Wahyu dan Sains : Dua Jalan Membaca Kebesaran Allah
Anggapan bahwa wahyu Allah dan sains tidak memiliki korelasi adalah cara pandang yang terlalu menyederhanakan persoalan. Dalam perspektif Islam, wahyu dan alam bukan dua realitas yang berdiri sendiri. Wahyu adalah ayat yang dibaca, sedangkan alam adalah ayat yang diamati. Keduanya sama-sama menunjuk kepada kebesaran Allah.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta berbagai fenomena kehidupan. QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191, misalnya, menghubungkan pengamatan terhadap penciptaan alam dengan aktivitas berpikir dan mengingat Allah. Dorongan semacam ini menunjukkan bahwa Islam tidak memusuhi nalar, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Di sinilah konsep sunnatullah menjadi penting. Sains berusaha membaca keteraturan hukum alam melalui observasi, eksperimen, pengukuran, dan penalaran. Dalam perspektif tauhid, hukum-hukum alam tersebut bukan sesuatu yang berdiri di luar kehendak Allah, melainkan keteraturan yang melekat pada ciptaan-Nya. Karena itu, mempelajari alam semestinya tidak menjauhkan manusia dari Tuhan, tetapi justru membuka jalan untuk semakin mengagumi kebesaran-Nya.
Namun, ada satu hal yang perlu dikritisi. Al-Qur’an bukan buku teks fisika, biologi, kimia, atau astronomi. Karena itu, kita tidak perlu memaksakan setiap ayat menjadi rumus ilmiah dan menganggap setiap penemuan terbaru sebagai “bukti ilmiah” Al-Qur’an. Sikap seperti itu justru berisiko menjadikan teori ilmiah yang masih dapat berubah sebagai ukuran kebenaran wahyu.
Sains memiliki keterbatasan metodologis. Ia sangat kuat menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi melalui realitas yang dapat diamati dan diteliti. Tetapi pertanyaan tentang untuk apa manusia hidup, apa makna keberadaan, dari mana nilai moral memperoleh landasan, dan apa yang terjadi setelah kematian tidak seluruhnya dapat diselesaikan melalui eksperimen laboratorium. Di wilayah inilah wahyu memberikan orientasi dan makna.
Maka, ketika suatu temuan ilmiah tampak berbeda dengan pemahaman kita terhadap ayat, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa wahyu bertentangan dengan sains. Bisa jadi pemahaman kita terhadap ayat yang perlu dikaji ulang. Bisa pula teori ilmiahnya belum mencapai tingkat kepastian sebagaimana yang kita bayangkan. Yang perlu rendah hati adalah manusia, baik ketika membaca kitab suci maupun ketika membaca alam.
Pada akhirnya, wahyu membimbing akal, akal membaca alam, dan ilmu pengetahuan seharusnya membawa manusia semakin mengenal kebesaran Penciptanya. Persoalannya bukan apakah kita harus memilih agama atau sains, melainkan bagaimana keduanya ditempatkan secara proporsional dalam pencarian kebenaran.
Sebab semakin luas ilmu yang kita kuasai, semestinya semakin dalam pula kesadaran bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’ [17]: 85).
Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Sebab pada akhirnya, semakin jauh manusia menyelami rahasia alam, semakin jelas pula betapa luas ilmu Allah yang belum mampu dijangkaunya.***
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

