Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (11): Apa yang Mesti Dilakukan Saat Demokrasi dan Kemansiaan Merosot Tajam
Dr. Saefudin mengumumkan kepengurusan SI, disaksikan Ketua Dewan Pembina SI Tryana Sjam'un (kiri)
Tryana Sjam’un mewacanakan politik lebih pada konteks kekuasaan. Memahami politik sebagai alat, bukan tujuan, yakni untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang memihak kepada orang banyak, kegiatan politik yang diwarnai oleh manuver dan rekayasa itu, dalam pandangan Tryana Sjam’un, bukan pekerjaan main-main. Sebab, kehancuran yang pernah dialami bangsa Indonesia, dan berlarut-larutnya berbagai persoalan yang mendera Republik ini, bermula dari ketidakberesan dalam mengurus politik. Yang tampak tegak dalam panggung politik Indonesia, menurut Tryana, adalah kedaulatan penguasa, bukan kedaulatan rakyat.
Demokrasi, yang mengandaikan kekuasaan berasal dan untuk rakyat, sekarang sudah dibajak oleh para elite politik dan direduksi makna substansinya, sebagai sebuah prosedur untuk meraih kekuasaan dengan cara membeli suara rakyat. Jika begitu, bagaimana kita mesti memaknai kekuasaan? Bagaimana jika “politik-kekuasaan” itu terus menguasai Indonesia? Jawabannya, bukan mustahil, sebagai sebuah nation-state Indonesia akan hilang dari peta bumi. “Indonesia, the lost nation?” Itulah salah satu judul tulisan Tryana dalam Berjuang dari tengah, yang cukup menggelitik dan menjadi renungan kita bersama.
Menurut Tryana, proses demokratisasi yang ditempuh Indonesia sejak berakhirnya rezim Orde Baru pada 1998, baru mencapai tingkat prosedural. Belum menyentuh hakikat demokrasi itu sendiri. Kata dia, “Jangan heran, jika dalam berbagai pemilihan kepala daerah maupun pemilihan pimpinan nasional amat kental diwarnai oleh praktik politik uang.” Jika gejala ini terus dibiarkan, kata dia, Indonesia bisa terjerumus ke jurang kehancuran sebagai sebuah bangsa. “Dan, tidak mustahil kita menjadi sebuah masyarakat yang tidak beradab lagi… Kita pikir akan melangkah maju dan menjadi negara yang lebih modern dan beradab ketika negeri ini memasuki era Reformasi. Namun, sekali lagi, kita sungguh kecewa karena praktik-praktik manipulasi demokrasi telah memasuki hampir seluruh jiwa para politikus kita.”

Concern TS terhadap keadaan dan perkembangan demokrasi di Tanah Air ia wujudkan dalam pembentukan sebuah lembaga bernama Salakanagara Institute for Humanity and Democracy Studies (selanjutnya disingkat atau (SI). Lembaga ini ia dirikan pada 14 Agustus 2023 dan didukung sejumlah cendekiawan, akademisi, jurnalis dan aktivis. SI, yang bernaung di bawah Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi Salakanagara, didirikan atas dasar keprihatinan makin merosotnya nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini terjadi dalam skala lokal, nasional, dan global. Menurut TS., SI hadir sebagai sebuah keinginan untuk merefleksikan realitas dan dinamika yang terjadi di tengah masyarakat yang berfokus pada nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi, dan merumuskannya dalam bentuk praksis.

SI, menurut TS, ingin mendorong kemajuan nilai-nilai kemanusiaan universal dan demokrasi yang inklusif melalui riset, edukasi, dan publikasi yang berdampak untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadaban. Kegiatannya antara lain (1) Mengadakan studi dan riset mendalam mengenai isu-isu strategis seputar demokrasi dan kemanusiaan; (2) Memproduksi dan menyebarkan hasil-hasil riset melalui berbagai kanal publikasi, seperti jurnal ilmiah, buku, buletin, artikel populer, dan konten digital, agar dapat diakses oleh beragam lapisan masyarakat; (3) Mengorganisasi forum-forum diskusi, seminar, dan lokakarya untuk memfasilitasi dialog dan mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam isu demokrasi dan kemanusiaan; (4) Memberikan masukan dan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan berdasarkan temuan riset untuk mendorong perubahan positif.

Dalam jajaran Dewan Pembina, selain Tryana Sjam’un yang menjadi ketua adalah Prof. Dodi Nandika, Prof. Soeganda Priyatna, Prof. Lili Romli, Dr. Encep Supriatna, Angghi Muliya Ma’mur, dan A. Suryana Sudrajat Dalam Badan Pengurus adalah Dr. Saefudin (Ketua Umum), Dr. Dase Erwin Juansah (Ketua I), Tubagus Iwan Ridwan (Ketua II), Deden Hudaedin (Sekretaris Umum) Jaenal Arifin (Sekretaris ), Nia Kurniasih (Bendahara Umum), Windu Iwan Nugraha (Bendahara I). Sedangkan Badan Pengawas ditempati H. Sunandar (Ketua) Uri Maryani Rachmawiana (Anggota). Bersambung: Spiritualisme dan Bagaimana Menghadapi Kematian

