Jalan Tengah Tryana Sjam’un: Melawan Kemunduran Adab dalam Bernegara
Melalui publikasi ulang atas catatan-catatan yang terserak, Tryana Sjam’un tidak sedang memosisikan diri sebagai penunjuk jalan ke mana arah demokrasi semestinya bermuara. Ia juga tidak bermaksud memberi petuah kepada para pemimpin agar senantiasa menjunjung laku etis dan berpihak pada kepentingan publik, apalagi memberikan pencerahan tentang makna hidup dalam dimensi vertikal maupun horizontal.
Publikasi ini pun bukan sekadar alat promosi bagi pembentukan kelompok usahawan tangguh di era tanpa batas, atau ajakan untuk mempraktikkan apa yang ia sebut sebagai “sosio-kapitalisme”. Tidak. Jika ada ambisi yang terselip, nawaitu-nya hanyalah berbagi gagasan mengenai apa saja yang mungkin sudah menjadi kegelisahan dan perhatian kita bersama. Ia tidak berandai-andai buku ini menjadi sumbangan besar bagi lahirnya demokrasi yang sehat dan bermartabat, atau tata kepemimpinan yang mengedepankan rasionalitas serta etika kemanusiaan. Meski begitu, ia berharap semangat yang terkandung di dalamnya dapat ditangkap, terutama oleh generasi muda yang akan menakhodai perjalanan Republik ini menuju cita-cita bersama.
Pesan tersebut merupakan bagian dari prakata Tryana Sjam’un dalam kumpulan esainya yang bertajuk Berjuang dari Tengah: Membangun Demokrasi yang Beradab, yang diterbitkan oleh LP3ES pada 2013. Buku yang disunting sahabatnya Suryana Sudrajat ini diluncurkan di Puri Salakanagara, Pandeglang, bersamaan dengan buku Menegakkan Moralitas: Menafsir Pemikiran Tryana Sjam’un—sebuah bunga rampai tulisan rekannya yang pernah tersiar di berbagai majalah dan surat kabar.
Membaca kembali esai-esai tersebut, serta menilik inisiasinya dalam membentuk Salakanagara Institute (SI) dua tahun lalu, kita akan mengenal sosok yang melampaui identitasnya sebagai bankir atau pengusaha. Tryana sendiri lebih suka menyebut dirinya sebagai “pedagang” setelah tidak lagi mengurusi perbankan. Namun, untuk menuangkan gagasan dengan spektrum seluas itu, seseorang tentu membutuhkan referensi yang mendalam. Kualitas itulah yang melekat pada diri Tryana Sjam’un.
Sebelum menorehkan “coretan” pemikirannya, Tryana adalah seorang pedagang yang tekun membaca—bukan hanya literatur, melainkan juga realitas sosial yang tengah bergejolak. Inilah yang membuatnya tampak gelisah; ia melihat kenyataan yang kerap bertolak belakang dengan dunia idealnya. Ia menyaksikan Indonesia yang kaya raya, namun rakyatnya tetap terbelenggu kemiskinan. Ia melihat demokrasi yang hanya berhenti pada tatanan prosedural, pemimpin yang sibuk menjaga takhta, serta jurang kesenjangan sosial yang kian menganga.
Pemikiran Tryana dalam Berjuang dari Tengah kini menemukan relevansi yang sangat krusial di tengah fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding). Saat ini, ketika politik uang, intimidasi, dan pelemahan institusi hukum kian kasat mata, tulisan Tryana menjadi peringatan keras: demokrasi tanpa adab dan moralitas hanya akan menjadi perkakas bagi elite untuk melanggengkan kekuasaan, bukan sarana menyejahterakan rakyat.
Kemunduran demokrasi kita juga ditandai oleh tajamnya politik identitas dan sikap “kami lawan mereka”. Dalam konteks ini, konsep “Berjuang dari Tengah” hadir sebagai antitesis terhadap radikalisme politik. Di saat ruang dialog kerap lenyap karena setiap kubu merasa paling benar, Tryana menawarkan perspektif bahwa stabilitas bangsa hanya bisa dicapai jika aktor-aktor politik berani mengambil posisi moderat sebagai jembatan komunikasi.
Tak kalah penting, indikator kemunduran demokrasi lainnya adalah menguatnya pengaruh oligarki dalam kebijakan publik. Menariknya, meski berlatar belakang pengusaha, Tryana justru menekankan pentingnya kemandirian ekonomi rakyat. Baginya, demokrasi yang sehat mensyaratkan kemandirian ekonomi warga negara. Jika ekonomi hanya terkonsentrasi di tangan segelintir orang, maka kedaulatan rakyat dalam pemilu akan mudah dibeli oleh pragmatisme, yang pada gilirannya akan merusak kualitas demokrasi itu sendiri.
Terakhir, melemahnya penegakan hukum dan etika pejabat publik menjadi sinyal kuat penurunan kualitas bernegara. Dalam tulisan-tulisannya, Tryana konsisten menyinggung pentingnya karakter dan integritas. Ia memandang bahwa krisis yang dialami bangsa ini sejatinya adalah krisis keteladanan. Relevansi pemikirannya saat ini adalah seruan untuk kembali memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak integritas, bukan sekadar popularitas hasil rekayasa pencitraan.
Menurut tokoh pendiri Provinsi Banten ini, kaum cerdik pandai tidak boleh berdiam diri melihat anomali dan ketidakberesan di negeri ini. Mereka harus berani melawan segala bentuk kemungkaran tersebut—tentu dengan cara-cara yang elegan dan bermartabat.
