Buya Hamka: Puasa Solusi Praktis Mengatasi Kekacauan Moral
Dalam khazanah pemikiran Islam modern di Indonesia, sosok Buya Hamka dikenal mampu membedah persoalan agama dengan kacamata sosial-filosofis yang tajam. Salah satu ulasannya yang paling relevan bagi manusia modern adalah mengenai hakikat puasa sebagai solusi praktis atas keguncangan peradaban yang disebabkan oleh nafsu yang tak terkendali.
Buya Hamka membuka cakrawala kita dengan membandingkan dua kutub pemikiran Barat yang dominan. Beliau menyinggung Karl Marx yang seabad lalu menyatakan bahwa penggerak dunia hanyalah urusan perut dan ekonomi. Namun, Hamka memberikan catatan kritis: “Asal mulanya hanya berupa kebutuhan mencari sepiring nasi… tetapi dalam masa yang tidak lama berkembang menjadi nafsu yang mengumpulkan harta banyak-banyak, tanpa memedulikan nasib orang lain – digencet, ditindas, atau dihancurkan.”
Tak berhenti di situ, Hamka juga menyoroti Sigmund Freud yang mereduksi kecerdasan dan kegagalan manusia hanya pada urusan libido atau seks (faraj). Dampaknya, menurut Hamka, adalah kekacauan moral di mana hubungan manusia merosot ke derajat binatang. Dia menuliskan kegelisahannya: “Nilai dan kesucian kawin tidak ada lagi. Hubungan laki-laki dengan perempuan sudah sangat chaos (kacau) dan mengerikan… persis seperti binatang.”
Namun, Hamka mengingatkan bahwa 700 tahun sebelum Marx dan Freud, Islam melalui Imam Al-Ghazali telah memberikan diagnosa yang lebih utuh. Al-Ghazali mengakui adanya dua faktor penentu hidup: syahwat perut dan syahwat faraj. Bedanya, Islam tidak membiarkan manusia didikte oleh keduanya, melainkan dikendalikan oleh akal dan agama.
Bagi Buya Hamka, di sinilah letak kejeniusan syariat puasa. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi jiwa untuk berkuasa atas raga. Dia menegaskan: “Puasa adalah kendali atas syahwat perut dan faraj satu bulan lamanya. Nafsu makan dan seks dikendalikan. Walaupun beras yang dimasak menjadi nasi adalah hasil pencarianmu yang halal… dia tidak boleh engkau makan ketika puasa.”
Logika yang dibangun Hamka sangat sederhana namun menohok. Dia menekankan bahwa latihan selama satu bulan ini akan membekas kuat bagi jiwa manusia. Jika terhadap hal yang legal dan sah saja kita sanggup berkata “tidak” demi ketaatan, maka secara mental kita akan lebih kuat menghadapi godaan yang haram. “Sedang terhadap barang yang halal dia bisa menguasai diri, apalagi terhadap yang haram. Inilah arti ‘la’allakum tattaqun, mudah-mudahan kalian bertakwa,'” kata ketua umum pertama Majelis Ulama Indoneia (MUI) itu.
Sebagai penutup, Buya Hamka memandang puasa sebagai proses transformasi manusia dari budak nafsu menjadi makhluk yang berakal murni. Puasa adalah “solusi praktis” bagi penyakit masyarakat modern yang terlalu mendewakan materi dan syahwat. “Puasa adalah latihan dan didikan, pembentukan akal dan budi, untuk menaklukan hawa nafsu, untuk berganti ke akal murni yang sesuai dengan agama,” kata Buya.
Melalui ulasan ini, Buya Hamka mengajak kita merenungi kembali QS. Al-Baqarah: 183. Bahwa kewajiban puasa bukan untuk menyiksa fisik, melainkan untuk mengangkat derajat manusia agar tetap tegak sebagai khalifah yang berakal, bukan sekadar pemuas perut dan syahwat.
Sumber: Disarikan dari tulisan Buya Hamka yang dimuat majalah Panji Masyarakat, 12 Januari 1998.

