Jangan Marah, Imun Bisa Ikut Tumbang

Ada orang yang sangat menjaga pola makan. Vitamin diminum setiap pagi. Olahraga dilakukan tiga kali seminggu. Tidur cukup. Tetapi semua ikhtiar itu mendadak “dikalahkan” oleh satu kebiasaan yang sering dianggap sepele: mudah marah.

Ironisnya, kita rela membeli suplemen mahal untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tetapi membiarkan emosi meledak-ledak setiap hari. Padahal, musuh terbesar sistem imun terkadang bukan virus, melainkan amarah yang kita pelihara sendiri.

Ilmu kedokteran modern semakin banyak menunjukkan bahwa emosi dan kesehatan tubuh memiliki hubungan yang sangat erat. Saat seseorang marah, tubuh segera melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Dalam jangka pendek hormon ini memang membantu tubuh bersiap menghadapi ancaman. Namun jika kemarahan sering terjadi, efeknya justru merugikan.

Kadar Imunoglobulin A (IgA), salah satu benteng pertahanan pertama tubuh terhadap kuman, dapat menurun. Aktivitas sel darah putih pun menjadi kurang optimal dalam melawan infeksi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kemarahan yang berlangsung hanya beberapa menit saja dapat menekan sistem kekebalan tubuh selama beberapa jam setelahnya. Jika kondisi ini berulang setiap hari, tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Bahkan, kadar kortisol yang terus tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga peradangan kronis.

Menariknya, lebih dari empat belas abad yang lalu, Islam telah memberikan “terapi preventif” yang kini justru dibenarkan oleh sains modern.

Suatu hari seseorang meminta nasihat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Jawaban beliau sangat singkat namun mendalam. “Lā taghdab (Jangan marah).:

Orang itu meminta nasihat berkali-kali. Namun Rasulullah tetap mengulang jawaban yang sama: *Jangan marah.”

Pesan yang singkat ini ternyata mengandung hikmah luar biasa. Nabi tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh memiliki emosi. Marah adalah fitrah. Yang dilarang adalah membiarkan amarah menguasai akal, lisan, dan tindakan.

Al-Qur’an bahkan memuji orang-orang yang mampu mengendalikan emosinya. “…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Ali ‘Imran: 134)*

Dalam perspektif psikologi modern, kemampuan mengendalikan emosi merupakan salah satu indikator kecerdasan emosional (emotional intelligence). Dalam Islam, kemampuan itu bernilai lebih tinggi lagi: ia adalah bentuk ketakwaan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga memberikan langkah-langkah praktis ketika amarah mulai muncul. Beliau menganjurkan agar seseorang:

  • berwudu karena amarah berasal dari godaan setan, sedangkan air membantu menenangkan diri;
  • mengubah posisi, dari berdiri menjadi duduk, atau dari duduk menjadi berbaring;
  • membaca ta’awudz: A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim;
  • dan, bila perlu, memilih diam daripada mengucapkan kata-kata yang akan disesali.

Menariknya, seluruh langkah tersebut kini juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Berwudu dengan air dingin membantu tubuh menjadi lebih rileks. Mengubah posisi mengurangi respons agresif. Diam memberi kesempatan otak rasional mengambil alih kendali dari pusat emosi. Sementara doa dan zikir terbukti membantu menurunkan tingkat stres pada banyak penelitian psikologi.

Ada satu sindiran yang mungkin layak kita renungkan.

Sebagian orang takut kolesterol, tetapi tidak takut temperamen. Takut gula darah naik, tetapi membiarkan tekanan emosi melonjak setiap hari. Padahal, yang satu merusak pembuluh darah, sementara yang lain merusak hubungan antarmanusia sekaligus melemahkan pertahanan tubuh.

Mungkin inilah sebabnya mengapa orang yang mudah marah sering merasa cepat lelah. Bukan karena terlalu banyak bekerja, melainkan karena tubuhnya terus-menerus berada dalam “mode perang” yang menguras energi.

Islam ternyata tidak hanya mengajarkan ibadah untuk keselamatan akhirat, tetapi juga gaya hidup yang menyehatkan dunia. Ketika Nabi mengajarkan, “Jangan marah,” beliau sesungguhnya sedang menjaga hati, akal, hubungan sosial, sekaligus kesehatan fisik umatnya.

Jadi, lain kali ketika emosi mulai memuncak, ingatlah bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan hanya hubungan dengan orang lain, tetapi juga kesehatan tubuh sendiri. Karena ternyata, memaafkan orang lain sering kali merupakan cara terbaik untuk menyelamatkan… sistem imun kita sendiri.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten