Mengenang 100 Hari Wafatnya Tryana Sjam’un (4): Kuliah Sambil Bekerja

Tryana Sjam'un bersama teman-teman eks SMAN Rangkasbitung, antara lain Uwes Qorny (jongkok paling depan), salah seorang pendiri Provinsi Banten.

Tahun 1964 Tryana Sjam’un menamatkan SMA-nya di Rangkasbitung. Dan itulah pesan mamang-nya ketika dia pamit ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya ke perguruan tinggi. Sang paman tak lupa pula memberi uang sekadar ongkos.

Kereta api pun menguik memecah pagi, berderak, melaju ke arah surya. Stasiun demi stasiun dilewati, tapi Tryana belum juga mendapat jawaban pasti: dari mana biaya kuliah biasa dia dapatkan. Dia belum yakin benar ijazah SMA dan sertifikat kursus mengetiknya dapat membantunya mencari pekerjaan. Lagi pula, apa cukup untuk membiayai kuliah?

Tapi tekadnya bulat sudah. Jadi mengapa harus ragu. Kereta tiba di stasiun Tanah Abang, Tryana ganti kendaraan menuju Jembatan Lima, rumah ibunya. Setelah bercerai dari Pak Masduki, ayah Tryana, Ibu Bainah menikah lagi dan  mengikuti suaminya di Jakarta.

Mula-mula Tryana mendaftar di Universitas Indonesia. Eh, tidak diterima. “Mungkin karena bodo, ya? Saya tidak lulus tes,” kenang Tryana. Ia pun menncari perguruan tinggi yang fakultasnya sudah disamakan dengan negeri. Maka pilihannya adalah  Akademi Kepemimpinan Niaga Jayabaya, yang kebetulan pula kuliahnya berlangsung sore hari. Bukankah dengan begitu ia bisa mencari pekerjaan yang full-time?

 Alhamdulillah, Tryana diterima bekerja sebagai klerek di Bank Usaha Nasional. Kekecewaannya tidak bisa masuk UI agak terobati sekarang: bisa sekolah dengan biaya sendiri.  Jadi, pagi bekerja, sore berangkat kuliah, sampai pukul 9 malam. “Beberapa  tahun saya naik sepeda, sepeda Kak Cholil (pamannya yang di Rangkas itu) dibawa ke Jakarra, bolak-balik dari Gang Santea ke Salemba,” kata Tryana.

 

Kampus Universitas Krisnadwipayana, Jakarta (sekarang)

Setelah tiga tahun bekerja di bank swasta tadi, Tryana pindah ke Bank BNI 1946. Sementara itu ia juga tinggal di Asrama Mahasiswa Lebak di Kepu, Jakarta Pusat. Setahun kemudian ia menyelesaikan  kuliahnya di Akademi Kepemimpinan Niaga. Dan berbekal ijazah Sarjana Muda  Tryana melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana (Unkris). Langsung diterima di tingkat IV. Ia tamat pada akhir 1969. “Itu pun dengan susah-payah,” ujar Tryana.  Soalnya, ada satu mata kuliah yang harus dia ulang beberapa kali, sampai-sampai dosennya merasa bosan sendiri, dan akhirnya meluluskannya.  

Ketika kuliah di Unkris  Tryana,  yang hanya sekitar setahun menjadi penghuni Asrama Mahasiswa Lebak, indekos selama enam bulan di Jalan Solo, sebelum menempati rumah instansi BNI di Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat. Jika ke Salemba mengayuh kereta angin, maka ke kampus Unkris di Jalan Tegal, Tryana jalan kaki — alasannya sama, menghemat ongkos. Kelak, dia merasa beruntung sekali dari pengalamannya bertahun-tahun naik sepeda dan jalan kaki tersebut. “Dalam umur 50-an, aku tetap merasa kuat dan fit,” katanya.

