Gunung Karang : Ketika Langkah Kaki Menjadi Jalan Pulang Menuju Allah
“Naik gunung itu melelahkan.”
Kalimat itu mungkin menjadi kesan pertama bagi siapa saja yang pernah mendaki. Namun, bagi saya, setiap perjalanan menuju puncak Gunung Karang di Kabupaten Pandeglang, Banten, selalu menyisakan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa lelah. Gunung ini bukan hanya menawarkan panorama alam yang memanjakan mata, melainkan juga menghadirkan ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri dan, pada akhirnya, semakin mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Gunung Karang menjulang sekitar 1.778 meter di atas permukaan laut. Bagi para pendaki di Banten, gunung ini bukanlah nama yang asing. Jalurnya dikenal cukup menantang dengan tanjakan yang panjang, akar-akar pohon yang menjalar di sepanjang lintasan, bebatuan besar yang licin ketika musim hujan, serta udara yang semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian. Di balik tantangan itu, tersimpan keindahan hutan tropis yang masih terjaga, suara burung yang bersahutan, serta mata air pegunungan yang jernih. Tidak mengherankan jika Gunung Karang menjadi salah satu tujuan favorit bagi para pecinta alam maupun mereka yang sekadar ingin melepaskan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota.
Perjalanan kami dimulai ketika langit masih gelap. Azan Subuh dari masjid-masjid di kaki gunung terdengar bersahut-sahutan. Setelah menunaikan salat, kami saling bersalaman, memanjatkan doa, lalu mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam maknanya. Di hadapan gunung, manusia menyadari bahwa tidak ada teknologi yang dapat menggantikan ikhtiar. Tidak ada kendaraan yang dapat membawa kita langsung ke puncak. Yang ada hanyalah kaki yang melangkah, paru-paru yang bekerja keras, hati yang terus berharap, serta pertolongan Allah yang tidak pernah putus.
Semakin jauh melangkah, semakin terasa bahwa kehidupan modern perlahan tertinggal di belakang. Tidak ada suara klakson kendaraan, tidak ada rapat daring, tidak ada notifikasi telepon genggam yang terus berbunyi. Hanya terdengar desir angin yang menyelinap di sela dedaunan, nyanyian burung, suara serangga, dan sesekali derit ranting yang terinjak. Keheningan itu ternyata bukan sesuatu yang menakutkan. Justru di sanalah hati mulai berbicara.
Saya teringat bagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sering berkhalwat di Gua Hira sebelum menerima wahyu pertama. Kesunyian rupanya bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang bagi manusia untuk membersihkan hati dari kebisingan dunia. Barangkali kita memang terlalu sering mendengar suara orang lain, tetapi terlalu jarang mendengar suara hati sendiri. Gunung mengajarkan bahwa ketenangan bukan ditemukan di tempat yang ramai, melainkan pada hati yang mampu mengingat Allah.

Di salah satu tanjakan yang cukup curam, napas mulai memburu. Keringat membasahi pakaian meskipun udara pegunungan begitu dingin. Langkah menjadi pendek. Otot kaki mulai terasa berat. Saat itulah terlintas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat yang selama ini sering dibaca tiba-tiba terasa hidup. Gunung seolah berkata, “Teruslah melangkah. Tidak perlu terburu-buru.” Dalam hidup pun demikian. Allah tidak meminta kita menjadi manusia paling cepat atau paling hebat. Yang Dia kehendaki adalah istiqamah, tetap berjalan di jalan yang benar meskipun perlahan.
Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang sedang turun. Wajah mereka tampak lelah, tetapi penuh kepuasan. Salah seorang di antara mereka hanya berkata singkat, “Sedikit lagi, semangat.” Kalimat sederhana itu terasa seperti energi baru. Saya pun teringat sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bahwa senyum kepada saudara adalah sedekah. Ternyata sedekah tidak selalu berupa materi. Sebuah senyuman, doa, atau kata-kata yang menguatkan dapat menjadi penopang semangat bagi orang lain yang sedang berjuang.
