IDUL FITRI DAN TUGAS SUCI MANUSIA

Di Tanah Air, selain ketupat, lebaran identik dengan bermaaf-maafan. Bisa dalam bentuk saling berkunjung, dan tentu saja halal-bihalal. Di lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, kantor, seklah,  organisasi, dan seterusnya. Kesibukan pasca-lebaran yang satu ini  mungkin hanya bisa ditemui di kalangan muslimin di Tanah Air. Apakah akan ada larangan halal-bihalal, demi efisiensi anggaran?

Sebelum ke perkara bermaaf-maafan, Idul Fitri sejatinya mengingatkan kita akan tugas suci manusia. Yakni sebagai   khalifah, duta, Tuhan di  bumi. Dan untuk memangku tugas yang bukan main mulia ini,  manusia harus kembali kepada fitrah-nya yang suci dan baik itu – dan inilah yang sejatinya perlu dirayakan. Sebab  fitrah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta. Jika ada  seseorang yang tidak berbuat kebaikan dan berpaling dari Sang Pemberi hidup, maka sesungguhnya dia telah menyimpang dari fitrah-nya sendiri. 

Lalu bermaaf-maafan. Dan mestinya ini bukan sekadar basa-basi. Tapi harus datang dari lubuk hati – yang dalam. Modal utamanya adalah kemampuan kita memberi maaf. Memang, meminta maaf  tidak selalu mudah, tapi  memberi maaf jauh lebih susah.

Orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya tidak membuat rugi orang lain. Paling banter dia sendiri  yang rugi. Sedangkan orang yang tidak memberi maaf bisa mendatangkan mudarat bagi orang lain dan dirinya sendiri.  Boleh jadi ia melakukan pembalasan kepada orang lain, dengan berbagai akibat yang ditimbulkannya. Dan bagi dirinya sendiri  boleh jadi akan mendatangkan kerusakan. Sebab dengan tidak memberi maaf, ia otomatis menyimpan dendam. Bahkan bisa menimbulkan  frustrasi jika ia tak mampu membalas. Tentu saja itu berdampak  sangat buruk bagi kesehatannya. Jiwa maupun raga. Untuk itu kita simak terjemahan ayat Qur’an berikut ini:  

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluruh langit dan bumi, disediakan bagi mereka yang takwa: Mereka yang berinfak di dalam kelapangan maupun kesempitan, yang mampu menahan marah, dan yang  memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang budiman; Mereka yang ‘pabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mengingat Allah, lalu memohon ampun untuk dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang mengampuni segala dosa kecuali Allah? Sedangkan mereka berlarut-larut dalam perbuatan mereka sementara mereka tahu. Mereka itulah yang balasannya pengampunan dari tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka kekal. Itulah sebaik-baik pahala orang beramal. (Q. 3:133-136).

Dalam  Q.S. 42l 40,  memang disebutkan bahwa balasan kejahatan  adalah  kejahatan yang setimpal.Tetapi juga segera dikatakan, “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dalam tanggungan Allah.” Dengan kata lain, memaafkan dan berbuat baik lebih tinggi derajatnya daripada membalas, meskipun membalas (setimpal) diperbolehkan. Yang hebat ialah bahwa ajaran mengampuni itu diulangi lagi sebagai penutup rangkaian ayat: “Adapun orang yang sabar dan mengampuni maka yang demikian itu termasuk hal-hal yang utama sekali” (. Q.S. 42: 43).

Selamat Idul Fitri  1447 H. Taqabballahu minna wa minkum. Minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.