Tradisi Ziarah Ke Malam Leluhur di Anyer, Serang, Banten
Senin pagi, dua hari setelah lebaran, masyarakat Kampung Kareo, Desa Sindangkarya, Anyer, Serang, Banten, telah memadati taman pemakaman umum. Lokasinya dipinggir hutan, sekitar 500 meter dari pemukiman yang dihuni sekitar 3.000 jiwa itu. Bukan untuk berziarah ke makam keluarga, tapi ke sebuah makam keramat mereka, yang juga leluhur mereka. Yaitu makam Ki Kareo atau Ki Karya.

Ziarah yang disertai hancengan, bakul nasi yang ditumpangi lauk-pauk dan botol-botol plastik berisi air putih itu, merupakan tradisi tahunan, yang konon telah berlangsung sebelum kemerdekaan. Acara diisi dengan sambutan-sambutan dari kepala desa dan tokoh masyarakat setempat, pembacaan surat Yasin dan Tahlil, dan diakhiri dengan pembagian hancengan atawa berkat. Sebagian peziarah langsung menyantap di lokasi, dan sebagian lagi membawanya pulang. Mereka percaya, nasi dan lauk pauk serta air putih dalam botol yang telah diberi doa-doa itu akan membawa keberkahan.
Pelaksanaan ziarah ini memiliki aturan waktu khusus yang bergantung pada jatuhnya hari Lebaran. Menurut Ustaz Sukra, tokoh masyarakat Kareo yang pernah jadi ketua RW, apabila Lebaran jatuh pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, atau Minggu, maka ziarah dilaksanakan pada hari Senin. Jika Lebaran jatuh pada hari Senin, Selasa, atau Rabu, maka ziarah dilaksanakan pada hari Kamis. Warga kampung yang hendak merantau dan mereka yang hendak kembali ke tempat mereka masing-masing, setelah mudik lebaran, biasanya berangkat setelah ziarah ke makam Ki Kareo
Dianggap Wali
Ki Kareo, yang juga dikenal dengan nama Ki Karya, merupakan cerita tutur adalah sosok pejuang yang berasal dari pasukan Kesultanan Banten dan Cirebon. Berdasarkan riwayat turun-temurun, beliau hidup pada masa Kesultanan Banten. Entah pada zaman siapa. Pada masa pemberontakan petani Banten tahun 1888, atau yang disebut Geger Cilegon, dalam catatan arsip Belanda, yang dijadikan lampiran disertasi Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan yang dipimpin Kiai Wasid itu, di Kampung Kareo sudah terdapat seorang guru agama atau guru ngaji. Hal ini menunjukkan bahwa di kampung terpencil itu, sudah terdapat kegiatan keagamaan di zaman kolonial.

Makam Ki Kareo sendiri hingga kini dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Tidak sedikit warga masyarakat yang menanggapnya sebagai wali. Keyakinan ini didasarkan pada berbagai kejadian luar biasa atau keanehan tertentu yang menyertai cerita riwayat hidupnya. Benarkah? Dalam kaitan ini Ustaz Sukra menyatakan sebuah prinsip, “La ya’riful wali Ilal wali”, yang bermakna bahwa kedudukan seorang wali hanya diketahui oleh wali lainnya. Adakah wali lain yang menyatakan akan kewalian Ki Kareo? Wallahu a’lam.
Selain aspek penghormatan sejarah, tujuan utama dari tradisi ziarah bersama ini adalah untuk menguatkan ukhuwah islamiah di Kampung Kareo. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat tetap sejalan, seirama, serta memiliki fondasi keislaman yang semakin kokoh.
Daya Tarik bagi Peziarah Luar Daerah
Meskipun berlokasi di sebuah kampung, kemasyhuran makam Ki Karya telah menarik perhatian banyak peziarah dari luar daerah. Para peziarah tercatat datang dari berbagai wilayah, yaitu Cirebon dan Bandung: Terutama mereka yang memiliki keterikatan sejarah melalui silsilah keluarga. Kalimantan: Terdapat peziarah yang datang jauh-jauh dari Kalimantan meski tidak memiliki hubungan keluarga langsung dengan warga kampung tersebut.