Semakin tinggi kami mendaki, pepohonan mulai diselimuti lumut tebal. Udara berubah semakin sejuk. Kabut turun perlahan, menyelimuti jalur hingga pandangan hanya beberapa meter ke depan. Dalam suasana seperti itu, manusia belajar tentang keterbatasan. Kita tidak bisa melihat keseluruhan jalan. Kita hanya mampu melihat beberapa langkah di depan. Bukankah kehidupan juga demikian? Allah tidak memperlihatkan seluruh masa depan kepada manusia. Dia hanya memberikan petunjuk untuk melangkah hari ini. Karena itulah iman menjadi cahaya yang menerangi perjalanan.
Saya merenung, mengapa manusia sering merasa cemas terhadap masa depan yang belum terjadi? Padahal Allah telah berulang kali mengingatkan agar orang-orang beriman bertawakal setelah berikhtiar. Gunung mengajarkan tawakal dalam bentuk yang sangat nyata. Kita sudah mempersiapkan fisik, membawa perlengkapan, mempelajari jalur, tetapi tetap saja keselamatan berada dalam genggaman Allah. Tidak ada satu pun pendaki yang mampu menjamin dirinya pasti sampai di puncak tanpa izin-Nya.
Sesampainya di puncak, kabut perlahan membuka tirainya. Hamparan perbukitan hijau terbentang sejauh mata memandang. Sawah-sawah tampak seperti mozaik berwarna zamrud. Permukiman penduduk terlihat sekecil titik. Di kejauhan tampak garis pantai yang memisahkan daratan dengan lautan luas. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan keindahan itu selain satu kalimat yang spontan terucap, “Subhanallah.”
Pada saat seperti itulah saya benar-benar merasakan betapa kecilnya manusia. Dari bawah, rumah tampak megah. Dari atas gunung, semuanya hanya titik kecil yang hampir tak terlihat. Jabatan yang dibanggakan, kendaraan yang dipamerkan, kekayaan yang diperebutkan, semuanya kehilangan ukurannya ketika dilihat dari perspektif kebesaran ciptaan Allah. Gunung mengajarkan kerendahan hati tanpa perlu berceramah.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan gunung sebagai tanda kekuasaan Allah. Gunung disebut sebagai pasak-pasak bumi yang meneguhkan daratan. Ia berdiri kokoh selama ribuan tahun, sementara manusia datang dan pergi silih berganti. Betapa sering kita merasa memiliki dunia, padahal usia manusia hanyalah sekejap dibandingkan umur gunung yang telah menjadi saksi pergantian generasi demi generasi.
Di kawasan Gunung Karang juga hidup tradisi keagamaan yang cukup kuat. Di lereng-lerengnya terdapat kampung-kampung religius dan sejumlah pesantren yang sejak lama menjadi pusat pendidikan Islam di Banten. Kehadiran para ulama yang membimbing masyarakat menunjukkan bahwa kedekatan dengan alam tidak pernah dipisahkan dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Alam menjadi madrasah yang mengajarkan ketawadukan, sedangkan ilmu agama menjadi kompas agar kekaguman kepada alam tidak berubah menjadi pengagungan terhadap selain Allah.
Perjalanan turun gunung memberikan pelajaran yang tidak kalah penting. Anehnya, banyak pendaki justru terpeleset ketika perjalanan pulang. Saat merasa tujuan telah tercapai, kewaspadaan mulai berkurang. Saya pun merenung. Bukankah dalam kehidupan juga demikian? Tidak sedikit orang yang tergelincir justru ketika berada di puncak karier, puncak kekayaan, atau puncak popularitas. Kesuksesan sering kali melahirkan rasa aman yang semu. Karena itu Islam mengajarkan tawaduk. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin rendah seharusnya hatinya di hadapan Allah.
Ketika akhirnya kami tiba kembali di kaki gunung menjelang sore, pakaian telah dipenuhi lumpur, sepatu basah, tubuh terasa pegal, dan wajah menghitam karena debu. Anehnya, hati justru terasa jauh lebih ringan. Saya pulang tidak hanya membawa foto-foto indah atau cerita tentang perjalanan yang melelahkan. Saya pulang membawa kesadaran baru bahwa hidup ini pada hakikatnya adalah pendakian panjang menuju perjumpaan dengan Allah. Ada tanjakan berupa ujian, ada jalan landai berupa nikmat, ada kabut berupa kebingungan, dan ada puncak berupa rasa syukur. Semua itu harus dilalui dengan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal.
