Ketika Mata Melihat, tetapi Hati Menolak
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,” (QS. Ali Imran 190)
Konon, ada seseorang yang sangat yakin bahwa alam semesta terjadi tanpa Tuhan. Baginya, kehidupan hanyalah rangkaian proses alamiah. Tidak ada Pencipta, tidak ada kehendak Ilahi, dan tidak ada kehidupan setelah kematian. Suatu hari, ia berdiri di bawah langit malam. Bintang-bintang bertaburan seperti cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Ia memandang bulan, galaksi, dan luasnya alam semesta yang seolah tak bertepi. Seorang sahabat bertanya, “Tidakkah semua ini membuatmu berpikir tentang siapa yang menciptakan dan mengaturnya?”
Ia tersenyum. “Tidak. Semua itu bisa dijelaskan oleh sains.” Beberapa waktu kemudian, ia melihat keajaiban kehidupan. Sebuah benih kecil ditanam di tanah. Dari sesuatu yang tampak mati, tumbuhlah akar, batang, daun, bunga, bahkan buah. Sahabatnya kembali bertanya, “Bukankah keteraturan kehidupan ini menunjukkan adanya kebijaksanaan yang luar biasa?”
Ia menjawab, “Evolusi dan proses biologis bisa menjelaskannya.” Kemudian ia melihat tubuh manusia: jantung yang berdetak tanpa diperintah secara sadar, paru-paru yang bekerja tanpa diminta, otak yang begitu kompleks, dan milyaran sel yang menjalankan fungsi masing-masing. Namun jawabannya tetap sama. “Semua itu proses alam.” Sahabatnya akhirnya berkata pelan, “Mungkin persoalannya bukan lagi tentang berapa banyak tanda yang sudah engkau lihat.”
Ia terdiam. “Bisa jadi persoalannya adalah apa yang ingin engkau akui setelah melihat tanda-tanda itu.”Sebab seseorang bisa melihat matahari terbit setiap pagi, tetapi tetap mengatakan bahwa tidak ada cahaya. Bisa melihat keteraturan alam semesta, tetapi menganggapnya sekadar kebetulan. Bisa menyaksikan keajaiban kehidupan, tetapi menolak kemungkinan adanya Sang Pencipta.
Dalam perspektif iman Islam, masalahnya bukan semata-mata kurangnya tanda. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia melihat, berpikir, merenung, dan menggunakan akal terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Tetapi penglihatan saja tidak selalu membuat seseorang menerima kebenaran. Mata dapat melihat objek, tetapi hati dan akal menentukan bagaimana objek itu dimaknai.
Karena itu, janganlah merasa bahwa setiap orang yang tidak percaya pasti belum pernah melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Bisa saja ia telah melihat begitu banyak tanda, tetapi memiliki kerangka berpikir yang membuatnya menafsirkan semua tanda tersebut secara berbeda. Di sinilah pentingnya dakwah yang bijaksana. Bukan dengan mencaci ateis. Bukan dengan merendahkan orang yang berbeda keyakinan.
Dan bukan pula dengan merasa paling pintar. Sebab hidayah bukan hasil kemenangan debat. Tugas manusia adalah menyampaikan, menjelaskan, mengajak berpikir dan menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik. Membuka hati seseorang tetap bukan berada di tangan manusia. Ada orang yang melihat satu tanda lalu tersadar. Ada yang membutuhkan ribuan tanda. Dan ada pula yang mungkin melihat ribuan tanda, tetapi tetap berkata, “Itu semua kebetulan.”
Maka seorang mukmin seharusnya tidak sombong ketika melihat orang lain belum percaya. Sebaliknya, ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah setelah melihat begitu banyak tanda kekuasaan Allah, saya sendiri sudah semakin dekat kepada-Nya?” Sebab tanda-tanda kebesaran Allah bukan hanya untuk memenangkan perdebatan dengan orang lain.
Tanda-tanda itu pertama-tama adalah undangan bagi diri kita sendiri untuk mengenal, mengagumi, dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta.
Hanya orang yang menggunakan akalnya dengan jernihlah yang mampu mengakui adanya Tuhan, dan hanya hidayah Allah-lah yang menjadi faktor terbukanya akal manusia untuk menerima kebenaran. Karena itu, janganlah kita merasa paling pintar ketika melihat orang lain belum percaya. Bisa jadi, yang perlu kita mohonkan bukan hanya agar orang lain mendapatkan hidayah, tetapi juga agar Allah senantiasa membuka dan menerangi akal serta hati kita sendiri.
“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.”(Q.S. Al-Qashash: 56)
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

