Berpulangnya Jenderal “Santri” Try Sutrisno
Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6, telah berpulang ke rahmatullah, Senin pagi, 3 Maret 2026. Atau di hari ke-12 bulan suci Ramadan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Jenderal Haji Try Sutrisno meninggalkan warisan kepemimpinan yang unik. Yakni perpaduan antara ketegasan prajurit dan kelembutan seorang santri.
Dari Ajudan hingga Pucuk Pimpinan
Lahir di Surabaya pada 15 0November 1935, perjalanan hidup Try Sutrisno adalah cerminan dedikasi tanpa henti. 0Memulai karier dari Akademi Teknik Angkatan Darat 0(ATEKAD), namanya mulai dikenal luas saat terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974. Posisi strategis ini menjadi kawah candradimuka yang membentuk kematangan berpolitiknya.
Kariernya melesat mulus: dari Pangdam IV/Sriwijaya, Pangdam V/Jaya, Kasad, hingga memuncak sebagai Panglima ABRI (1988-1993) dan Wakil Presiden (1993-1998). Namun, di balik deretan bintang di pundaknya, dunia mencatat sisi kemanusiaannya yang paling menonjol saat beliau menjabat sebagai Pangdam V/Jaya.
Simbol Sorban di Leher Baju Dinas
Tahun 1984 adalah masa ujian terberat bagi stabilitas Jakarta. Pasca-peristiwa Tanjung Priok yang melibatkan benturan antara aparat dan massa, suasana ibu kota sangat mencekam. Di titik inilah, Try Sutrisno muncul bukan dengan wajah militer yang angkuh, melainkan sebagai sosok yang merangkul.
Dalam ingatan kolektif masyarakat Jakarta, terpahat citra Pak Try yang mendatangi simpul-simpul massa Islam. Beliau kerap terlihat mengenakan seragam dinas tentara dengan sorban yang tersampir di leher. Pemandangan ini bukan sekadar gaya berpakaian, melainkan pesan visual yang kuat: bahwa militer adalah bagian dari umat, dan umat adalah bagian dari bangsa.
Beliau mendatangi masjid-masjid, duduk bersila bersama para ulama, dan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh kunci seperti K.H. Syukron Ma’mun dan tokoh-tokoh di kawasan Priok. Langkah ini sangat efektif meredam amarah dan membangun kembali jembatan komunikasi yang sempat terputus.
Hingga akhir hayatnya, Jenderal Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga tata krama. Dia adalah pemimpin yang mengedepankan musyawarah dan ishlah (perdamaian). Bahkan setelah pensiun, dia tetap menjadi rujukan bagi para pemimpin muda karena pandangannya yang moderat dan sikapnya yang sangat menghargai ulama.
Bagi beluau, loyalitas kepada negara tidak harus mengorbankan identitas sebagai seorang Muslim yang taat. Beliau membuktikan bahwa wibawa seorang Jenderal justru memancar kuat dari sikap yang rendah hati (tawadhu).
Selamat jalan, Pak Try. Indonesia akan selalu mengenang langkah kaki Anda yang ringan saat mendatangi rumah-rumah Tuhan demi menjaga persatuan bangsa. Semoga segala bakti dan niat tulus Anda menjadi amal jariyah yang tak terputus.