Sejak perjalanan itu, saya tidak lagi memandang gunung hanya sebagai objek wisata. Gunung adalah ruang tafakur. Ia menjadi tempat di mana manusia belajar mengenali dirinya sendiri. Ketika ego mulai melemah karena kelelahan, hati justru menjadi lebih peka mendengar panggilan Ilahi. Di tengah keheningan hutan, saya merasakan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya yang mau merenung.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, laksana seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu melanjutkan perjalanan. Pendakian Gunung Karang seakan menjadi gambaran nyata hadis tersebut. Kita datang membawa sedikit bekal, menempuh perjalanan yang tidak mudah, menikmati keindahan sesaat, lalu kembali turun. Tidak ada seorang pun yang tinggal selamanya di puncak. Begitu pula kehidupan di dunia. Semua hanyalah persinggahan sebelum kembali kepada Allah.
Karena itu, jika suatu hari Anda berkesempatan mendaki Gunung Karang, jangan hanya menyiapkan ransel, jaket, tongkat pendakian, dan bekal makanan. Bawalah pula hati yang siap belajar. Perbanyaklah zikir sepanjang perjalanan, jagalah salat, hormatilah alam sebagai amanah Allah, jangan meninggalkan sampah, dan perlakukan setiap langkah sebagai ibadah. Bisa jadi, ketika Anda kembali ke rumah, tubuh memang terasa letih, tetapi jiwa menjadi lebih tenang, iman bertambah kuat, dan hati semakin yakin bahwa sebesar apa pun dunia ini, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tujuan akhir setiap perjalanan manusia.
Sebab pada akhirnya, pendakian yang paling berat bukanlah menuju puncak Gunung Karang, melainkan mendaki tangga-tangga keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagaimana setiap langkah di lereng gunung selalu mendekatkan kita ke puncak, semoga setiap amal saleh yang kita lakukan juga semakin mendekatkan kita kepada ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Boleh jadi, puncak Gunung Karang hanyalah setinggi 1.778 meter di atas permukaan laut. Namun sesungguhnya, yang sedang didaki bukan sekadar lereng-lereng batu, akar-akar pohon, atau jalur yang menanjak. Yang sedang didaki adalah diri sendiri—ego yang harus ditaklukkan, kesombongan yang harus diruntuhkan, kesabaran yang harus dipelihara, dan keimanan yang harus terus diteguhkan.
Setiap langkah yang terasa berat mengingatkan bahwa menuju ridha Allah memang tidak pernah ditempuh dengan jalan yang mudah. Ada kalanya kita harus melewati tanjakan ujian, kabut keraguan, hujan kesedihan, bahkan kelelahan yang seolah membuat kita ingin berhenti. Namun selama hati tetap bertumpu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap langkah kecil akan bernilai ibadah dan setiap tetes peluh akan menjadi saksi kesungguhan seorang hamba.
Di puncak Gunung Karang, manusia belajar bahwa kebesaran bukanlah milik dirinya. Gunung yang menjulang tetap tegak tanpa merasa angkuh, sementara manusia yang begitu kecil justru sering terjebak oleh kesombongan. Dari ketinggian itulah kita memahami bahwa dunia yang selama ini diperebutkan ternyata hanyalah setitik di hadapan keagungan ciptaan Allah. Jabatan, harta, popularitas, dan segala kebanggaan duniawi akan sirna, sedangkan amal saleh akan tetap menemani perjalanan menuju kehidupan yang abadi.
Mungkin itulah sebabnya Allah berkali-kali mengajak manusia memperhatikan gunung-gunung dalam Al-Qur’an. Gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan ayat-ayat kauniyah yang mengajarkan keteguhan, kesabaran, kerendahan hati, dan ketauhidan. Siapa yang mendakinya dengan hati yang hidup akan pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan. Ia pulang membawa kesadaran bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat menuju kampung akhirat.
Semoga setiap langkah kaki yang pernah menapaki lereng Gunung Karang menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita pernah berusaha mengenal kebesaran-Nya melalui ciptaan-Nya. Dan semoga setiap pendakian di bumi menjadi latihan untuk pendakian yang sesungguhnya: mendaki tangga-tangga keikhlasan, ketakwaan, dan amal saleh hingga akhirnya kita dipanggil pulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang tenang.
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30).**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

