Jangan Mudah Menuduh Munafik
“Siapa di antara kita yang benar-benar bersih dari satu atau dua butir hipokrisi? Ketika label ‘munafik’ diobral murah dalam pergaulan, kita seolah sedang mencoba merebut hak prerogatif Allah dalam menilai batin hamba-Nya.”
Sungguh sebuah keberanian yang keliru ketika seorang Muslim dengan begitu ringan menyematkan label “munafik” kepada saudara seimannya.
Fenomena ini sering kali muncul akibat perbedaan pandangan, kebencian personal, atau sekadar merasa diri lebih saleh. Tuduhan-tuduhan ini menyebar melalui percakapan sehari-hari hingga narasi di media sosial, menciptakan sekat yang tajam di tengah umat.
Ironisnya, vonis “munafik” ini kerap berujung pada perlakuan yang tidak manusiawi, bahkan hingga penolakan terhadap hak-hak jenazah seorang Muslim. Padahal, jika kita menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, kita akan menemukan betapa beliau sangat berhati-hati dalam menjaga kehormatan seorang Mukmin, sekalipun terhadap mereka yang perilakunya meragukan.
Belajar dari Kebijaksanaan Nabi
Mari kita tengok sejarah di Madinah. Tersebutlah Abdullah bin Ubay, tokoh yang ucapan dan perbuatannya kerap menyakiti perasaan kaum Muslimin dan menebar fitnah. Namun, bagaimanakah sikap Rasulullah SAW?
Meski Umar bin Khattab RA dengan tegas menyebutnya munafik dan mengingatkan larangan Allah untuk memohonkan ampun bagi mereka, Rasulullah tetap menunjukkan akhlak yang agung. Beliau menyempatkan diri membesuk saat Ibnu Ubay sakit, memberikan kain kafan miliknya, bahkan menyalati jenazahnya sebelum turun larangan tegas dalam surah At-Taubah ayat 84.
Prinsip yang dipegang Nabi sangat jelas: Islam mengajarkan umatnya untuk memperlakukan manusia berdasarkan apa yang tampak di permukaan (zahir), sedangkan urusan hati dan batin adalah otoritas mutlak Allah SWT. Inilah yang kita kenal sebagai Nifaq Akbar—hipokrisi akidah yang hanya Allah yang tahu.
Antara Cacat Manusiawi dan Penyakit Hati
Di sisi lain, terdapat hadis populer tentang tanda-tanda munafik: berbohong saat bicara, ingkar saat berjanji, dan khianat saat dipercaya.
Para ulama mengategorikan ini sebagai Nifaq Ashghar (nifaq kecil) atau hipokrisi perilaku.
Berbeda dengan nifaq akidah, jenis ini adalah bagian dari kelemahan manusiawi yang bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang mengaku beriman.
Alih-alih digunakan untuk menunjuk hidung orang lain, tanda-tanda ini seharusnya menjadi cermin bagi diri sendiri. Bukankah setiap kita memiliki celah khilaf? Nabi SAW sendiri mengajarkan kita untuk senantiasa berlindung dari perpecahan dan akhlak yang buruk melalui doa:
“Allahumma inni a’udzu bika minasy syiqaaqi wan-nifaaqi wa suu-il akhlaaq”
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perpecahan, dari sikap hipokrit, dan akhlak yang buruk).
Merajut Kembali Ukhuwah
Menuduh seorang Muslim sebagai munafik karena perbedaan pandangan bukan hanya tidak relevan, tetapi juga melampaui wewenang Allah SWT dan menyalahi adab yang diajarkan Rasulullah. Nifaq kecil memang harus kita waspadai sebagai penyakit moral, terutama sifat khianat yang merusak tatanan sosial dan amanah publik.
Namun, menjadikan istilah “munafik” sebagai senjata untuk merendahkan sesama hanya akan merobek tenunan ukhuwah Islamiyah. Marilah kita berhenti menjadi “polisi iman” bagi orang lain dan mulai menjadi “penjaga hati” bagi diri sendiri.
Wallahul Haadi.

