Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (12): Spiritualisme dan Bagaimana Menghadapi Kematian

Tryana Sjam'un di Kompleks Makam leluhurnya di Kadupeusing, Pandeglang

Titik keprihatinan berikutnya terkait dengan fenomena keagamaan, di mana agama dihayati hanya sebagai ritus yang tidak ada hubungannya dengan berbagai penyakit sosial yang tumbuh di masyarakat. Kata Tryana, di Indonesia  seorang yang taat beribadah bisa sekaligus sebagai seorang koruptor. “Dakwah Islam tampak marak di mana-mana, tapi korupsi juga semakin menggila. Nilai-nilai moral tampak tumpang tindih. Banyak penyidik yang kemudian disidik, penuntut dituntut, pengadil diadili, koruptor dibela mati-matian sebagai bukan koruptor,” ujar Tryana.

Naiknya pamor dakwah Islam, khasnya di perkotaan, sebenarnya sudah  berlangsung lebih dari tiga dasawarsa yang lalu. Kita menyaksikan betapa kantor-kantor selalu dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk salat Jumat. Kalangan atas yang mendengarkan uraian tasawuf juga membludak. Belum lagi kehadiran ustaz-ustaz seleb yang bikin kegiatan dakwah makin marak, plus lagu-lagu dan sinetron-sinetron bernuansa religi. Kegiatan dakwah itu terasa makin riuh di bulan Ramadhan. Apatah masuk masjid, masuk pusat perbelanjaan  pun serasa memasuki rumah Tuhan, berkat suguhan kidung-kidung pujian. Lebih jauh, bolehlah dikatakan hampir tidak seorang pejabat tinggi muslim, pemimpin organisasi Islam, atau pengusaha muslim yang tidak bergelar haji  dan bahkan tidak sedikit di antara mereka menggelar pengajian rutin di rumah atau di kantor.  Orang pun bertanya, adakah ini semua pertanda meningkatnya kesalehan, terutama di kalangan menengah ke atas muslim?

Yang pasti, apa yang disaksikan sebagai kemajuan keberagamaan di Indonesia itu, yang disebut Nurcholish Madjid gelombang reislamisasi, seperti sudah disinggung oleh Tryana, tidak punya hubungan yang signifikan dengan berbagai penyakit sosial di negeri ini. “Nyatanya, praktek-praktek korupsi seperti suap, manipulasi, kolusi, mark-up, tetap subur atau bahkan makin  subur. Begitu pula dengan rekayasa pengadilan, mafia peradilan, penggusuran, kebijaksanaan yang pilih kasih dan kebrutalan aparat,” ujar Tryana.

Bersama pengurus Yayasan Saija Adinda, Rangkasbitung

Lebih jauh dia  menambahkan, hebatnya lagi  praktik-praktik korupsi seperti sogok itu subur di lingkungan agama, yang sejatinya berada pada shaf atau barisan pertama dalam pemberantasan perbuatan yang dikutuk oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Hadis Rasulullah yang cukup terkenal di kalangan muslimin menyebut, “Tukang sogok dan penerima sogok masuk neraka.”  Belum lama ini memang ramai dibicarakan korupsi pengadaan Kitab Suci. Ini bukan hal aneh sebenarnya, sebab sudah sejak puluhan tahun yang silam, untuk mendapatkan pekerjaan guru agama orang perlu menyogok. Sumbangan untuk pembangunan masjid juga tak sungkan dipotong, bahkan sejak pendaftaran haji pun sudah tercium aroma suap.  Kita  pun kembali bertanya, mengapa gelombang reislamisasi di perkotaan itu tidak punya sumbangan yang berarti dengan berbagai bentuk kepincangan sosial itu? Apakah kita sudah gagal dalam beragama?

Agama sebagai cermin moralitas, menurut Tryana, sudah tereduksi hanya sebagai kegiatan ritus semata. Hal lain yang juga tak luput dari sorotan Tryana adalah  penggunaan teks-teks suci untuk melegitimasi tindakan-tindakan kekerasan. Dia menyatakan:

Sikap dan tindakan intoleransi, serta kekerasan yang membawa-bawa bendera agama itu (baca: Islam), sering dikaitkan dengan penafsiran yang keliru  terhadap doktrin-doktrin atau ajaran-ajaran tertentu di dalam Islam. Dari bacaan terhadap ayat-ayat yang potensial dijadikan sebagai pembenaran terhadap tindakan kekerasan itu, lahirlah bibit-bibit ekstremisme, radikalisme atau bahkan terorisme. Padahal, apa benar Islam mendakwahkan ketiga hal yang dapat menciptakan kecemasan dan ketakutan itu? Lalu di mana letak bahwa Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam? Bukankah Islam, seperti diyakini oleh para pemeluknya,  adalah agama yang ramah dan sangat menghargai kemajemukan?”

Meski begitu, Tryana mengakui bahwa  ekstremisme dan radikalisme yang dianut oleh kelompok-kelompok Muslim tertentu,  yang melahirkan sikap intoleran, dan mewujud dalam bentuk-bentuk kekerasan bahkan tindakan teror, bukan semata disebabkan  kekeliruan dalam menafsirkan teks-teks  tertentu dalam Kitab Suci, yang memang berpotensi untuk melahirkan pemahaman bahwa Islam menghalalkan kekerasan. Sebab, faktor-faktor sosiologis akibat modernisasi dan globalisasi, politis dan ekonomis, ikut pula menyuburkan bibit-bibit ekstremisme dan radikalisme di kalangan umat muslimin.

Penutup

Ada sebuah buku yang rupanya sangat berpengaruh bagi Tryana Sjam’un, yaitu  Dialogue with Death karya Eknath Eswaran, dosen sastra  Inggris  dan pendiri Blue Mountain Center of Meditation di Berkeley, California, Amerika Serikat. “Setelah membaca dan sedikit menghayati isi buku itu, saya menyimpulkan,” kata Tryana, “bahwa hidup ini sungguh singkat, manakala sudah sampai saatnya, kita mati. Dan  bagi sebagian orang, hidup ini sungguh tidak bermakna.” Tryana tentu saja tidak menginginkan hidupnya tidak berarti atau tidak bermakna. Dan bagi dia,  hidup yang bermakna itu tidak terbatas hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan yang lebih luas.

Hidup memang singkat. Dan hidup kita yang singkat ini digenapi dengan tidur, bahkan sebelum kita membuka mata untuk mengetahui siapa kita. Yang terakhir ini berasal dari William Shakespeare, pujangga besar dari Inggris yang karya-karyanya masih dibaca sampai sekarang.

Selamat beristirahat, sahabat dan mentorku Tryana Sjam’un. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah Azza wa Jalla.