Kebenaran atau Kebatilan : Tidak Ada Wilayah Abu-Abu

Sejarah manusia sesungguhnya adalah kisah panjang tentang pertarungan antara kebenaran (al haq) dan kebatilan (al-bathil). Bentuknya boleh berubah dari zaman ke zaman, tetapi hakikatnya tetap sama. Di satu sisi ada mereka yang berjuang menegakkan keadilan, kejujuran, dan nilai-nilai kemanusiaan. Di sisi lain ada keserakahan, kezaliman, dan berbagai bentuk penyimpangan yang berusaha menguasai kehidupan.

Pertarungan ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan bagian dari sunatullah, hukum Tuhan yang berlaku sepanjang sejarah. Kehadiran dua kutub yang saling berhadapan itu menjadi mekanisme keseimbangan agar kehidupan tidak sepenuhnya dikuasai oleh kerusakan. Karena itulah, setiap generasi selalu memiliki medan perjuangannya sendiri.

Kebenaran dan kebatilan sering diibaratkan seperti air dan minyak. Keduanya dapat berada dalam satu wadah, tetapi tidak pernah benar-benar menyatu. Masing-masing memiliki sifat yang berbeda dan akan selalu menunjukkan identitasnya. Demikian pula dalam kehidupan. Nilai-nilai kebenaran mungkin terkadang tampak lemah atau terdesak, tetapi ia tidak pernah kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, kebatilan mungkin terlihat kuat dan dominan, namun pada akhirnya akan memperlihatkan kelemahannya sendiri.

Salah satu pelajaran terbesar tentang hal ini dapat ditemukan dalam Perang Badar. Secara logika manusia, pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit hampir mustahil meraih kemenangan. Namun sejarah mencatat hasil yang berbeda. Peristiwa yang oleh Al-Qur’an disebut Yaum al-Furqan atau Hari Pembeda itu menunjukkan bahwa kemenangan sejati tidak hanya ditentukan oleh jumlah, kekuatan materi, atau kecanggihan strategi. Ada kekuatan lain yang lebih besar, yaitu keyakinan, keteguhan prinsip, dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Di sinilah pentingnya Al-Qur’an sebagai “Al-Furqan”, pembeda antara yang hak dan yang batil. Dalam dunia yang penuh informasi, opini, dan propaganda seperti sekarang, manusia membutuhkan kompas moral yang mampu menunjukkan arah yang benar. Tidak semua yang populer adalah benar. Tidak semua yang ramai diperbincangkan layak diikuti. Al-Qur’an mengajarkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah banyaknya pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan nilai-nilai yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tantangan zaman modern mungkin berbeda dengan masa lalu. Hari ini pertempuran tidak selalu terjadi di medan perang. Ia bisa hadir dalam ruang digital, dunia pendidikan, lingkungan kerja, bahkan dalam pergulatan batin setiap individu. Hoaks melawan fakta, kejujuran melawan manipulasi, integritas melawan kepentingan sesaat. Semua itu adalah wajah-wajah baru dari pertarungan lama yang terus berlangsung.

Karena itu, sikap netral sering kali bukan pilihan yang aman. Ketika kebenaran membutuhkan dukungan, diam dapat menjadi jalan masuk bagi kebatilan untuk berkembang. Seseorang mungkin tidak langsung memilih keburukan, tetapi ketika ia terus membiarkan ketidakbenaran tanpa sikap, perlahan-lahan ia dapat terseret arus yang sama tanpa disadarinya.

Inilah sebabnya mengapa tidak ada wilayah abu-abu dalam pertarungan antara hak dan batil. Setiap pilihan, sikap, dan tindakan pada akhirnya akan menunjukkan keberpihakan. Bahkan ketidakpedulian sekalipun dapat menjadi keuntungan bagi kebatilan ketika kebenaran sedang membutuhkan pembela.

Kabar baiknya, sejarah juga mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu membutuhkan jumlah yang besar untuk menang. Yang dibutuhkan adalah manusia-manusia yang konsisten, berani, dan sabar. Mereka yang tetap menjaga prinsip meskipun tidak populer, tetap jujur ketika banyak orang memilih jalan pintas, dan tetap berbuat baik ketika keburukan tampak lebih menguntungkan.

Di tengah derasnya perubahan teknologi dan peradaban, satu hal tidak pernah berubah: hukum moralitas. Kebaikan dan kejahatan akan terus berjalan berdampingan, menguji pilihan setiap manusia. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah pertarungan antara hak dan batil akan berakhir, melainkan di pihak mana kita memilih berdiri.

Sebab masa depan peradaban selalu dibentuk oleh mereka yang berani berpihak kepada kebenaran. Dan kebenaran yang sejati pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kemenangan, sebagaimana janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bersabar, dan istiqamah dalam memperjuangkannya.*

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten