Sebelum Sharing, Sudahkah Anda Membaca? Jempol Boleh Cepat, Nalar Jangan Terlambat
Global data sharing data concept illustration of young people using mobile smartphone to share posts and news in social networks. Flat human hand holds smart phone to make repost of video and news
Di era digital, ada istilah “asbag” alias asal bagi, belum dibaca tuntas tapi sudah secepat kilat bagi bagi info tanpa verifikasi, tanpa di baca dulu. Atau lebih parahnya tidak mengerti apa yang dibagi. Tampaknya ada satu perlombaan yang pesertanya tidak pernah kekurangan peminat: siapa paling cepat membagikan informasi. Hadiahnya bukan piala, melainkan kepuasan sesaat karena merasa menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar.
Sayangnya, ada satu kebiasaan yang sering tertinggal, yaitu membaca.
Fenomena sharing tanpa membaca kini menjadi penyakit sosial yang semakin lazim. Banyak orang hanya membaca judul, melihat gambar, atau sekilas membaca dua-tiga kalimat pertama, lalu dengan penuh keyakinan menekan tombol share. Seolah-olah judul sudah cukup mewakili seluruh isi, padahal tidak sedikit judul dibuat bombastis demi menarik perhatian pembaca.
Ironisnya, mereka yang belum selesai membaca justru sering menjadi penyebar informasi paling aktif. Berita beredar dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, dari media sosial ke ruang percakapan keluarga, tanpa sempat diperiksa apakah isinya benar atau sekadar umpan klik (clickbait).
Mengapa ini terjadi? Salah satunya karena kita hidup di zaman serba instan. Jempol bergerak lebih cepat daripada mata membaca, sementara emosi sering berlari lebih kencang daripada akal sehat. Ketika sebuah informasi memancing marah, takut, atau haru, refleks pertama bukan memverifikasi, melainkan membagikannya.
Padahal, setiap tombol share membawa tanggung jawab. Informasi yang keliru dapat berubah menjadi hoaks yang memicu kepanikan, merusak nama baik seseorang, memperuncing perbedaan, bahkan memecah belah masyarakat. Yang lebih menggelitik, kadang orang yang paling lantang mengingatkan agar tidak percaya hoaks justru tanpa sadar menjadi agen penyebarnya.
Inilah satire zaman digital: semakin mudah membagikan informasi, semakin sedikit yang bersedia memahaminya. Kita rajin mengirim, tetapi enggan menyimak. Sibuk menyebarkan, tetapi malas memastikan.
Padahal, membaca bukan sekadar mengeja huruf demi huruf. Membaca adalah latihan berpikir. Ia mengajarkan kita memahami konteks, membedakan fakta dari opini, serta menguji apakah sebuah informasi memang layak dipercaya.
Karena itu, prinsip lama yang sederhana tetap menjadi obat paling ampuh: saring sebelum sharing. Bacalah sampai selesai, periksa sumbernya, bandingkan dengan referensi yang kredibel, lalu putuskan apakah informasi tersebut benar-benar layak dibagikan.
Jangan sampai kita menjadi kurir kebohongan hanya karena enggan menjadi pembaca yang teliti.
Pada akhirnya, kualitas masyarakat digital tidak diukur dari seberapa cepat mereka membagikan informasi, melainkan dari seberapa bijak mereka memahaminya. Di tengah banjir informasi, kemampuan membaca kritis jauh lebih berharga daripada sekadar kecepatan menekan tombol share.
Sebab, satu menit membaca dapat mencegah berjam-jam kebingungan, kesalahpahaman, bahkan perpecahan.
Maka, sebelum jempol kembali beraksi, izinkan mata membaca, akal berpikir, dan hati mempertimbangkan. Karena masyarakat yang cerdas bukanlah masyarakat yang paling cepat sharing, melainkan masyarakat yang paling bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disebarkannya.***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