Selama kuliah, Tryana aktif di Kumala (Keluarga Mahasiswa Lebak), satu-satunya organisasi mahasiswa dari Banten kala itu. Perkenalannya dengan Kumala, sebetulnya sudah dimulai semasa di bangku SMA dulu. Ketika di Rangkas ia sering ngumpul dengan anak-anak Kumala, di antaranya Uwes Qorny, lulusan SMA Rangkas yang waktu itu sudah kuliah di Unpad, Bandung. Selain itu,   Tryana “ikut-ikutan” aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), dan Dynamika Study Club yang didirikannya.

Pada masa-masa ini pula bersama beberapa kawannya, antara lain Uwes Qorny, ia terlibat dalam usaha pembentukan provinsi Banten. Tokoh yang sering diajak diskusi oleh anak-anak muda itu antara lain H.M.Ch. Ibrahim, pemimpin pucuk Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang juga berasal dari Banten. Di bawah rezim  Orde Baru yang represif, menyuarakan tuntutan pembentukan provinsi baru tentu tidak mudah, dan malah bisa dituduh melakukan subversi. Karena itu, tuntutan Banten menjadi provinsi baru muncul kembali setelah Orde Baru tumbang. Tidak mengherankan, jika banyak yang mengira bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Banten dimulai pada era reformasi. Dalam beberapa kesempatan, Tryana Sjam’un,  sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, baik secara tersurat maupun tersirat, meluruskan anggapan yang keliru tersebut.

Ketika bekerja di BNI Tryana aktif di Gasbiindo (Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia).  Meski bukan satu-satunya pemimpin buruh di lingkungan BNI, dari organisasi yang pimpinan puasatnya diketuai Agus Sudono itu, Tryana mengaku banyak menimba pelajaran mengenai seluk-beluk perburuhan. Termasuk bagaimana menyerap aspirasi para anggota dan menyampaikannya kepada pihak manajemen, dan membela  mereka yang merasa hak-haknya dirugikan.

Dalam melakukan advokasi terhadap para anggota, Tryana menggunakan pendekatan “dari hati ke hati”. Pernah seorang pegawai yang kena ancaman pecat, karena dituduh menyelewengkan uang, mengadu ke Gasbiindo. Untuk menentukan tindakan-tindakan pembelaan yang akan dilakukan oleh organisasi, dia memerlukan pembicaraan empat mata, untuk menanyakan kebenaran tuduhan tersebut. Kalau dia benar tidak melakukan apa yang dituduhkan, maka Gasbiindo akan membelanya mati-matian, bahkan kalau perlu sampai ke pengadilan. Orang itu kemudian mengaku bahwa dirinya bersalah. Meski begitu, Gasbiindo tetap membelanya, agar pegawai  yang akan dipecat itu, diberhentikan dengan hormat atau diberi kesempatan untuk mengajukan surat pengunduran diri, dan diberi pesangon.

Menurut Tryana, kasus-kasus seperti itu jarang terjadi. Yang ia tangani kebanyakan menyangkut kepentingan-kepentingan buruh pada umumnya. Misalnya, penambahan baju seragam, jasa produksi, tunjangan hari raya, kenaikan gaji. “Ya, yang standar-standar saja yang dikerjakan. Tidak, misalnya, bagaimana kita mengajukan suatu sistem perburuhan. Itu sudah urusannya Gasbiindo Pusat,” ujarnya.

Pengangkatannya pun sebagai ketua Gasbiindo di BNI, menurut Tryana, secara kebetulan saja. Sebagai sesama klerek ia sering ketemu kawan-kawannya di mushalla, lalu ngobrol-ngobrol, maka diangkatlah dia jadi ketua. Karena itu, meski banyak hal yang bisa dipelajarinya terutama dalam kemampuan manajerial dan komunikasi, pengalamannya sebagai ketua Gasbiindo di BNI, menurut Tryana, bukan sesuatu yang luar biasa dan membanggakan. “Itu pengalaman biasa saja dalam hidup saya.”  Bersambung: Membangun Rumah Tangga