Milad ke-70 Yusril Ihza Mahendra Ditandai Peluncuran 8 Buku
Merayakan hari kelahiran yang ke-70 pada 5 Februari 2026, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra resmi meluncurkan 8 judul buku yang merangkum dedikasi setengah abadnya bagi bangsa. Acara yang digelar di Balai Kartini pada Sabtu (7/2) ini menjadi bukti nyata konsistensi beliau sebagai seorang intelektual yang tetap produktif di tengah tugasnya sebagai Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan.
Dalam sambutannya, Yusril menyampaikan rasa syukurnya atas usia yang diberikan dan menjelaskan keterlibatan rekan-rekannya dalam penyusunan buku ini. “Satu hal yang saya tidak menyangka sama sekali, usia sampai 70 tahun. Saya bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, dikaruniai usia sepanjang ini. Delapan buku ini ditulis oleh teman-teman, oleh banyak orang. Saya sendiri tidak menulis kali ini. Waktu saya 60 tahun, saya sendiri yang menulis. Tapi, ketika 70 tahun, itu semua teman-teman yang menulis dan memberikan testimoni,” katanya.
Dia juga menegaskan bahwa buku-buku ini diniatkan sebagai amal jariah yang bebas diakses oleh masyarakat umum. “Buku-buku ini tidak hanya mengangkat perjalanan gagasan pribadi saya, tapi juga perkembangan bangsa. Siapa yang mau mengunduh, silakan saja, jadi tidak ada persoalan hak cipta (copyright). Makin banyak buku dibaca orang, makin bagus dan makin tersebarlah ide-ide yang ada di dalamnya.”
Kedelapan buku itu memang bersifat jejak perjalanan sepanjang 70 tahun kehidupan Yusril. Yakni selama setengah abad, yang dimulai ketika dia berumur 20 tahun ketika dia aktif sebagai mahasiswa dan mulai terlibat dalam pergerakan-pergerakan sosial dan politik pada waktu itu, sampai dengan saat sekarang ini. Meski demikian, dia menambahkan, bahwa buku-buku itu tidak hanya menyangkut pribadi dia. tetapi juga menyangkut perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara.
Resume 8 Buku yang Diluncurkan
- The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega. (Editor M. Saleh Mude dan kawan-kawan (dkk), 926 halaman). Buku ini menghadirkan kisah-kisah yang selama ini berada di balik layar sejarah resmi. Melalui testimoni kolega dari berbagai latar belakang, buku ini memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan besar sering lahir dari proses sunyi, perdebatan intelektual, dan keteguhan menjaga prinsip.
- The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi. (Editor M. Saleh Mude, 492 halaman). Autobiografi ini tidak berhenti pada kronologi jabatan, melainkan mengisahkan pergulatan batin, pilihan-pilihan sulit, serta makna pengabdian yang dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar kekuasaan.
- Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia (Editor Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra & Prof. Dr. Hafid Abbas, 192 halaman). Buku ini merekam dialog panjang antara Islam, demokrasi, dan hak asasi manusia. Buku ini juga menunjukkan upaya konsisten Yusril menempatkan nilai-nilai keislaman dalam kerangka konstitusional yang menghormati pluralitas dan martabat manusia.
- The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. (Prof. Dr. Fitra Arsil & Dr. Qurrata Ayuni, 540 halaman). Buku ini mendokumentasikan perkara-perkara konstitusional penting yang pernah melibatkan Yusril. Melalui kasus-kasus tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana argumentasi hukum dapat mengubah tafsir undang-undang dan memengaruhi arah perkembangan hukum tata negara Indonesia.
- Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi. (Dr. Herdito Sandi Pratama, 322 halaman). Buku ini menelusuri konsistensi pemikiran politik Yusril dari masa ke masa, terutama dalam memperjuangkan aspirasi politik Islam melalui jalur hukum dan demokrasi, tanpa mengorbankan prinsip negara kebangsaan.
- Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan Hak. Ahmadie Thaha, 460 halaman). Buku ini menempatkan hukum bukan semata sebagai instrumen penghukuman, melainkan sebagai sarana memulihkan relasi sosial, martabat manusia, dan rasa keadilan publik.
- Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Pandangan Tokoh dan Sahabat. (Randy Bagasyudha dkk, 112 halaman). Kesaksian para sahabat dan tokoh menghadirkan potret tentang konsistensi, keberanian, dan kesetiaan.
- Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis (Andre Syahreza, 188 halaman). Menyajikan pendekatan sastra, novel ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Yusril sebagai manusia-dari kampung pesisir di Belitung hingga pusat kekuasaan negara.
Testimoni Tokoh Lintas Negara
Kiprah panjang Yusril tersebut mendapat apresiasi luas dari berbagai tokoh penting. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengabdian Yusril lintas rezim merupakan cerminan integritas yang setia pada konstitusi. Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengenang Yusril sebagai sahabat cerdas sejak era 80-an dan sosok moderat yang diterima semua pihak.
Apresiasi juga datang dari Wakil PM Malaysia Ahmad Zahid Hamidi serta Senator Amerika Serikat Dr. Saud Anwar, yang mengakui kontribusi pemikiran Yusril bagi dunia hukum internasional. Dari kalangan cendekiawan, tokoh seperti Dr. Fachry Ali, Dr. Alwi Shihab, dan Prof. Hafid Abbas turut memberikan catatan bahwa jejak intelektual Yusril tetap konsisten dan tidak pernah pudar meskipun berada di dalam pemerintahan.

