarakat, tak jarang kiai pun dimanfaatkan oleh elite politik untuk tujuan-tujuan kekuasaan. Kiai, dalam pandangan Tryana, sepatutnya tidak dipolitisasi, dan menolak untuk dipolitisir dalam rangka meraih kekuasaan sesaat. Para pemimpin formal mestinya memperlakukan kiai sebagai sebuah sumur di mana orang bsa memperoleh pandangan yang bersih dan genuine, yang biasanya disampaikan apa adanya. Bersambung