Beda Polimatik dengan Sok Tahu
Polimatik adalah individu yang menguasai berbagai bidang ilmu secara mendalam. Nama-nama seperti Leonardo da Vinci, Ibnu Sina, Benjamin Franklin, Al-Khawarizmi, hingga Leibniz menjadi contoh klasik. Mereka tidak sekadar mengumpulkan pengetahuan dari banyak disiplin, tetapi mampu menghubungkannya menjadi gagasan dan karya yang mengubah peradaban.
Sebaliknya, sok tahu adalah bentuk ilusi kepakaran. Ia berbicara seolah memahami segala hal, padahal pengetahuannya sering kali hanya menyentuh permukaan. Energinya lebih banyak digunakan untuk mempertahankan pendapat daripada mencari kebenaran. Polimatik belajar untuk memahami. Sok tahu berbicara untuk terlihat memahami. Polimatik sadar akan batas pengetahuannya. Sok tahu bahkan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang belum diketahuinya.
Semakin luas wawasan seorang pembelajar sejati, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak yang belum ia pahami. Sebaliknya, semakin sempit pengetahuan seseorang, sering kali semakin besar keyakinannya bahwa dirinya telah mengetahui segalanya. Paradoks inilah yang kerap kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Media sosial, sayangnya, sering memperburuk keadaan. Algoritma lebih menyukai opini yang tegas daripada pemikiran yang hati-hati. Kalimat, “Masalah ini kompleks dan perlu dikaji lebih dalam,” sering kalah populer dibandingkan pernyataan, “Saya sudah tahu jawabannya.” Akibatnya, kepercayaan diri kerap dipersepsikan sebagai kompetensi, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia melimpah. Namun kelimpahan informasi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Justru di tengah banjir informasi, kemampuan untuk meragukan diri sendiri, memeriksa fakta, dan terus belajar menjadi semakin penting.
Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari rasa ingin tahu, bukan dari rasa paling tahu. Yang membuat Leonardo da Vinci istimewa bukan semata karena ia menguasai banyak bidang, melainkan karena ia tidak pernah berhenti bertanya. Yang membuat Ibnu Sina dikenang bukan karena merasa paling pintar, melainkan karena ia terus memperluas cakrawala pengetahuannya sepanjang hidup.
Karena itu, tantangan terbesar zaman ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan melimpahnya orang yang merasa sudah memahami informasi tersebut. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki jawaban untuk segala hal. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berani berkata, “Saya belum tahu. Mari kita pelajari bersama.”
Sebab kebijaksanaan tidak lahir ketika seseorang merasa paling benar. Kebijaksanaan lahir ketika seseorang cukup rendah hati untuk terus belajar. Dan kerendahan hati intelektual itulah yang membedakan seorang polimatik dari sekadar sosok yang gemar sok tahu.*
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

